Hukum Berjualan Patung

 

Muamalah
Hukum Berjualan Patung

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Kalo saya membantu menjual patung batu atau patung kayu, bagaimana hukumnya (saya dapat keuntungan dari setiap patung yang terjual)? Patung tersebut tidak ada di tempat saya, saya hanya menjual virtual/lewat internet, promosi dengan pamflet). Terima kasih atas jawaban ustadz.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Arry – Jakarta

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

Boleh tidaknya anda melakukan apa yang anda tanyakan sebenarnya kembali kepada hukum patung itu sendiri dalam hukum Islam. Di dalam hadis disebutkan, bahwa Jibril a.s. tidak mau masuk rumah Rasulullah s.a.w. karena di pintu rumahnya ada sebuah patung. Hari berikutnya pun tidak mau masuk, sehingga ia mengatakan kepada Nabi Muhammad:

“Perintahkanlah supaya memotong kepala patung itu. Maka dipotonglah dia sehingga menjadi seperti keadaan pohon.” (Riwayat Abu Daud, Nasai, Tarmizi dan Ibnu Hibban)

Dari hadis ini segolongan ulama ada yang berpendapat diharamkannya patung apabila dalam keadaan sempurna, tetapi kalau salah satu anggotanya itu tidak ada yang kiranya tanpa anggota tersebut tidak mungkin dapat hidup, maka membuat patung seperti itu hukumnya mubah.

Tetapi menurut tinjauan yang benar berdasar permintaan Jibril untuk memotong kepala patung sehingga menjadi seperti keadaan pohon, bahwa yang mu’tabar (diakui) di sini bukan karena tidak berpengaruhnya sesuatu anggota yang kurang itu terhadap hidupnya patung tersebut, atau patung itu pasti akan mati jika tanpa anggota tersebut. Namun yang jelas, patung tersebut harus dicacat supaya tidak terjadi suatu kemungkinan untuk diagungkannya setelah anggotanya tidak ada.

Cuma suatu hal yang tidak diragukan lagi, jika direnungkan dan kita insafi, bahwa patung separuh badan yang dibangun di kota guna mengabadikan para raja dan orang-orang besar, haramnya lebih tegas daripada patung kecil satu badan penuh yang hanya sekedar untuk hiasan rumah.

Termasuk patung yang diharamkan, yaitu gambar/lukisan yang dikuduskan (disucikan) oleh pemiliknya secara keagamaan atau diagung-agungkan secara keduniaan.

Seperti patung malaikat, nabi-nabi, misalnya Nabi Ibrahim, Ishak, Musa dan sebagainya. Patung-patung itu biasa dikuduskan oleh orang-orang Nasrani, dan kemudian sementara orang-orang Islam ada yang menirunya, yaitu dengan melukiskan Ali, Fatimah dan lain-lain.

Juga patung-patung dewa, raja, pemimpin dan seniman. Ini dosanya tidak seberapa kalau dibandingkan dengan yang pertama tadi. Tetapi akan meningkat dosanya, apabila yang dilukis itu orang-orang kafir, orang-orang yang zalim atau orang-orang yang fasik. Misalnya para pemimpin kafir yang menghukum dengan selain hukum Allah, para pemimpin yang mengajak umat untuk berpegang kepada selain agama Allah atau seniman-seniman yang mengagung-agungkan kebatilan dan menyiar-nyiarkan kecabulan di kalangan umat.

Kebanyakan patung dan gambar di zaman Nabi dan sesudahnya adalah lukisan-lukisan yang disucikan dan diagung-agungkan. Sebab pada umumnya lukisan-lukisan itu adalah buatan Rum dan Parsi (Nasrani dan Majusi). Oleh karena itu tidak dapat melepaskan pengaruhnya terhadap pengkultusan kepada pemimpin-pemimpin agama dan negara.

Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Abu Dhuha pernah berkata sebagai berikut: Saya dan Masruq berada di sebuah rumah yang di situ ada beberapa patung. Kemudian Masruq berkata kepadaku: Apakah ini patung Kaisar? Saya jawab: Tidak! Ini adalah patung Maryam.

Masruq bertanya demikian, karena menurut anggapannya, bahwa lukisan itu buatan orang Majusi yang biasa melukis raja-raja mereka di bejana-bejana. Tetapi akhirnya ketahuan, bahwa patung tersebut adalah buatan orang Nasrani.

Dalam kisah ini Masruq kemudian berkata: Saya pernah mendengar Ibnu Mas’ud menceriterakan apa yang ia dengar dari Nabi s.a.w., bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di sisi Allah, ialah para perupa.”

Selain patung di atas, yaitu misalnya dia menggambar/melukis makhluk-makhluk yang tidak bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, laut, gunung, matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Maka hal ini sedikitpun tidak berdosa dan tidak ada pertentangan sama sekali di kalangan para ulama.

Dan bila demikian hukum patung, maka haramlah memperjual belikannya, membuatnya atau mengambil keuntungan dari bisnisnya. Kecuali bila benda itu tidak masuk dalam kategori patung, seperti boneka, mainan, robot, alat peraga berbentuk tubuh manusia yang digunakan oleh dunia pendidikan, kedokteran, dan sejenisnya. Sebab alat-alat ini memang bukan patung dalam makna dan esensi.

Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *