Dititipi Beli Barang, Bolehkah Harga Di-Markup

 

Dititipi Beli Barang, Bolehkah Harga Di-Markup

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya ingin bertanya tentang berjual-beli. Bagaimana hukumnya, bila kita dititipi seseorang untuk membelikan sesuatu, lalu kita sampaikan harga barang tersebut lebih tinggi daripada harga yang sebenarnya, dengan maksud agar kita mendapat keuntungan. Hanya itu yang ingin saya tanyakan, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Anhar Ahmad

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du

Boleh tidaknya akan sangat tergantung pada posisi anda dalam transaksi itu. Bila posisi anda sebagai semata-mata orang yang diamanahi untuk membeli suatu barang, maka anda harus jujur dalam masalah harga. Anda tidak bisa mengambil keuntungan begitu saja dengan memark-up harga karena anda hanya orang yang dititipi.

Namun kalau posisi anda adalah bagian dari pihak penjual dan sudah ada semacam kesepakatan antara anda dengan penjual di mana anda akan mendapatkan upah atas terjualnya barang milik penjual, maka apa yang anda lakukan adalah sebagai simsar atau perantara. Simsar adalah orang yang membantu menjaulkan barang kepada orang lain dimana dia berhak mendapatkan bagian dari hasil penjualan itu.

Praktek seperti itu dibenarkan dalam Islam karena akadnya jelas dan saling menguntungkan serta tidak ada pihak yang dizalimi. Samsarah sendiri sudah dipraktekkan di masa Rasulullah SAW dan juga para shahabat. Ibnu Abbas, salah seorang shahabat Rasulullah SAW mengatakan bahwa boleh hukumnya seorang menyuruh orang lain untuk menjualkan pakaian, “Jualkanlah baju ini, kalau ada lebihnya (dari harga yang aku tetapkan), maka lebihnya itu untuk kamu.”

Ibnu Sirin juga mengatakan boleh hukumnya seseorang berkata, ”Jualkanlah barangku ini dengan harga sekian, tapi kalau kamu bisa mendapat harga lebih dari itu, ambillah sebagai keuntunganmu”.

Imam Al-bukhari menyebutkan bahwa ‘Athi, Ibrahim dan Al-Hasan pun membolehkan praktek simsarah ini. Yang penting dasarnya adalah kesepakatan antara pemilik barang dengan yang menjualkannya. Sabda Rasulullah SAW: Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Orang Islam itu terikat pada syarat (perjanjian) yang disepakatinya”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).

Maka dalam jenis akad kedua ini, anda tidak bertindak sebagai orang yang diamanahi untuk membeli barang, melainkan sebagai orang yang mewakili penjual barang untuk membantu menjualkannya. Bila demikian, maka anda berhak mendapatkan keuntungan dari hasil transaksi itu.

Wallahu a’lam bishshawab,
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *