Muara Kemewahan

Muara Kemewahan

Rombongan Abu Ubaidah bin Jarrah tiba di Madinah dengan membawa banyak harta dari Bahrain. Maka, penuhlah masjid untuk shalat subuh bersama Rasulullah SAW.


Usai shalat, Rasul bertanya, ”Saya menduga kalian mendengar Abu Ubaidah datang membawa sesuatu dari Bahrain.”
”Benar, wahai Rasulullah,” jawab jamaah serempak.

Rasul bersabda, ”Bergembiralah, namun renungkan apa yang menggembirakan kalian itu. Demi Allah, bukan kefakiranmu yang aku khawatirkan, melainkan bila kemewahan dunia telah menimpamu, sebagaimana orang-orang sebelummu. Lalu, kamu berlomba-lomba dan binasa, seperti mereka.” (HR Muslim).

Peringatan Rasul terlalu serius untuk diabaikan karena mengawalinya dengan sumpah. Sejarah dan realitas kontemporer memang membuktikan sabdanya. Persia dan Romawi hancur. Bahkan, meski menerapkan sebagian hukum Islam, Daulah Umayyah, Abbasiyah, dan Ustmaniyah juga runtuh lantaran para pembesar menjauhi kehidupan sederhana seperti Rasul dan sahabatnya, hingga mudah ditelikung musuh.

Kemewahan pembesar adalah tanda kehancuran. Dalil naqlinya, ”Bermegah-megahan telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS At Takaatsur, 102: 1-2).

Kehancuran, misalnya, karena melihat langsung neraka Jahiim (ayat 6-7). Secara implisit, berarti mendiaminya. Di ayat lain, ”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati-Nya), namun mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS 17: 16).

Mafhum mukhalafah (makna kebalikan) ayat ini adalah hanya para pembesar yang berlaku zuhud dan sederhana, mengonsumsi sesuai kebutuhan, bukan kemauan (nafsu), yang akan menaati Allah, sekaligus memimpin rakyatnya ke arah Islam. Itulah negeri yang akan diselamatkan Allah.

Kehancuran akibat perilaku mewah juga terjelaskan secara aqliyah (rasionalitas). Pertama, berlaku mewah dikendalikan hawa nafsu. Gagal mengendalikan nafsu sendiri, berarti akan gagal mengendalikan nafsu anak buah dan rakyat. Kedua, berkuasanya nafsu akan melemahkan akal, sekaligus produktivitas manusia, mulai dari berpikir, bersikap hingga bertindak.

Takkan ada keinginan untuk memperbaiki kehidupan negerinya, karena dirinya sibuk berlaku konsumtif. Padahal, perubahan selalu dimulai dari akal, sehingga ketika titik tolak itu lemah, maka melemah pula kekuatan untuk memperbaiki diri dan negeri. Ini mirip dengan susahnya perbaikan orang yang akalnya rusak karena narkoba dan minuman keras.

Ketiga, terjadi persaingan tidak sehat, saling dengki, dan menjatuhkan karena iri yang lain lebih mampu bergaya mewah. Keempat, meluasnya korupsi, kolusi, dan pencurian harta negara dan rakyat.

Bagaimanapun, gaya hidup mewah tidak mengenal batas, sementara penghasilan resmi dan halal pasti ada batasnya. Karena itu, tiada alasan tidak menjadikan bulan Ramadhan sebagai awal ditinggalkannya gaya hidup mewah oleh para pembesar hingga kita terjauh dari kehancuran.

Kontributor Oleh : Fahmi Ap Pane

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *