Sesuai Syariahkah Bisnis Saya ?

 

Sesuai Syariahkah Bisnis Saya ?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya mempunyai permasalahan sbb :

1. Ada seseorang yang meminjam uang kepada saya untuk bisnis menjual barang secara kredit, dimana dia mematok keuntungan 20 %, dan dia menjanjikan 3,5 % keuntungan itu untuk saya. Jadi apakah ini sudah termasuk bagi hasil yang di halalkan?

2. Dalam akadnya apakah harus ditegaskan ini adalah kerja sama usaha bukan peminjaman uang?

3. Terus kalau rugi apakah harus di tanggung bersama?

4. Lalu orang tersebut memberikan agunan berupa sebidang tanah, apakah ini dibenarkan?

Mohon dijawab segera, karena saya takut ini sudah termasuk riba yang dilarang dan diwanti-wanti untuk dijauhi oleh orang tua saya. Demikian ustadz, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih

Anis – Pontianak

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

1. Mematok keuntungan 20 % itu apa maksudnya ? Apakah dia pasti untung sebesar 20 % dalam bisnisnya yang dibiayai dari uang yang dipinjamnya dari Anda ?

Kalau benar itu maksudnya, jelas sekali bahwa keuntungan itu tidak bisa dipatok demikian. Meskipun biasanya memang selalu untung, tapi yang namanya bisnis dan usaha pasti tidak selamanya mulus. Namun itu urusan dia sendiri bila mematok keuntungan seperti itu.

Yang menjadi masalah adalah kepastiannya untuk memberi Anda 3,5 %. Pertanyaannya adalah : 3,5 % dari apa ? Apakah 3,5 % dari uang yang dipinjamnya dari Anda ? Ataukah 3,5 % dari keuntungan yang didapatnya ?

Kalau 3,5 % dari uang yang dipinjamnya dari Anda, maka jelaslah bahwa dia ingin “menyewa” uang dari Anda alias pinjam dengan cara riba. Dan ini mutlak haram tanpa basa-basi.

Tapi kalau dia mau memberikan 3,5 % dari keuntungan yang didapat dari bisnisnya, tentu saja tidak salah. Sebab yang dibayarkan adalah pembagian keuntungan, bukan pembayaran “sewa uang”.

2. Ya, dalam akadnya apakah harus ditegaskan ini adalah kerja sama usaha bukan peminjaman uang.

3. Kalau rugi biasanya ditanggung bersama, bila akadnya adalah usaha bersama atau bagi hasil. Sedangkan dalam sistem “sewa uang” yang haram itu, kalau bisnis rugi maka pemilik uang sama sekali tidak menanggung apa-apa.

4. Bila orang tersebut memberikan agunan berupa sebidang tanah, bisa dibenarkan. Sebagai jaminan bahwa dia bermaksud baik. Tapi biasanya yang namanya agunan diberikan pada kasus peminjaman uang dengan riba. Sedangkan kalau kerjasama bagi hasil, lazimnya tidak pakai jaminan segala. Sebab landasan kerja sama biasanya adalah saling percaya dengan niat masing-masing.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *