Hukum Lelang dan Mengambil Untung yang Tinggi

Hukum Lelang dan Mengambil Untung yang Tinggi

Pak ustadz,

1. Bagaimana hukum penjualan dengan sistem lelang?

2. Dalam berjualan, apakah dibolehkan menjual dengan mengambil untung yang tinggi. Misalnya telur mentah Rp 500, setelah digoreng kemudian di warung makan kita jual Rp 2.000 (4x lipat)?

3. Bagaimana hukum menimbun barang dagangan? Misalnya orang yang menimbun pupuk sehingga pupuk langka dan kemudian menjual dengan harga tinggi kepada petani? Apakah ada batasan bagaimana kita menyimpan stok barang?

Agus

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

1. Hukum Lelang

Lelang adalah sebuah transaksi legal dan syah dalam hukum Islam. Lelang dikenal juga dengan istilah Muzayadah. Rasulullah SAW sendiri melakukan elang kepada para shahabatnya. Dan praktek lelang telah berlangsung berabad-abad dalam perjalanan umat Islam.

Yang dimaksud dengan tidak boleh membeli barang yang sedang ditawar orang lain bukanlah lelang. Karena keduanya sangat berbeda. Dalam contoh kasus yang dilarang untuk membeli barang yang sedang ditawar orang lain adalah seperti demikian: Si A sedang menawar barang dari B tapi harganya belum disepakati. Lalu tiba-tiba muncullah C yang tidak ikut sejak awal penawaran itu dan langsung membeli barang yang sedang ditawarkan kepada A.

Dan dalam hal ini tanpa meminta izin lagi kepada A yang tentu saja membuat A sakit hati. Praktek ini jelas dilarang. Tapi bila dalam tawar menawar itu si C juga ikut serta dalam menawar sejak awal bersama dengan A, lalu B mengatakan akan menjual barang itu kepada siapa saja yang memberi harga tertinggi, maka hal itu boleh dilakukan. Dan itulah yang disebut lelang.

2. Islam tidak membatasi batas maksimal keuntungan yang boleh didapat dari menjual suatu barang. Hanya saja jangan sampai terjadi monopoli di mana sebuah barang yang menyangkut hajat hidup orang banyak hanya dimiliki oleh satu penjual, lalu penjual ini menaikkan harga setinggi-tingginya hingga mencekik masyarakat. Jelas perbuatan ini diharamkan, karena sifatnya zalim dan merugikan orang banyak.

Namun bila tidak ada seorang pun yang terzalimi dengan harga itu dan orang-orang masih punya pilihan untuk membeli di tempat lain dengan harga yang terjangkau, tidak ada salahnya seorang pedagang mengambil keuntungan berlebih.

Contoh yang mudah adalah pada sebuah restoran ayam goreng terkenal. Sepotong ayam di restoran itu bisa berharga Rp 10.000. Sementara di samping restoran itu ada pedagang kaki lima yang juga menjual ayam goreng hanya seharga Rp 3.000,-. Padahal keduanya sama-sama digoreng dan besarnya pun sama. Tetapi restoran itu menaikkan harga sampai 3 kali lipat. Dan ini syah-syah saja hukumnya. Tinggal silahkan masyarakat memilih, mana yang mereka mau beli sesuai dengan isi kantongnya. Dan buktinya keduanya punya pelanggan sendiri-sendiri.

3. Dalam kasus menimbung barang, yang perlu diperhatikan adalah jawaban soal nomor dua. Intinya jangan sampai membuat orang lain terzalimi dengan harga yang mencekik. Tetapi kalau sekedar menyimpang barang dan baru menjualnya hingga harga pasaran cukup baik, tentu tidak salah. Sebab kenaikan harga bukanlah dia yang menentukan, melainkan harga pasar yang berlaku. Apalagi bila barang itu tidak merupakan monopoli yang dimiliki oleh segelintir orang saja. Maka menaikkan harga sesuai dengan harga pasar menjadi hal yang boleh dilakukan.

Wallahu a’lam bishshawab Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *