Zuhud yang Menyesatkan

Zuhud yang Menyesatkan

Para penyeru agama, sengaja ataupun tidak, seringkali menjadikan ummatnya tertipu oleh ajaran mereka tentang meraih kekayaan ruhani dengan mengajarkan hidup yang sengsara.

Jauh sebelum manusia bisa memproduksi pesawat terbang, dalam legenda Persia kuno dikisahkan bahwa di antara raja-raja mereka ada memendam keinginan yang kuat untuk bisa menjelajahi angkasa, terbang setinggi-tingginya. Keinginan itu diutarakan kepada para pembantunya agar mereka dapat mencari jalan keluarnya.

Setelah bertahun-tahun memikirkannya, akhirnya ditemukan satu jalan yang sekiranya dapat merealisasi keinginan sang Raja. Mereka mengetahui bahwa burung rajawali merupakan burung yang sangat perkasa. Penduduk sering memergoki burung rajawali memangsa seekor ayam kemudian dibawa terbang setinggi-tingginya.

Akal mereka mulai bekerja. Menurut jalan pikirannya, jika sekiranya empat burung rajawali dikaitkan antara satu dengan lainnya, kemudian ditengahnya diberi satu tatakan yang kuat, tentu dapat menerbangkan sang raja. Ide yang orisinil ini segera mendapat persetujuan segenap penasehat raja.

Proyek imajiner ini segera dimulai dengan menangkap empat burung rajawali yang masih kecil untuk dipelihara dan diberi latihan secukupnya. Setelah burung-burung tersebut menginjak dewasa dan menjadi perkasa, maka segera dibuatkan tenda persegi empat yang tiang-tiangnya diikatkan secara kuat ke masing-masing burung. Di tengahnya dibuatkan tempat yang aman dan nyaman untuk sang raja. Di bagian atasnya diletakkan onggokan daging yang segar dan menggiurkan.

Pelepasan “pesawat terbang ” itu disaksikan oleh ribuan rakyatnya. Dengan lambaian tangan ribuan rakyatnya, burung-burung itupun mulai terbang membawa sang Raja. Setelah berputar putar sekian lama, burung-burung itupun mulai merasa lapar. Dilihatnya Onggokan daging di atasnya, keempat burung itu serentak mengerahkan tenaganya untuk meraihnya. Semakin kuat keinginan mereka untuk meraih daging segar, lezat, dan menggiurkan itu, semakin kuatkan tenaga penggeraknya, berarti semakin tinggilah mereka terbang bersama sang raja. Sayang, daging segar itu tak bisa diraihnya sama sekali, karena ditempatkan disatu tempat yang tak mungkin terjangkau oleh mereka.

Semakin lapar, semakin bernafsu mereka untuk menggapainya, sampai akhirnya mereka kehabisan tenaga. Seluruh tenaganya telah terkuras habis, kepayahan diraskan ke seluruh anggota tubuh. Mereka mengalami kepayahan yang amat sangat. Keinginan mereka untuk beristirahat tak mungkin bisa dilakukan di ketinggian angkasa, sementara perut melilit tak tertahankan. Akhirnya burung-burung itu meluncur ke bumi, jatuh terpuruk bersama sang Raja. Mereka hancur berantakan bersama mimpi-mimpinya.

Apa yang bisa kita petik dari tamsil kisah ini? Banyak orang yang tergilincir jatuh karena mimpi-mimpinya. Mereka mengangankan sesuatu yang tak bakal digapai kecuali dalam alam khayalnya.

Para penyeru agama, sengaja ataupun tidak seringkali menjadikan ummatnya seperti burung-burung rajawali yang tertipu seperti dalam kisah di atas. Mereka memanipulasi ajaran zuhud bagai onggokan daging yang merangsang dan menggiurkan. Dengan alasan untuk meningkatkan kehidupan ruhaninya, mereka diajak terbang tinggi dan tinggi sekali. Untuk itu semua, mereka menyiksa diri dengan membiarkan perutnya kelaparan tanpa isi. Islam adalah agama yang rasional, ia tidak saja memberikan bimbingan tapi sekaligus memelihara fitrah manusia. Bahwa manusia bukanlah binatang, tapi juga bukan malaikat. Manusia tetaplah manusia dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Bahkan adanya kekuarangan manusia itu menunjukkan kesempurnaannya.

Bisa jadi “onggokan daging” itu berupa paham bahwa guru sufi atau mursyid adalah bayangan Allah di muka bumi, yang karenanya segala titah dan perintahnya adalah juga titah dan perintah Tuhan. Kepadanya para murid menyerahkan nasib baik buruknya. Penyerahan diri kepada sang Guru ruhani atau pemimpin spiritualnya tak ubahnya seperti mayat yang diam saja ketika dimandikan, dikafani, dan diusung dengan keranda ke liang kubur. Bisa jadi “onggokan daging” itu berupa paham agama bahwa Tuhan telah membagi-bagikan rizki kepada manusia dalam kadar yang telah ditentukan-Nya, yang karenanya barangsiapa yang mencari rizki melebihi kadar yang telah ditentukan untuknya berarti ia telah mengingkari taqdir-Nya. Allah tentu murka kepadanya.

“Onggokan daging” itu bisa berupa paham bahwa dunia ini tak lebih dari bangkai busuk yang tak pantas bila dikaitkan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mat tinggi dan mulia. Terlalu rendah bagi manusia yang berusaha dan bekerja untuk mendapatkannya. Dalam kaitan ini Rasulullah Saw mengingatkan kita semua: “Janganlah kalian mencaci maki dunia. Dia adalah sebaik-baik kendaraan. Dengannya kamu dapat meraih kebaikan dan dapat selamat dari kejahatan.” (HR ad-Dailami)

Untuk mencapai kelezatan iman, manusia tidak perlu meninggalkan kehidupan dunianya, menempuh cara hidup yang diciptakannya sendiri dalam suasana yang tidak alami. Memencilkan diri dari kehidupan ramai, menolak total aneka warna kehidupan untuk mencapai tingkat hakekat adalah kehidupan zuhud yang ekstrim. Pola kehidupan seperti ini tak ubahnya seperti burung rajawali yang ingin menggapai onggokan daging yang tak bakal diperolehnya, selama-lamanya.

Terhadap pola hidup seperti ini, Allah Swt secara tegas mematahkan argumentasi mereka dengan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizqi yang baik?’ Katakanlah: ‘Semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat’. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (al-A’raaf: 32)

Dalam konsep Islam, kehidupan dunia ini bukanlah untuk diludahi karena kehidupan dunia bukanlah menjijikkan, bukan najis dan kotor. Sebaliknya, kehidupan dunia adalah kudus, yang karenanya perlu disucikan dengan produktivitas dan karya-karya besar. Kreativitas itu terus dikembangkan sehingga menjadi lebih semarak, indah, dan makmur. Itulah tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

Agama Islam diturunkan bukan untuk memberkati lapar dan putus asa. Islam didatangkan di permukaan bumi sebagai landasan bagi manusia agar berusaha sekuat daya dan kemampuannya, tidak mudah lelah dan putus asa, berusaha, berkarya, dan menikmati kehidupan dunia yang lebih baik.

Dengan Islam hendaknya kaum muslimin bangkit dari keterpurukannya, berangkat menuju kehidupan, berusaha dengan sungguh-sungguh, berjuang dengan terus menrus untuk mendapatkan segala yang terbaik di dunia ini. Dunia ini bukan disiapkan untuk orang-orang kafir saja, tapi terutama adalah untuk hamba-hamba-Nya yang shalih.

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Lauh Mahfuhz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (al-Anbiyaa: 105)

Jika bumi ini diperuntukkan bagi hamba-hamba yang shalih, mengapa kita yang seringkali mengaku kaum yang shalih tidak tergerak untuk mendapatkannya? Mengapa kita puas ketika menerima sisa-sisa dari mereka? Ketika yang baik-baik dari kehidupan dunia ini diambil oleh mereka, kita hanya menonton sambil mengelus dada. Sampai kapan kita bisa lepas dari belenggu ajaran sesat yang menjadikan ummat bagai rajawali-rajawali yang menggapai-gapai onggokan daging yang kemudian jatuh terkulai?

(diambil dari majalah Hidayatullah)

Kontributor Oleh : Abu Nafis

Visi Keluarga

Visi Keluarga

Imam Syahid menempatkan keluarga menjadi sasaran kedua setelah bina fardi al-muslim. Sebelum bina mujtama’ al-islam. Urutan penempatan seperti itu bukan tanpa alasan tentunya. Logikanya masyarakat muslim tidak akan terbentuk tanpa basis keluarga yang kokoh. Basis keluarga yang kokoh tidak akan terwujud tanpa pribadi yang kokoh. Oleh karena itu menjadi amat relevan kita menengok kebelakang sirah kita dalam bina bait al-muslim.

Terekam kuat dalam ingatan saya sewaktu mendengarkan khutbah nikah di Bandung 15 tahun yang lalu. Bahwa ketika dua individu disatukan berlaku hukum matematis 1+1=2 dan bukan 1+1=1/2. Untuk menuju sinergis dibutuhkan proses panjang berkelanjutan. Proses yang harus dilakukan mestilah dimulai dari muta’arifina bainahuma (saling mengenal diantara pasangan), meningkat menjadi mutafahimina bainahuma (saling memahami diantara pasangan) dan muta’awinina bainahuma (saling bekerja sama diantara pasangan) serta mutakafilina bainahuma (senasib sepenanggungan).

Mengenal pasangan tidak cukup hanya semalam ketika berlama-lama untuk tidak segera tidur karena banyak yang ingin diobrolkan. Mengenal pasangan dibutuhkan waktu lama untuk mengetahui luar dalam. Dari yang nampak sampai yang tidak nampak. Banyak pasangan membutuhkan waktu tidak kurang dari 4 tahun pernikahan berjalan untuk memastikan dia mengenal pasangannya dan mengerti mau dan keinginan tanpa harus dikatakan. Kegagalan kita dalam mengenal pasangan akan berdampak pada sulitnya mencari titik temu untuk produktifitas. Walaupun tidak untuk produktifitas keturunan.

Keberhasilan mewujudkan saling memahami akan mengantarkan lembaga keluarga seimbang dan stabil. Rasulullah SAW ketika menerima saran dari Istri Beliau untuk memotong rambut dan menyembelih hewan ditengah kegalauan dan kekecewaan ummatnya atas gagalnya rencana haji mereka menjadi contoh baik dalam upaya mewujudkan keseimbangan. Pernikahan menurut David Reuben seperti sebuah perjalanan panjang menggunakan sebuah sampan kecil: Jika salah satunya menggoyangkan perahu, yang lain harus berusaha menjaga keseimbangannya; bila tidak demikian, mereka akan tenggelam bersama-sama.

Keluarga kokoh menjadi idaman setiap orang terlebih lagi kita. Tentu kita tidak menginginkan adanya pasangan yang nampaknya runtang-runtung namun sebenarnya keropos. Ustadz Ahmad Heriawan, Lc. (Ketua Fraksi Keadilan DPRD DKI) dalam makalahnya menulis, untuk memulai mengokohkan hubungan kita hendaklah setiap pasangan merenungkan kembali pertanyaan mendasar ‘mengapa menikah?’ dan ‘mengapa memilih dia?’. Pertanyaan akan mendapat jawaban ideologis selain hasrat badani.

Saya dan akhukum fillah sangat yakin semuanya mesti bermula dan berbasiskan spritual yang kokoh. Setelah itu baru kita mengupayakan hal-hal yang bersifat skill. Kalau toh kita harus mengasah skill dalam berumah tangga itu semata-mata apresiasi dari keimanan semata. Artinya untuk harmonisasi pasangan selain kita harus mengupayakan hadir nuansa spritual dalam membina hubungan juga meski mengupayakan hal-hal berikut ini:

Orang bijak berkata: Paling mudah bagiku untuk berteman dengan sepuluh ribu orang, Yang paling sulit justru ketika harus berteman dengan satu orang.

Wallaahu a’lam.

Kontributor Oleh : Imam Muchrozi

Untukmu Penegak Kalimat Tauhid

Untukmu Penegak Kalimat Tauhid

DR. Yusuf Qorodhowi dalam sebuah khutbah Jum’atnya di masjid ‘Umar bin Khattab, Dhoha, Qatar mengatakan adalah suatu yang lucu dan menyedihkan Amerika sebagai sebuah bangsa yang memproklamirkan dirinya sebagai penegak HAM mencantumkan batalyon syuhada Al Aqsho sebagai organisasi teroris. Lebih ironis lagi ketika Amerika melalui pemimpin negerinya mengatakan Ariel Sharon yang tangannya berluruman darah dalam membantai umat Islam, mempertahankan dirinya di tengah serangan teroris dan fundamentalis Hamas.

Lebih jauh lagi DR. Yusuf Qorodhowi mengatakan, ‘Itu sesuatu yang lucu tapi menyedihkan. Karena dengan sikap itu berarti Amerika menyamakan antara daging dan pisau, antara pembunuh dan yang dibunuh, antara korban pembantaian dan pelaku pembantaian. Kalau sikap ini yang dianggap sebagai teroris, Ya Allah jadikanlah aku sebagai orang-orang teroris…matikanlah aku sebagai teroris..dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang teroris…’

Semenjak invasi Isarel atas tanah suci Al Quds pada Mei 1948 dengan ditandai berdirinya negara Israel secara sepihak, sampai saat ini tak pernah berhenti memeras darah umat Islam Palestina. Dengan dalih merebut tanah yang dijanjikan menurut versi mereka, mereka menghalalkan membunuh anak-anak dan wanita Palestina dengan rasa penuh kebanggaan telah menjalankan ajaran kitab sucinya.

Watak ketertutupan terhadap bangsa lain, sifat individualistis serta anggapan bahwa mereka merupakan bangsa pilihan, menimbulkan kebencian terhadap bangsa ini. Akibatnya mereka sering dikejar-kejar oleh penduduk asli setempat di manapun mereka menyebar di dunia ini. Dengan gerakan yang dinamakan Zionisme yang didirikan oleh Theodore Herzl yang pada tahun 1896, menyerukan kepada bangsa Yahudi untuk mendirikan negara Yahudi, di Palestina. Berbagai kelicikan telah dipertontonkan oleh bangsa yang satu ini. Dengan berpelayankan Amerika, mereka dengan santainya berteriak keseluruh dunia, bangsa Palestina adalah Teroris. Kenyataannya, Teroris teriak Teroris.

Bom syahid yang dilancarkan oleh pemuda-pemuda Palestina nan gagah berani, sering kali dengan konspirasi besar dicap sebagai teroris fundamentalis. Teroris yang menyerang penduduk sipil Yahudi. Padahal tidak ada penduduk sipil Yahudi di Palestina krn seluruh anasir Yahudi adalah tentara.

DR. Yusuf Qorodhowi kembali berkomentar tentang aksi bom syahid ini:

‘Orang yang bunuh diri itu membunuh dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Sementara pejuang ini mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri itu adalah orang yang pesimis atas dirinya dan atas ketentuan Allah, sedangkan pejuang ini adalah manusia yang seluruh cita-citanya tertuju kepada rahmat Allah SWT.

Orang yang bunuh diri itu ingin menyelesaikan dari dirinya dan dari kesulitannya dengan menghabisi nyawanya sendiri, sedangkan seorang mujahid ini membunuh musuh Allah dan musuhnya dengan senjata terbaru ini yang telah ditakdirkan menjadi milik orang-orang lemah dalam menghadapi tirani kuat yang sombong.

Mujahid itu menjadi bom yang siap meledak kapan dan di mana saja menelan korban musuh Allah dan musuh bangsanya, mereka (baca: musuh) tak mampu lagi menghadapi pahlawan syahid ini. Pejuang yang telah menjual dirinya kepada Allah, kepalanya ia taruh di telapak tangan-Nya demi mencari syahadah di jalan Allah.’

Sekarang adalah bagimana kita sebagai muslim menjalankan ukhuwwah yang selama ini kita teriakkan di mimbar-mimbar, di kajian-kajian, di tabligh akbar, bahwa sesungguhnya muslim itu adalah ibarat sebuah tubuh, yang apabila satu bagian dari tubuh tersebut merasakan suatu kesakitan maka bagian tubuh yang lain turut merasakannya. Apa yang sudah kita perbuat untuk saudara-saudara kita di Palestina.

Bila saja seorang Yusuf Qorodhowi masih mengatakan, ‘Aku masih belum menyerahkan diriku sepenuhnya terhadap perjuangan Islam, sebagaimana Imam Ghazali yang menyerahkan dirinya untuk islam; beliau hidup bersama ilmu dan amal. Usaha kita terlalu sedikit bila dibandingkan dengan usaha kaum Yahudi dalam menegakkan Negara Israel, terlalu sedikit bila dibandingkan dengan kaum Nasrani yang giat menyebarkan ajaran agama mereka. Perjuangan kita untuk menegakkan Islam belumlah ada apa-apanya’. Bagaimana dengan kita ?

Saudaraku, Perjuangan masih panjang. Jalan berliku penuh onak masih akan kita jumpai. Darah yang keluar dari sela-sela jari kita mungkin akan keluar dari dada kita. Luruskan dan rapatkan barisan. Bersihkan niat dari segala kekotoran. Bisa jadi, kita tak merasakan waktu yang kita citakan, tetapi tongkat estafet haruslah tetap berjalan. Perteguh iman, pertajam kesadaran..Perbanyak ‘perbekalan’… Jangan sampai kita kehabisan di tengah jalan. Saudaraku, Kematian bukanlah kehinaan. Kematian adalah keindahan dan kemuliaan. Persiapkan diri agar bumi Allah ini mau menerima kita.

Allohu Akbar !!…
Ya muslimun…ya muslimun…
Ya muslimun…ya muslimun…
Ya muslimun…ya muslimun…
Jihad memanggil akankah kau bangun…

Tataplah wajah-wajah saudara-saudara kita dalam ingatan dan do’a-do’amu. Sudahkah kita peduli kepada mereka ? Dan mengulurkan tangan memberikan kehangatan takkala baju-baju mereka habis menjadi penyeka darah dan panasnya matahari Gaza. Sudahkah kita tunjukkan ? Bahwa kita adalah saudara mereka, yang siap menjadi ayah mereka, kakak mereka, anak mereka, ibu mereka, takkala ayah, ibu, anak, kakak mereka tertembus timah panas dan terlindas deru kecongkakan tank ? Hanya karena mereka berkata : Ana Muslim….Allohu Akbar….

Ataukah kita menjadi sebagian muslim dunia, yang tak ada sedetikpun terlintas nasib mereka. Sementara baju-baju kita melebihi apa yang kita butuhkan .Sementara kita bingung mau makan apa esok hari dan bukan makankah esok hari.

Wahai saudaraku…
Tahukah engkau bagaimana rasa bahagianya mati syahid ? Al-Bukhary mentakhrij dari Abu Hurairah r.a, dia berkata, ‘Aku mendengar Nabi SAW bersabda, ‘Demi yang diriku ada di tangan-Nya, sekiranya tidak ada orang-orang Mukmin yang tidak suka jika aku meninggalkan mereka dan aku tidak mendapatkan apa yang kubebankan kepada mereka, tentu aku selalu ikut dalam pasukan perang fi sabilillah. Demi diriku yang ada di tangan-Nya, aku benar-benar suka terbunuh di jalan Allah, kemudian aku dihidupkan lagi, lalu aku terbunuh lagi, lalu dihidupkan lagi, terbunuh lalu dihidupkan lagi, lalu terbunuh.’

Al-Bukhary mentakhrij dari Aslam, dari Umar bin Khaththab r.a, dia pernah berkata, ‘Ya Allah, berilah aku mati syahid di jalan-Mu, dan jadikanlah saat kematian di negeri Rasul-Mu.’

Al-Isma’ily mentakhrij dari Hafshah Radhiyallahu ‘Anha, dia menambahi riwayat di atas, ‘Aku bertanya, ‘Apa arti semua ini?’ Beliau menjawab, ‘Allah mendatangkannya pada hari kiamat menurut kehendak-Nya.’ Begitulah yang disebutkan di dalam, ‘Fathul-Bari’, 3/71.

Wahai saudaraku…
Bosnia merintih dalam kesendirian…
Qosova mengalir sungai-sungai merah…
Palestin menjerit terhimpit konspirasi kecongkakan binatang Israel dan Amerika…
Afghanistan dalam tekanan…..
Indonesia dalam keterpurukan….
Kashmir dalam penindasan….

Wahai saudaraku…
Siapkan apa yang ada yang kau mampu dan dapat kau tempuh
Masukkanlah mereka dalam barisan do’a-do’a tahajjudmu…
Berikan ruang hati kita
Untuk saudara kita disana…

Kontributor Oleh : Abu Saifulhaq

Untuk Kesekian Kali Kutulis: “Antara Cinta Dan Hukum”

Untuk Kesekian Kali Kutulis: “Antara Cinta Dan Hukum”

“Keimanan memang tidak selalu memuaskan persepsi manusia, tetapi sering menuntut persepsi ruhani dan kebeningan jiwa.” (Sri Vira Chandra)

Berangkat dari rasa penasarannya terhadap seekor kucing, yang setiap kali diberi potongan daging, setiap kali itu juga ia berlalu dengan potongan tersebut, lalu kembali dalam waktu sekejap. Ibnu Babsyaz (salah seorang pakar Nahwu di negeri Kinanah) memutuskan untuk mengikuti arah kucing tersebut. Kucing itu mengarah ke sebuah sudut reruntuhan bangunan kuno yang di situ terdapat seekor kucing buta yang setia menanti. Ternyata, potongan daging yang ia bawa itu bukan untuk dirinya sendiri, tetapi ia letakkan tepat di hadapan kucing buta itu, agar ia dapat menyantapnya.

Melihat hal itu Ibnu Babsyaz berkomentar: “jika kucing buta ini dijamin kehidupannya oleh Allah melalui seekor kucing yang tidak buta, lalu bagaimana mungkin Allah menyia-nyiakan makhluk seperti aku ini? (Rawa’i wa Tharaif, oleh Ibrahim an-Nikmat, hal. 143). Dan demikianlah kasih sayang Allah SWT yang amat luas.

Tumbuh-tumbuhan yang tidak memiliki indra serta kemampuan bergerak, dengan kasih sayang-Nya, Allah menganugerahkan baginya akar, dengan akar tersebut ia mampu mengumpulkan beragam komponen, berupa air, udara serta tanah-tanah halus yang kemudian disalurkan ke berbagai dahan dan ranting. (Hujjatullah Al-Bâlighah 1/44).

Begitu juga, ketika seorang ibu dengan momongan bayinya yang sedang menyusui datang menghadap Rasulullah SAW, Rasulullah bersabda kepada sahabat-sabatnya: “Menurut kalian, apakah ibu ini tega membuang anaknya ke dalam api?” Para sahabat menjawab: “Demi Allah, ia tidak akan melakukannya”. Rasulullah SAW bersabda: “Allah lebih penyayang dan pengasih kepada hambanya di banding ibu itu kepada anaknya.” (HR. Muslim: 2745).

Ketiga gambaran di atas hanyalah setetes kasih sayang Allah SWT untuk makhluknya dari luasnya kasih sayang yang dimiliki-Nya. Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT menjadikan kasih sayang itu menjadi 100 bagian, di sisi Allah terdapat 99 bagian, sedang 1 bagian diturunkannya ke bumi, dari 1 bagian itulah makhluk hidup saling berkasih sayang.” (HR. Muslim: 2752)

Jika kasih sayang Allah sedemikian besar terhadap makhluknya, lalu patutkah makhluknya tersebut meragukan hukum-hukum yang Ia turunkan kepada hamab-Nya melalui Rasul-Nya? Layakkah makhluknya berkata: “Hukum-hukum yang ada di dalam Al-Qur’an tidak sesuai dengan zaman modern saat ini?”

Dengan kasih sayang-Nya, kembali Allah SWT mengingatkan hambanya untuk tidak berpaling dari hukum-Nya. Allah Swt berfirman: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka hendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Maidah:50).

Berhukum kepada selain Allah, menyebabkan dua konsekwensi, Pertama: Kafir I’tiqadi (secara keyakinan) yang mengeluarkan pelakunya dari agama. Kedua: Kafir Amali (secara amalan) yang tidak mengeluarkannya dari agama (al-kufr dûna al-Kufr).

Kafir keyakinan (terhadap hukum Allah), mengeluarkan pelakunya dari agama. Ia beragam bentuknya, diantaranya:

Pertama: Kelompok yang menentang hukum Allah dan rasul-Nya, kafir menurut kesepakatan ahli ilmu. Merupakan ketetapan dasar, bahwa mengingkari salah satu ushul dari ushul-ushul agama ini adalah kafir dan menyebabkan pelakunya keluar dari Millah.

Kedua: Kelompok yang tidak mengingkari hukum Allah dan Rasul-Nya bahkan mengakui eksistensinya, tapi bersamaan dengan itu ia berkeyakinan bahwa hukum selain hukum Allah adalah lebih baik, lebih sempurna, dan lebih merangkul. Tidak diragukan lagi bahwa kelompok ini adalah kafir dan pelakunya keluar dari millah, karena ia telah mengunggulkan hukum produk makhluk yang tidak lebih dari pada sampah pemikiran dari pada hukum Allah yang maha bijaksana lagi maha terpuji.

Ketiga: Kelompok yang tidak meyakini bahwa hukum d luar hukum Allah dan Rasul-Nya adalah lebih baik dari pada hukum Allah dan Rasul-Nya, tetapi berkeyakinan bahwa hukum keduanya adalah sama baiknya. Maka kelompok ini keadaannya tidak jauh berbeda dengan dengan dua kelompok sebelumnya, yaitu kafir dan menyebabkan pelakunya keluar dari Millah. Karena ia telah mensejajarkan antara sang Pencipta dengan makhluk, padahal Allah SWT berfirman: “(Allah) tidak ada yang serupa dengan-Nya” (QS. Asy-Syura’:11)

Keempat: Kelompok yang tidak menyakini bahwa hukum di luar hukum Allah dan Rasul-Nya sama baiknya dengan hukum Allah dan Rasul-Nya apalagi menyakini lebih baik dari pada kedua-Nya, tetapi ia berkeyakinan bahwa boleh berhukum dengan sesuatu yang menyalahi hukum Allah dan Rasul-Nya. Maka ia juga telah kafir dan keluar dari millah, karena ia telah meyakini bolehnya melanggar sesuatu yang sangat jelas keharamannya.

Kelima: Kelompok yang lebih parah dari pada kelompok-kelompok sebelumnya, kelompok yang paling pembangkang dan yang paling terang-terangan menentang bahkan tidak segan-segan menghina Allah dan Rasul-Nya. Mereka berusaha menutup dan mengunci syariat-syariat Allah dengan serapat-rapatnya, dan sebagai gantinya mereka menjadikan hukum buatan manusia sebagai pedoman dan undang-undang hidup, seperti undang-undang Perancis, Amerika, Inggris dan lain-lainnya.

Kelompok ini banyak tersebar di negara-negara yang banyak berpenduduk muslim. Lalu dimanakah akal sehat orang-orang seperti ini? bukankah hukum buatan itu adalah di produk orang-orang seperti mereka juga, yang pemikiran-pemikirannya pun tidak jauh berbeda dengan manusia-manusia lainnya, yang tidak mustahil mengandung kesalahan, bahkan salahnya lebih banyak dari pada benarnya, atau sama sekali tidak memiliki kebenaran kecuali jika bersandar kepada hukum Allah dan Rasul-Nya.

Keenam: Kelompok yang berhukum dengan hikayat-hikayat nenek moyang mereka atau dari adat-adat yang mereka warisi secara turun-temurun dan dijadikan sebagai sumber rujukan ketika terjadi persengketaan di antara mereka. Mereka lebih senang kejahiliyaan mereka dari pada kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya. Kelompok ini pun kafir dan keluar dari millah.

Adapun bagian yang kedua dari pembagian kafir adalah kafir yang tidak mengeluarkan dari millah. Yaitu, mereka yang senantiasa mengikuti syahwat dan hawa nafsunya dalam berhukum di luar hukum Allah, tetapi bersamaan dengan itu ia tetap meyakini bahwa hukum Allah dan Rasul-Nya adalah hak dan mengakui pada dirinya sendiri bahwa perbuatannya adalah keliru dan sangat jauh dari kebenaran. Kelompok ini walaupun kekafirannya tidak mengeluarkannya dari millah tetapi ia telah melakukan sebuah kemaksiatan yang besar. Fa’tabiru Yaa Ulil Albab.

Kontributor Oleh : Asha Gazzaz

Ujian Hidup

Ujian Hidup

Persoalan hidup dan mati adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam diri setiap makhluk yang bernyawa. Begitu juga dengan manusia sebagai kholifah di muka bumi, baik dalam lingkup individu, keluarga, masyarakat maupun negara. Apabila kita merasakan hidup, maka cepat atau pun lambat kematian akan kita temui. Itu semua merupakan sunnatullah yang tidak seorang pun dapat menghindarinya. Seorang penyair arab pernah menulis “jika seseorang tidak mati karena pedang, maka ia akan mati karena sebab lai. Bermacam sebab kematian, namun mati hanyalah satu”.

Bila ditinjau dari sudut yang lebih luas, kematian bukan semata-mata berpisahnya roh dari jasad, dikafani, kemudian disemayamkan dan selesai.! Ternyata tidak hanya itu. Tidurpun juga bisa dikatakan sebagai kematian, walaupun hanya sementara. Seoran pengusaha yang tiba-tiba jatuh bangkrut, juga sebuah kematian, yakni kematian usaha.

Dengan demikian, kematian pada hakikatnya hanya merupakan peralihan dari ada menjadi tiada. Dari kejayaan menjadi kemelaratan, dari bahagia menjadi duka. Sehingga dengan begitu bisa kita simpulkan bahwa segalanya tidak lebih dari ujian dan peringatan Allah SWT, sebagaimana Dia menerbitkan matahari dari sebelah timur dan menenggelamkannya di ufuk barat. Ingatlah bahwa apabila Allah mencintai hamba-Nya, maka diberinya dia dengan banyak ujian supaya Allah dapat mendengar rintihan hamba yang memuja kebesaran-Nya.

Cobaan yang menimpa seseorang pada umumnya akan membuat dia tidak lepas dari mengagungkan asma Allah serta senantiasa berharap segera terbebas dari penderitaan yang menghimpit. Bahkan adakalanya semakin besar tekanan yang dirasakan maka semakin serius pula ia memohon kepada Allah. Dan bukankah hal ini merupakan nikmat yang amat besar.

Sungguh pun demikian, tidak semua orang dapat merasakannya, dan tidak sedikit manusia yang manakala sudah terbebas dari musibah, ia kembali pada watak aslinya yang sombong, dan lupa kepada tuhannya karena kesenangan dunia seringkali membuat orang lupa diri, terperangkap kemewahan dengan kemewahannya. Kenyataan seperti ini sudah banyak diperlihatkan oleh sejarah manusia dari dulu hingga saat ini.

Sayyid Quthb dalam ‘alhayah fil hayah” (hidup di dalam hidup), mengatakan bahwa orang yang mengisi hidupnya dengan pembinaan diri yang baik (tarbiyah), pembinaan keluarga, masyarakat luas, penuh perhatian terhadap sesama, maka dia hidup dan menghidupkan. Sebaliknya orang yang tidak pernah melakukan pembinaan diri, apalagi terhadap keluarga dan masyarakatnya sesungguhnya dia telah mati.

Pertanyaannya adalah sudahkah dan seberapa banyak kita telah berbuat untuk diri, keluarga, maupun masyarakat kita sehingga kita layak mendapatkan predikat hidup dan menghidupkan?

Tugas Kepemimpinan

Tugas Kepemimpinan

Fungsi pemimpin bukan sekedar menjaga masyarakat. Al-Mawardi dalam Kitab al-Ahkam as-Sulthaniyah menyebut fungsi pemimpin justru menjaga agama untuk menegakkan syariat Allah.

Sebentar lagi bangsa Indonesia akan melakukan hajat besar memilih presiden baru yang kelak akan menjadi pemimpin baru yang akan membawa ‘hitam-putih’ nasib bangsa dan ummat Islam, baik di dunia maupun di akherat. Tulisan ini merupakan pandauan bagi ummat Islam untuk memilih seorang pemimpin sebagaimana Islam menunjukkannya. Meski pilihan kita hanya sekali, namun kelak di akherat, Allah akan meminta pertanggungan jawab atas pilihan kita tersebut.

Seorang pemimpin, bagaimanapun besar kecil wilayah kepemimpinannya selalu mengemban peran yang strategis. Hal ini dikarenakan pemimpin menjadi penentu kemana arah dan gerak sebuah organisasi.

Rasulullah bersabda dalam sunnahnya: “Semua kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap nasib yang dipimpinnya. Amir adalah pemimpin rakyat, dan bertanggungjawab terhadap keselamatan mereka”. (al-hadits)

Memimpin sebuah bangsa tentulah berbeda dengan memimpin sebuah perusahaan, baik dari segi kapasitas kemampuan yang diperlukan maupun tanggung jawab yang dipikulnya.

Bermodal kemampuan menejerial sudah cukup untuk memimpin sebuah perusahaan. Tetapi untuk memimpin sebuah bangsa, sungguh tidaklah cukup hanya dengan modal kemampuan menejerial semata. Sebab memimpin sebuah bangsa bukan hanya membangun jalan, jembatan atau gedung. Tetapi lebih dari itu yakni membangun manusia.

Kesalahan memenej perusahaan paling-paling resikonya mengalami kerugian materi. Selanjutnya perusahaan dilikuidasi dan karyawannya di PHK. Dalam hal ini pemimpin perusahaan bisa pindah, bergabung dengan perusahaan lain atau mencari investasi untuk mendirikan perusahaan baru.

Sangat berbeda dengan memimpin sebuah bangsa. Kesalahan dalam mengelolanya akan berakibat sangat fatal. Bukan hanya menyangkut kerugian material dan beban hutang yang tidak terselesaikan. Kerusakan aqidah dan moral bangsa mererusakkan budaya bangsa, yang akan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Memperbaikinya tidak cukup satu dua tahun, bahkan mungkin tidak cukup satu generasi. Andai kerugian yang ditimbulkannya hanya menyangkut urusan dunia, barangkali masih bisa dimaklumi. Tetapi ini menyangkut kerugian dunia dan akhirat. Karenanya tidak dapat diganti dengan uang berapapun banyaknya.

Kepemimpinan dalam Islam dipandang sebagai amanah. Seorang pemimpin bangsa hakekatnya ia mengemban amanah Allah sekaligus amanah masyarakat. Amanah itu mengandung konsekwensi mengelola dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan harapan dan dan kebutuhan pemiliknya. Karenanya kepemimpinan bukanlah hak milik yang boleh dinikmati dengan cara sesuka hati orang yang memegangnya.

Oleh karena itu, Islam memandang tugas kepemimpinan dalam 2 tugas utama, yaitu menegakkan agama dan mengurus urusan dunia. Sebagaimana tercermin dalam do’a yang selalu dimunajatkan oleh setiap muslim: “Rabbanaa atinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-akhiroti hasanah” (Yaa Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat)

Dua Tugas Kepemimpinan

Pertama, menjaga agama

Seorang kepala negara memiliki tugas dan tanggungjawab untuk menegakkan agar syariat Allah dapat dilaksanakan oleh segenap kaum muslimin. Seorang kepala negara tidak boleh menyerahkan urusan agama kaum muslimin kepada pribadi masing-masing. Yang suka silakan mengerjakan dan yang tidak suka silakan meninggalkan. Kepala negara bertanggung jawab agar kaum muslimin dapat melaksanakan ajaran Islam dengan benar.

Dalam hal ibadah shalat misalnya, pernah suatu hari Rasulullah bersabda dihadapan para sahabat beliau: “Seandainya ada yang menggantikan aku untuk memimpin shalat berjama’ah, maka aku akan mendatangi rumah-rumah kaum muslimin. Siapa diantara kaum laki-laki yang tidak datang menunaikan shalat berjamaah, maka aku akan membakar rumahnya”.

Kasus serupa juga terjadi di zaman khalifah Abu Bakar hampir saja mengirimkan pasukan perang ke suatu wilayah propinsi yang disinyalir penduduknya tidak mau melaksanakan kewajiban zakat yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Contoh diatas memberikan gambaran bahwa seorang kepala negara tidak sekedar menghimbau agar kaum muslimin menjalankan perintah agamanya, tetapi juga sekaligus menegakkannya. Menegakkan agama berarti memberikan fasilitas, mendorong, mengontrol dan memberikan sangsi agar perintah agama dapat dilaksanakan oleh pemeluknya dengan sebaik-baiknya.

Kedua, mengatur urusan dunia.

Dalam tugasnya mengatur urusan dunia, pemimpin bangsa bertanggungjawab untuk mendayagunakan sumber-sumber daya yang dimiliki oleh negara, baik berupa alam, manusia, dana maupun teknologi untuk sebesar-besarnya menciptakan keadilan, keamanan, kedamaian, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat luas. Pemimpin juga bertanggungjawab untuk memberikan perlindungan bagi orang-orang yang lemah agar mereka tetap dapat menikmati kehidupan sebagai seorang manusia secara wajar.

Pemimpin tidak boleh membiarkan yang kuat memonopoli aset-aset negara dan yang lemah tertindas. Peimpin juga tidak boleh berkhianat, dengan mengekploitasi sumber-sumber daya hanya untuk kepentingan pribadi, keluarga maupun kelompoknya.

Dua tugas ini adalah ini tidak ringan. Orang yang faham tidak akan sanggup memikulnya, kecuali bagi orang orang yang memiliki rasa tanggungjawab besar untuk menyelematkan bangsa ini dari kerugian yang amat besar; yaitu kerugian dunia dan kerugian akhirat.

Mengingat besarnya tugas dan tanggungjawan pemimpin sebuah bangsa, yaitu menjaga agama dan mengatur urusan dunia, maka ulama-ulama Islam memiliki kriteria tersendiri bagi seorang yang akan pemimpin negara.

Abu Hasan Al-Mawardi dalam kitab al-Ahkam as-Sulthaniyah menetapkan tujuh syarat bagi seorang Kepala Negara, yaitu: (1) keadilan yang meliputi segala hal, (2) Ilmu pengetahuan sampai pada tingkat sanggup berijtihad, (3) kesejahteraan indera pendengaran, penglihatan dan lisan, (4) kesejahteraan anggota badan. (5) kecerdasan sampai pada tingkat sanggup memimpin rakyat dan mengurus kesejahteraan mereka, (6) keberanian dan ketabahan sampai pada tingkat sanggup mempertahankan kehormatan dan berjihad melawan musuh, (7) berbangsa dan berdarah Qurays.

Ibnu Khuldun dalam Kitab Muqaddimah nya menetapkan empat syarat, antara lain: (1) Ilmu Pengetahuan sampai pada tingkat mampu berijtihad, (2) keadilan, karena keadilan menjadi syarat bagi segala macam jabatan, (3) kesanggupan, yaitu berani menjalankan had dan menghadapi peperangan serta mengerahkan rakyat untuk berperang, mengetahui hal ihwal diplomasi dan cakap bersiasat, (4) kesejahteraan indera dan anggota badan.

Abdul Kadir Audah mencatat delapan syarat seorang kepala negara, antara lain: (1) Islam, (2) pria, (3) taklif, (4) berilmu, (5) keadilan, (6) kemampuan, (7) kesehatan, (8) keturunan Qurays.

Seorang tokoh Hizbut Tahrir, Taqiyudin An-Nabhani dalam Nidlamul hukmi fil Islam membagi syarat-syarat kepala negara dalam masyarakat Islam menjadi dua kelompok, yaitu syarat yang bersifat mutlaq dan syarat yang bersifat afdhaliyah (keutamaan). Adapun syarat yang bersifat mutlaq ini, maka tidak syah kepemimpinan seorang kepala negara, apabila tidak terpenuhi salah satu syaratnya. Syarat-syarat itu meliputi:

1. Muslim

Didalam Al-Qur’an banyak kita temukan Ayat-ayat yang dengan tegas mengharamkan kaum muslimin mengangkat dan menjadikan orang-orang non muslim sebagai pemimpin mereka. Salah satu dari firman Allah tersebut adalah: “janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin), dengan meninggalkan orang-orang mukmin”. (QS. Ali Imron: 28)

2. Pria

Ketika Islam memberikan tanggungjawab berbeda, antara pria dan wanita tidak berarti Islam meninggikan yang satu dan merendahkan yang lain. Hak dan tanggung jawab itu sesungguhnya didasarkan oleh perbedaan fitrah manusia yang telah diciptakan oleh Allah secara berbeda pula. Allah dengan sifat al-alim nya, tentulah lebih mengetahui apa yang baik dan bermanfaat bagi kemaslahatan manusia dibandingkan dengan manusia itu sendiri. Maka seorang muslim akan lebih percaya kepada faliditas informasi dari Allah dan Rasul-Nya ketimbang mempercayai perasaannya sendiri, yang sering kali didasarkan pada kepentingan hawa nafsunya. Al-Qur’anul telah menegaskan:

“Kaum laki-laki itu pemimpin bagi kaum perempuan, sebagaimana Allah telah melebhkannya atas kalian” (QS. An-Nisa’: 34)

Rasulullah bersabda: “…Dan wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Abi Bakrah meriwayatkan sebuah hadits;
“Ketika sampai suatu berita kepada Rasulullah SAW bahwa Bangsa Persia telah mengangkat putri Kisra sebagai ratu, maka beliau bersabda: “Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan kekuasaan (pemerintahan) mereka kepada seorang wanita”. (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

3. Taklif

Seorang Kepala negara haruslah seorang yang memenuhi syarat taklif, artinya dapat dibebani hukum. Kriteria seorang yang dapat dibebani hukum tersebut yaitu sudah dewasa (baligh) dan berakal sehat. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah: “Telah diangkat pena (tidak dibebankan hukum) atas tiga orang, yaitu: anak kecil hingga ia aqil baligh, orang yang tidur hingga ia bangun, dan orang yang sakit gila hingga akalnya kembali” (HR. Abu Dawud)

5. Mampu

Kemampuan untuk mengemban amanah pemerintahan merupakan syarat yang tidak bisa ditinggalkan, karena disinilah sesungguhnya letak peran terpenting dari seorang kepala negara. Rasulullah bersabda: “Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (tidak memiliki kapasitas untuk mengembannya), maka tunggulah saat kehancurannya”.

6. Adil

Sikap adil merupakan salah satu sifat yang dituntut pada diri seorang kepala negara, mengingat kompleksitas permasalahan yang harus dihadapi. Tanpa sikap sifat adil, maka seorang kepala negara tidak akan dapat menyelesaikan berbagai persoalan kenegaraan dengan baik. Penegakan hukum, terciptanya kedamaian dan kesejahteraan bagi masyarakat luas tidak mungkin terwujud tanpa keadilan pemimpin.

Jika Islam mensyaratkan seorang saksi di pengadilan saja harus memiliki sifat yang adil, maka seorang kepala negara mestinya lebih dari itu.

Adapun syarat-syarat yang lain, seperti kedalaman ilmu yang menjadikan ia mampu mengambil berijtihad hukum, kesehatan fisik yang menjadikan ia mampu menjalankan tugas-tugas kenegaraan dengan baik, memiliki keberanian yang menjadikan ia mampu mengambil keputusan yang tepat dan tidak mudah didekte oleh kepentingan luar dan kemampuan berdiplomasi dan keturunan qurays, semua itu adalah bersifat afhdhaliyah. Artinya apabila diantara calon-calon yang ada tersebut disamping memiliki persyaratan yang bersifat mutlaq juga memiliki kapasitas lain untuk melengkapi kemampuan yang dibutuhkan bagi seorang kepala negara, maka itulah yang lebih baik untuk dijadikan sebagai pemimpin.

Kontributor Oleh : Ainur Rofiq

Tugas & Peran Manusia

Tugas & Peran Manusia

Manusia dengan makhluk Allah lainnya sangat berbeda, apalagi manusia memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain, salah satunya manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk penciptaan, namun kemuliaan manusia bukan terletak pada penciptaannya yang baik, tapi tergantung pada; apakah dia bisa menjalankan tugas dan peran yang telah digariskan Allah atau tidak, bila tidak, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka dengan segala kesengsaraannya, Allah Swt berfirman yang artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya (QS 95:4-6).

Paling kurang, ada tiga tugas dan peran yang harus dimainkan oleh manusia dan sebagai seorang muslim, kita bukan hanya harus mengetahuinya, tapi menjalankannya dalam kehidupan ini agar kehidupan umat manusia bisa berjalan dengan baik dan menyenangkan.

Beribadah Kepada Allah SWT

Beribadah kepada Allah Swt merupakan tugas pokok, bahkan satu-satunya tugas dalam kehidupan manusia sehingga apapun yang dilakukan oleh manusia dan sebagai apapun dia, seharusnya dijalani dalam kerangka ibadah kepada Allah Swt sebagaimana firman-Nya yang artinya: Dan Aku tidak menciptakan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku (QS 51:56).

Agar segala yang kita lakukan bisa dikategorikan ke dalam ibadah kepada Allah Swt, maka paling tidak ada tiga kriteria yang harus kita penuhi. Pertama, lakukan segala sesuatu dengan niat yang ikhlas karena Allah Swt. Keikhlasan merupakan salah satu kunci bagi diterimanya suatu amal oleh Allah Swt dan ini akan berdampak sangat positif bagi manusia yang melaksanakan suatu amal, karena meskipun apa yang harus dilaksanakannya itu berat, ia tidak merasakannya sebagai sesuatu yang berat, apalagi amal yang memang sudah ringan. Sebaliknya tanpa keikhlasan, amal yang ringan sekalipun akan terasa menjadi berat, apalagi amal yang jelas-jelas berat untuk dilaksanakan, tentu akan menjadi amal yang terasa sangat berat untuk mengamalkannya.

Kedua, lakukan segala sesuatu dengan cara yang benar, bukan membenarkan segala cara. sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah Swt dan dicontohkan oleh Rasul-Nya. Manakala seorang muslim telah menjalankan segala sesuatu sesuai dengan ketentuan Allah Swt, maka tidak ada penyimpangan-penyimpangan dalam kehidupan ini yang membuat perjalanan hidup manusia menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Ketiga, adalah lakukan segala sesuatu dengan tujuan mengharap ridha Allah Swt dan ini akan membuat manusia hanya punya satu kepentingan, yakni ridha-Nya. Bila ini yang terjadi, maka upaya menegakkan kebaikan dan kebenaran tidak akan menghadapi kesulitan, terutama kesulitan dari dalam diri para penegaknya, hal ini karena hambatan-hambatan itu seringkali terjadi karena manusia memiliki kepentingan-kepentingan lain yang justeru bertentangan dengan ridha Allah Swt.

Khalifah Allah di Muka Bumi

Nilai-nilai dan segala ketentuan yang berasal dari Allah Swt harus ditegakkan dalam kehidupan di dunia ini. Untuk menegakkannya, maka manusia diperankan oleh Allah Swt sebagai khalifah (wakil) Allah di muka bumi ini untuk menegakkan syariat-syariat-Nya, Allah Swt berfirman yang artinya: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi (QS 2:30).

Untuk bisa menjalankan fungsi khalifah, maka manusia harus menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan serta menyiarkan kebaikan dan kemaslahatan, ini merupakan perkara yang sangat mendasar untuk bisa diterapkan dan tanpa kebenaran, keadilan serta kebaikan dan kemaslahatan, tidak mungkin tatanan kehidupan umat manusia bisa diwujudkan, karenanya ini menjadi persyaratan utama bagi manusia untuk menjalankan fungsi khalifah pada dirinya, Allah Swt berfirman yang artinya: Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikajn kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan (QS shad:26).

Untuk bisa memperoleh kehidupan yang baik di dunia ini, salah satu yang menjadi penopang utamanya adalah penegakkan hukum secara adil sehingga siapapun yang bersalah akan dikenai hukuman sesuai dengan tingkat kesalahannya, karenanya hal ini merupakan sesuatu yang sangat ditekankan oleh Allah Swt kepada manusia sebagaimana terdapat dalam firman-Nya yang artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS 4:58).

Mengingat keadilan begitu penting bagi upaya mewujudkan kehidupan yang baik, kerharusan berlaku adil tetap ditegakkan meskipun kepada orang yang kita benci sehingga jangan sampai karena kebencian kita kepadanya, keadilan yang semestinya ia nikmati tidak bisa mereka peroleh. Manakala keadilan bisa ditegakkan, maka masyarakat yang bertaqwa kepada Allah Swt cepat atau lambat akan terwujud, Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS 5:8).

Membangun Peradaban

Kehidupan dan martabat manusia sangat berbeda dengan binatang. Binatang tidak memiliki peradaban sehingga betapa rendah derajat binatang itu. Adapun manusia, dicipta oleh Allah Swt untuk membangun dan menegakkan peradaban yang mulia, karenanya Allah Swt menetapkan manusia sebagai pemakmur bumi ini, Allah berfirman yang artinya: Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya (QS 11:61).

Untuk bisa membangun kehidupan yang beradab, ada lima pondasi masyarakat beradab yang harus diwujudkan dan diperjuangan pelestariannya, yaitu: Pertama, nilai-nilai agama Islam yang datang dari Allah Swt, Kedua, akal yang merupakan potensi besar untuk berpikir dan merenungkan segala sesuatu. Ketiga, harta yang harus dicari secara halal dan bukan menghalalkan segala cara. Keempat, kehormatan manusia dengan akhlaknya yang mulia yang harus dijaga dan dilestarikan. Dan Kelima, keturunan atau nasab manusia yang harus jelas sehingga dalam masalah hubungan seksual misalnya, manusia tidak akan melakukannya kepada sembarang orang.

Manakala manusia tidak mampu membangun peradaban sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah Swt, maka martabat manusia akan menjadi lebih rendah dari binatang, hal ini karena manusia bukan hanya memiliki potensi fisik yang sempuna dibanding binatang, juga manusia punya botensi berpikir dan mendapat bimbingan berupa wahyu dari Allah Swt yang diturunkan kepada para Nabi. Dalam kaitan kemungkinan manusia menjadi lebih rendah atau lebih sesat dari binatang, bahkan binatang ternak dikemukakan oleh Allah Swt dalam firman-Nya yang artinya: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS 7:179).

Dari keterangan di atas menjadi jelas bagi kita bahwa kemuliaan manusia sangat tergantung pada, apakah ia bisa menjalankan tugas dan perannya dengan baik atau tidak, bila tidak, maka kemuliaannya sebagai manusia akan jatuh ke derajat yang serendah-rendah dan ia akan kembali kepada Allah dengan kehinaan yang sangat memalukan dan di akhirat, ia menjadi hamba Allah yang mengalami kerugiaan yang tidak terbayangkan.

Kontributor Oleh : Drs. H. Ahmad Yani

Tiga Sumpah Nabi

Tiga Sumpah Nabi

Sumpah biasanya digunakan untuk menunjukkan atau mengemukakan kebenaran yang sesungguhnya. Dengan sumpah, mestinya kita menjadi yakin dan tidak ragu sedikitpun terhadap kebenaran yang dimaksudkan di dalam sumpah itu. Untuk meyakinkan dan menarik perhatian kita tentang suatu persoalan yang sangat penting, Allah Swt di dalam Al-Qur’an juga bersumpah dengan menyebut sesuatu.

Di dalam hadits, ternyata terdapat juga sumpah Nabi Muhammad Saw sehingga apa yang menjadi sumpahnya itu sangat penting untuk kita perhatikan agar kita semakin yakin. “Tiga hal yang aku bersumpah atas ketiganya: tidak berkurang harta karena shadaqah, tidak teraniaya seorang hamba dengan aniaya yang ia sabar atasnya melainkan Allah Azza Wa Jalla menambahinya kemuliaan dan tidak membuka seorang hamba pintu permintaan melainkan Allah membuka atasnya pintu kefakiran” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah) *) Al Jamiush Shagier Jil-2, hal. 392.

1. Harta Tidak Berkurang Karena Shadaqah.

Salah satu keharusan kita sebagai muslim dalam kaitan dengan harta adalah menunaikan zakat, infak dan shadaqah (ZIS). Namun tidak sedikit orang yang meskipun sudah mengaku muslim tapi masih tidak mau menunaikan keharusannya itu.

Diantara mereka ada yang khawatir bila ZIS itu ditunaikan hartanya akan berkurang, bahkan bisa jadi ia menjadi miskin. Kekhawatiran itu merupakan sesuatu yang tidak beralasan, hal ini karena Rasulullah Saw memberikan jaminan bahwa bila seseorang menunaikan shadaqah, maka hartanya justeru akan bertambah. Memang pada saat ia keluarkan uang atau hartanya untuk shadaqah, hartanya memang akan berkurang, tapi dari dampak atau pengaruh positifnya ia akan memperoleh tambahan, baik dalam bentuk jumlah maupun nilai dari harta itu sendiri.

Dalam bentuk jumlah, harta yang dishadaqahkan mungkin saja bertambah, misalnya ia berdagang, setelah keuntungannya besar ia bershadaqah, maka orang yang diberinya shadaqah itu mendo’akan agar hartanya bertambah banyak dan do’a itupun dikabulkan oleh Allah Swt sehingga perdagangannya semakin laris sehingga semakin banyak yang bisa dijual.

Adapun nilai yang besar, ini nampak dari keutamaan yang sedemikian besar yang diberikan Allah Swt kepada orang yang membelanjakan hartanya di jalan yang benar, Allah Swt berfirman: Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir. Pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) dan Maha Mengetahui (QS 2:261).

2. Penganiayaan Membawa Kemuliaan

Ada banyak contoh tentang orang yang dianiaya, manakala mereka tetap sabar dan istiqomah dalam mempertahankan kebenaran yang diyakininya akan membawa pada kemuliaan dirinya dan si penganiaya yang merasa sebagai orang yang jauh lebih mulia menjadi manusia dengan segala kerendahan martabat kepribadian yang disandangkan kepadanya. Nabi Ibrahim AS yang ketika itu masih muda belia mengalami penganiayaan dari Raja Namruz hingga Ibrahim dibakar, lalu ditolong oleh Allah Swt, hal ini bukan membawa kehinaan bagi Nabi Ibrahim tapi malah menjadikannya orang yang mulia hingga pengikutnya bertambah banyak.

Kaum muslimin di Makkah pada masa Rasulullah Saw juga mengalami penganiayaan dari orang-orang kafir, mereka diboikot, dibunuh, disiksa hingga terusir dari kota kelahiran mereka. Namun hal itu tidak membuat Rasulullah dengan para sahabatnya menjadi hina, tapi justru membawa kemuliaan. Ketika para sahabat berhijrah ke Habasyah, mereka mendapatkan perlindungan atau suaka dari Raja Najasi yang beragama Nasrani hingga akhirnya sang raja masuk ke dalam Islam, sedangkan Rasulullah bersama para sahabat lainnya berhijrah ke Madinah yang kemudian berhasil menyatukan kaum kaum muslimin dari Makkah dan Madinah hingga menghasilkan kekuatan umat yang disegani.

Di Mesir, para aktivis dakwah pernah mengalami penganiyaan dari penguasa Mesir yang zalim pada waktu itu, penganiayaan dimaksudkan untuk menghambat dan menghentikan langkah-langkah dakwah, tapi gerakan dakwah justru semakin tersebar luas hingga ke berbagai negara di dunia, karena para aktivis dakwah yang dipenjara menghasilkan karya tulis yang gemilang seperti Sayyid Quthb dengan Fi Dzilalil Qur’an, terbunuhnya Hasan Al Banna menarik simpati dan pengusiran para akltivis dakwah membuat mereka bisa berdakwah ke berbagai negara.

Oleh karena itu, para pejuang kebenaran Islam tidak boleh takut menghadapi segala tantangan dan berbagai kendala, karena hal itu pasti ada saatnya berlalu dan bila para pejuang menghadapi segala tantangan dan kendala dengan sikap istiqomah, maka mereka akan menjadi orang-orang yang mulia, begitulah yang terjadi pada Bilal bin Rabah, sahabat Nabi yang budak lalu dibebaskan oleh Abu Bakar Ash Shiddik karena istiqomahnya dalam mempertahankan nilai-nilai tauhid, begitu juga dengan sahabat Abdullah bin Huzafah yang disambut dengan kemuliaan oleh Khalifah Umar bin Khattab karena ia istiqomah dalam menghadapi penganiayaan yang dilakukan oleh raja Romawi yang kejam.

3. Mengemis Bertambah Fakir.

Seorang muslim sangat dituntut untuk mencari rizki secara halal dan terhormat guna memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Karena itu, dalam pandangan Islam bekerja untuk mendapatkan nafkah secara halal merupakan sesuatu yang sangat mulia meskipun jenis pekerjaannya berat secara fisik dan pendapatan dari situpun tidak besar.

Adapun mencari harta dengan cara mengemis merupakan cara yang tidak terhormat meskipun banyak harta yang diperolehnya, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar, lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik daripada seorang yang meminta minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, Rasulullah Saw menilai bahwa orang yang kaya itu tidak semata-mata dengan sebab hartanya yang banyak, hal ini karena meskipun jumlah hartanya banyak, namun jika ia tidak pandai bersyukur atas harta yang sudah diperolehnya itu, apalagi dengan hartanya yang banyak ia tidak bermartabat, tetaplah ia dipandang sebagai orang miskin, apalagi bila harta yang dimilikinya dicari dengan cara mengemis yang bila dengan waktunya yang tersedia ia bekerja atau berusaha dengan baik, disamping lebih terhormat, ia akan memperoleh harta yang lebih banyak dengan jiwa yang menyenangkan, Rasulullah Saw bersabda: Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa (HR. Abu Ya’la).

Disamping itu, sumpah Nabi ini menjadi benar karena biasanya semakin lama beban hidup seseorang semakin besar, dan ia akan mampu menutupi kebutuhannya itu dengan berusaha yang halal dan terhormat, namun bila dari mengemis ia tidak memperoleh dalam jumlah yang cukup sehingga disatu sisi kebutuhannya semakin besar, sedang pendapatannya tetap seperti semula, maka jadilah ia bertambah fakir. Karena itu, tidak sedikit orang yang semula mengemis akhirnya menjadi pencuri, karena ia merasa tidak cukup dari hasil mengemis itu, bukankah ini membuat ia bertambah miskin secara ekonomi dan bertambah rendah martabatnya sebagai manusia.

Demikianlah tiga sumpah Nabi Muhammad Saw yang benar adanya sehingga harus mendapat perhatian kita agar kehidupan ini dapat kita jalani dengan sebaik-baiknya.

Kontributor Oleh : Drs. H. Ahmad Yani (ayani@indosat.net.id)

Tiga Kenikmatan Hidup

Tiga Kenikmatan Hidup

Setiap manusia, apalagi sebagai muslim kita tentu mendambakan kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, bahkan kalau perlu seolah-olah dunia ini menjadi milik kita. Untuk bisa merasakan kehikmatan hidup di dunia ini, ada tiga perkara yang harus dicapai oleh seorang muslim, hal ini disebutkan dalam hadits Nabi:

Barangsiapa yang di pagi hari sehat badannya, tenang jiwanya dan dia mempunyai makanan di hari itu, maka seolah-olah dunia ini dikaruniakan kepadanya (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Untuk memahami lebih dalam tentang apa yang dimaksud oleh Rasulullah Saw, hadits di atas perlu kita pahami dengan baik.

Nadam Sehat

Badan yang sehat merupakan suatu kenikmatan tersendiri bagi manusia yang tidak ternilai harganya, rasanya tidak ada artinya segala sesuatu yang kita miliki bila kita tidak memiliki kesehatan jasmani. Apa artinya harta yang berlimpah dengan mobil yang mahal harganya, rumah yang besar dan bagus, kedudukan yang tinggi dan segala sesuatu yang sebenarnya menyenangkan untuk hidup di dunia ini bila kita tidak sehat. Oleh karena kesehatan bukan hanya harus dibanggakan dihadapan orang lain, tapi yang lebih penting lagi adalah harus disyukuri kepada yang menganugerahkannya, yakni Allah Swt.

Kesehatan badan bisa diraih dengan mencegah dari segala penyakit yang akan menyerang tubuh dan mengatur segala keseimbangan yang diperlukannya. Oleh karena itu tubuh manusia punya hak-hak yang harus dipenuhi, diantara hak-hak itu adalah bersihkan jasmani bila kotor, makan bila lapar, minum bila haus, istirahat bila lelah, lindungi dari panas dan dingin, obati bila terserang penyakit, dll. Ini merupakan salah satu bentuk dari rasa syukur kepada Allah yang harus kita tunjukkan. Bentuk syukur yang lain adalah memanfaatkan kesehatan jasmani dengan segala kesegaran dan kekuatannya untuk melakukan berbagai aktivitas yang menggambarkan pengabdian kita kepada Allah Swt.

Namun yang amat disayangkan dan ini diingatkan betul oleh Rasulullah Saw adalah banyak manusia yang lupa dengan kondisi kesehatannya. Saat sehat ia tidak mencegah kemungkinan datangnya penyakit, tidak memenuhi hak-hak jasmani dan tidak menggunakan kesehatannya itu untuk melakukan aktivitas pengabdian kepada Allah sehingga pada saat sakit, barulah ia menyesal dengan penyesalan yang sangat dalam, Rasulullah Saw bersabda:

Ada dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang (HR. Bukhari).

Jiwa Yang Tenang

Hal yang tidak kalah pentingnya dari badan yang sehat adalah jiwa yang tenang, sebab apa artinya manusia memiliki jiwa yang sehat bila jiwanya tidak tenang, bahkan badan yang sakit sekalipun tidak menjadi persoalan yang terlalu memberatkan bila dihadapi dengan jiwa yang tenang, apalagi ketenangan jiwa bila menjadi modal yang besar untuk bisa sembuh dari berbagai penyakit.

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu berorientasi kepada Allah Swt, karena itu, orang yang ingin meraih ketenangan hidup dijalani kehidupan dengan segala aktivitasnya karena Allah, dengan ketentuan yang telah digariskan Allah dan untuk meraih ridha dari Allah Swt. Dengan demikian, sumber ketenangan hidup bagi seorang muslim adalah keimanan kepada Allah Swt dan ia selalu berdzikir kepada Allah dengan segala aplikasinya, Allah Swt berfirman yang artinya: Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram (tenang) dengan mengingat Allah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenang (QS 13:28).

Oleh karena itu, keimanan kepada Allah yang merupakan sumber ketenangan akan membuat seorang muslim merasa senang untuk mendapatkan beban-beban berat dan tidak ada kegelisahan sedikitpun di dalam hatinya dalam menjalankan tugas-tugas yang berat itu. Abu Na’im dan Ibnu Hibban meriwayatkan bahwa para sahabat Nabi bahu-membahu membawa satu persatu batu bata yang besar untuk membangun masjid. Tapi Ammar bin Yasir justeru membawa dua tumpukan batu bata besar. Ketika Nabi melihatnya, beliau membersihkan debu dari kepala Ammar sambil bersabda: “Wahai Ammar, tidakkah cukup bagimu untuk membawa seperti yang dilakukan para sahabatmu?”. Ammar menjawab: “Saya mengharapkan pahala dari Allah”. Lalu Nabi bersabda: “Sesungguhnya Ammar memiliki keimanan yang penuh dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya atau tulangnya”.

Disamping itu, seandainya kematian akan menjemput dirinya, keimanan kepada Allah dengan segala aplikasinya tidak akan membuat seorang muslim takut kepada mati, bahkan ia akan sambut kematian itu dengan jiwa yang tenang, Allahpun memanggilnya dengan panggilan yang menyenangkan: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS 89:27-30).

Dengan demikian, jiwa yang tenang membuat kehidupan manusia bisa dijalani dengan sebai-baiknya dan memberi manfaat yang besar, tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi orang lain, sedangkan kematiannya justeru akan menjadi kenangan manis bagi orang yang hidup dan ia akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki dengan masuk ke dalam surga dengan segala kenikmatan yang tiada terbayangkan.

Makanan Yang Cukup

Makanan, termasuk di dalamnya adalah minuman merupakan kebutuhan yang sangat pokok dalam kehidupan manusia. Kesehatan manusia tidak bisa dipertahankan bila ia tidak makan dan tidak minum, bahkan tidak sedikit orang yang semula memiliki kekuatan iman tidak bisa lagi dipertahankan keimanannya karena lapar, sedangkan bila situasinya sangat darurat, seorang muslimpun terpaksa harus memakan sesuatu yang pada dasarnya haram untuk dimakan, namun apakah seorang muslim bisa untuk berlama-lama dalam situasi darurat?.

Oleh karena itu, memiliki makanan yang cukup atau perekonomian yang memadai merupakan suatu kenikmatan tersendiri dalam hidup ini, sedangkan bila kondisi kehidupan seseorang dalam keadaan lapar, dan ia tidur dalam keadaan yang demikian, maka hal itu merupakan sesuatu yang sangat jelek, karenanya Rasulullah Saw selalu berdo’a sebagaimana terdapat dalam hadits:

Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari lapar, karena ia adalah teman tidur yang paling jelek (HR. Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan, seorang muslim sangat dituntut untuk mencari nafkah, baik untuk diri maupun keluarganya, apalagi bila ia bisa membantu orang lain seperti anak yatim, fakir miskin dan sebagainya. Itu sebabnya, orang yang mencari nafkah secara halal dan terhormat (bukan dengan cara mengemis atau meminta-minta) sangat dimuliakan oleh Allah Swt. Karenanya setiap muslim harus bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah guna memenuhi kebutuhannya. Bila sudah terpenuhi dan selalu bisa dipenuhi kebutuhan nafkah diri dan keluarganya, maka hal ini merupakan suatu kenikmatan dalam kehidupan dan iman bila dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya pada masa-masa mendatang. Paling tidak, salah satu faktor yang membuat seseorang bisa menjadi kufur telah teratasi.

Demikian tiga faktor penting yang membuat manusia bisa dikatakan memperoleh kenikmatan dalam hidupnya di dunia yang sangat berpengaruh pada upaya memperoleh kenikmatan di akhirat kelak.

Kontributor Oleh : Drs. H. Ahmad Yani

Tiga Jalan Menuju Surga Allah SWT

Tiga Jalan Menuju Surga Allah SWT

Dari Abdullah bin Salam ra, Rasulullah SAW.bersabda: “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makan (kepada orang yang membutuhkannya), dan shalatlah kalian di saat manusia tertidur dikegelapan malam, maka kalian akan masuk surga dengan selamat”. (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Darimi)

Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW menginformasikan kepada kita tiga jalan menuju surganya Allah SWT dengan selamat. Ketiga hal tersebut adalah :

1. Menyebarkan Salam

Memberikan atau mengucapkan salam merupakan salah satu syi’ar Islam dan juga sunnah Rasulullah SAW. Bahkan dalam salah satu haditsnya beliau menggambarkan bahwa salam merupakan cara paling efektif untuk menumbuhkan rasa ukhuwwah Islamiyah dan cinta sesama muslim. Dan ternyata di samping segala keutamaannya, menyebarkan salam juga dapat mengantarkan seseorang pada pintu surga yang senantiasa menjadi idaman setiap orang yang beriman. Mengucapkan salam juga dapat menghilangkan rasa ‘ketidaksukaan’ seorang muslim terhadap muslim lainnya. Mengucapkan salam juga bisa mengobati rasa rindu seorang muslim terhadap muslim yang lainnya. Mengucapkan salam juga dapat mengantarkan sebuah masyarakat menjadi masyarakat Islami, mengantarkan sebuah bangsa menjadi bangsa yang madani. Karena salam juga berarti perdamaian dan kesejahteraan.

2. Memberi Makan kepada yang Membutuhkan

Memberikan makan merupakan gambaran yang baik tentang ciri masyarakat yang islami. Di mana setiap anggota masyarakat saling memiliki rasa keterikatan dan persaudaraan, sehingga setiap orang tidak rela manakala ada saudara atautetangganya kelaparan dan kesusahan. Memberi makan ini tidak harus berupa makanan.Namun dapat juga berupa bantuan lain berupa pertolongan, bantuan keuangan, dsb. Memberi makan ini juga implikasi dari sunnah Rasulullah SAW. yang lainnya yaitu “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” Dan insya Allah orang yang suka memberi, Allah akan gantikan dengan yang lebih baik lagi, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

3. Shalat di Keheningan Malam

Hal ketiga yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. agar seseorang dapat mencapai gerbang surga dengan selamat adalah shalat dikeheningan malam. Shalat dikeheningan malam, terutama di saat-saat manusia sedang terlelap dengan mimpinya, merupakan gambaran nyata kecintaan seorang hamba terhadap Allah SWT. Saat-saat tengah malam merupakan saat-saat yang paling berat untuk meninggalkan tempat tidur menuju tempat wudhu guna mensucikan jiwa menghadap Allah SWT. Dan saat-saat seperti inilah waktu yang paling efektif untuk mengisi ruhiyyah dengan pancaran keimanan dari Allah SWT. Bahkan begitu berharganya waktu seperti ini, salah seorang ulama mengistilahkannya dengan Ad-Daqoiq al-Gholiyah ( detik-detik yang sangat mahal ). Karena di saat inilah, Allah membuka lebar-lebar para hamba yang memohon kepada-Nya. Wallahu a’lam bis Showab

[djulkarnain@davids.co.id ]

Penilaian

nuryati yati: yati_yati17@yahoo.com
Assalamu’alaikum..masya Alloh begitu membaca artikel ini memang sangat yang ketiga hal ini sering kita terlupa kita jalani di kehidupan kita, mungkin hal yang termudah adalah no 1 memberi salam, namun dilingkungan yang serba kota saat ini orang-orang tak lagi mengenal tetangganya boro2 untuk salam , bertatap muka jika ketemu enggan sekali tuk menoleh, yah..semua itu memang hal yang sunggu manusia sulit dilakukan karena manusia sekarang lebih cinta hal yang praktik dan simple.semoga dengan adanya artikel di web ini semakin membawa kita kembali sadar dan tak berpaling kepada jalan yang diridhoi Alloh untuk menuju syurga-Nya..amin

Purwanti Pur: pwantimdn@yahoo.com
Assalamu’alaikum wr wb… artikel ini begitu menyentuh hati kita.. kita sering makan-makan enak, bahkan sering makan di restoran yang mahal-mahal.. padahal kalau kita lihat, banyak orang-orang yang kelaparan, ayng membutuhkan uluran tangan kita. Ketika ada orang datang ke rumah kita untuk minta sedekah buat makan, sering pintu rumah kita langsung kita tutup.. Dengan artikel ini, semoga kita sadar.. ternyata salah satu cara masuk serga dengan selamat yaitu dengan memberikan makan kepada orang yang membutuhkan. Wassalamu’alaikum wr wb

Kontributor Oleh : Djulkarnain