Pengembalian Modal Mudharabah

 

Pengembalian Modal Mudharabah

Ass.Wr.Wb.

Mudharabah merupakan salah satu sistim bagi hasil dlm perbankan Syari’ah. misalnya Ahmad bermohon ke Bank Syariah untuk membiayai usahanya dengan tambahan modal 10 jt, dengan waktu pengembalian dana tersebut selama 3 tahun, dengan memakai bagi hasil 70:30. bagaimana cara pengembalian uang 10 Jt dari Bank Syari’ah? apakah pengembalian bagi hasil 30% selama 3 tahun sudah termasuk dari pengembalian modal terhadap Bank?

Sabar – Manado

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Jawaban pertanyaan saudara sangat tergantung isi perjanjian kerjasama Anda dengan pihak bank. Apakah cicilan yang Anda bayarkan itu dianggap sebagai bagian dari pengembalian modal, ataukah semata-mata bagi hasil selama kerja sama masih berjalan.

Kedua pilihan ini bisa-bisa saja atau mungkin-mungkin saja. Semua tergantung dari hitung-hitungan masing-masing pihak. Sebab keduanya tetap bisa dibenarkan dalam syariat Islam.

Umumnya yang namanya sebuah kerja sama bagi hasil adalah dengan kerjasama antara dua pihak atau lebih, dimana masing-masing mengeluarkan jasa dan modal. Lalu selama perjanjian kerjasama itu masih berlangsung, masing-masing pihak berhak mendapatkan bagi hasil atas keuntungan usaha bersama itu. Besarnya bagian masing-masing biasanya sebanding dengan nilai jasa dan modal masing-masing juga. Namun manakala perjanjian kerjasama itu berakhir, maka pihak pemilik modal berhak mencabut modalnya bila memang masih ada tersisa.

Tetapi ada juga bentuk kerjasama pemberian modal dimana tujuannya memang untuk mendongkrak pengusaha kecil. Maka modal itu diinvestasikan kepada pengusaha agar bisa bergerak, lalu ada bagi hasil atas usaha itu yang bila telah mencukupi nilai tertentu, lunaslah sudah hutang pihak pengusaha. Dengan cara ini, modal yang diberikan lebih mendekati bantuan yang punya nilai ekonomis.

Bentuk kedua ini biasanya dalam bentuk pengadaan alat/barang yang dibutuhkan dalam sebuah usaha. Misalnya sopir bajaj butuh kendaraan untuk menarik penumpang. Maka pemilik modal membelikan bajaj untuknya dan pak sopir mencicil kepada pihak pemodal selama kurun waktu tertentu. Bila harga cicilan itu sudah lunas, maka bajaj menjadi milik bapak sopir. Sehingga tidak perlu lagi harus membayar uang setoran.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *