Jasa Jual Beli Properti/rmh/tanah Hukumnya Apa?

 

Jasa Jual Beli Properti/rmh/tanah Hukumnya Apa?

assalamualikum

bagaimanakah hukum secara islam jasa jual beli properti. misal A punya rmh yang hendak dijual. B adalah broker suatu usaha jasa jual beli properti. dimana B akan mencari pembeli. dan B memperoleh Komisi dari hasil jual beli rmh tsb. halalkah komisi yang diterima B.

wassalam

Abdul Aziz – Surabaya

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Apa yang dilakukan oleh B itu diistilahkan dalam fiqih sebagai samsarah. Dan pelakunya disebut simsar. Artinya adalah perantara, broker atau orang yang berjasa untuk menjualkan sesuatu kepada pihak lain dan mendapatkan imbalan atas jasanya itu.

Hukum simsarah dalam Islam pada dasarnya adalah halal, selama dia melakukannya dengan etika dan ketentuan yang dibenarkan syariat Islam. Praktek seperti itu dibenarkan dalam Islam karena akadnya jelas dan saling menguntungkan serta tidak ada pihak yang dizalimi.

Samsarah sendiri sudah dipraktekkan di masa Rasulullah SAW dan juga para shahabat. Ibnu Abbas, salah seorang shahabat Rasulullah SAW mengatakan bahwa boleh hukumnya seorang menyuruh orang lain untuk menjualkan pakaian, “Jualkanlah baju ini, kalau ada lebihnya (dari harga yang aku tetapkan), maka lebihnya itu untuk kamu”.

Ibnu Sirin juga mengatakan boleh hukumnya seseorang berkata, ”Jualkanlah barangku ini dengan harga sekian, tapi kalau kamu bisa mendapat harga lebih dari itu, ambillah sebagai keuntunganmu”.

Imam Al-bukhari menyebutkan bahwa ‘Athi, Ibrahim dan Al-Hasan pun membolehkan praktek simsarah ini. Yang penting dasarnya adalah kesepakatan antara pemilik barang dengan yang menjualkannya. Sabda Rasulullah SAW :

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Orang Islam itu terikat pada syarat (perjanjian) yang disepakatinya”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

 

Hukum Berjualan Patung

 

Muamalah
Hukum Berjualan Patung

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Kalo saya membantu menjual patung batu atau patung kayu, bagaimana hukumnya (saya dapat keuntungan dari setiap patung yang terjual)? Patung tersebut tidak ada di tempat saya, saya hanya menjual virtual/lewat internet, promosi dengan pamflet). Terima kasih atas jawaban ustadz.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Arry – Jakarta

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

Boleh tidaknya anda melakukan apa yang anda tanyakan sebenarnya kembali kepada hukum patung itu sendiri dalam hukum Islam. Di dalam hadis disebutkan, bahwa Jibril a.s. tidak mau masuk rumah Rasulullah s.a.w. karena di pintu rumahnya ada sebuah patung. Hari berikutnya pun tidak mau masuk, sehingga ia mengatakan kepada Nabi Muhammad:

“Perintahkanlah supaya memotong kepala patung itu. Maka dipotonglah dia sehingga menjadi seperti keadaan pohon.” (Riwayat Abu Daud, Nasai, Tarmizi dan Ibnu Hibban)

Dari hadis ini segolongan ulama ada yang berpendapat diharamkannya patung apabila dalam keadaan sempurna, tetapi kalau salah satu anggotanya itu tidak ada yang kiranya tanpa anggota tersebut tidak mungkin dapat hidup, maka membuat patung seperti itu hukumnya mubah.

Tetapi menurut tinjauan yang benar berdasar permintaan Jibril untuk memotong kepala patung sehingga menjadi seperti keadaan pohon, bahwa yang mu’tabar (diakui) di sini bukan karena tidak berpengaruhnya sesuatu anggota yang kurang itu terhadap hidupnya patung tersebut, atau patung itu pasti akan mati jika tanpa anggota tersebut. Namun yang jelas, patung tersebut harus dicacat supaya tidak terjadi suatu kemungkinan untuk diagungkannya setelah anggotanya tidak ada.

Cuma suatu hal yang tidak diragukan lagi, jika direnungkan dan kita insafi, bahwa patung separuh badan yang dibangun di kota guna mengabadikan para raja dan orang-orang besar, haramnya lebih tegas daripada patung kecil satu badan penuh yang hanya sekedar untuk hiasan rumah.

Termasuk patung yang diharamkan, yaitu gambar/lukisan yang dikuduskan (disucikan) oleh pemiliknya secara keagamaan atau diagung-agungkan secara keduniaan.

Seperti patung malaikat, nabi-nabi, misalnya Nabi Ibrahim, Ishak, Musa dan sebagainya. Patung-patung itu biasa dikuduskan oleh orang-orang Nasrani, dan kemudian sementara orang-orang Islam ada yang menirunya, yaitu dengan melukiskan Ali, Fatimah dan lain-lain.

Juga patung-patung dewa, raja, pemimpin dan seniman. Ini dosanya tidak seberapa kalau dibandingkan dengan yang pertama tadi. Tetapi akan meningkat dosanya, apabila yang dilukis itu orang-orang kafir, orang-orang yang zalim atau orang-orang yang fasik. Misalnya para pemimpin kafir yang menghukum dengan selain hukum Allah, para pemimpin yang mengajak umat untuk berpegang kepada selain agama Allah atau seniman-seniman yang mengagung-agungkan kebatilan dan menyiar-nyiarkan kecabulan di kalangan umat.

Kebanyakan patung dan gambar di zaman Nabi dan sesudahnya adalah lukisan-lukisan yang disucikan dan diagung-agungkan. Sebab pada umumnya lukisan-lukisan itu adalah buatan Rum dan Parsi (Nasrani dan Majusi). Oleh karena itu tidak dapat melepaskan pengaruhnya terhadap pengkultusan kepada pemimpin-pemimpin agama dan negara.

Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Abu Dhuha pernah berkata sebagai berikut: Saya dan Masruq berada di sebuah rumah yang di situ ada beberapa patung. Kemudian Masruq berkata kepadaku: Apakah ini patung Kaisar? Saya jawab: Tidak! Ini adalah patung Maryam.

Masruq bertanya demikian, karena menurut anggapannya, bahwa lukisan itu buatan orang Majusi yang biasa melukis raja-raja mereka di bejana-bejana. Tetapi akhirnya ketahuan, bahwa patung tersebut adalah buatan orang Nasrani.

Dalam kisah ini Masruq kemudian berkata: Saya pernah mendengar Ibnu Mas’ud menceriterakan apa yang ia dengar dari Nabi s.a.w., bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di sisi Allah, ialah para perupa.”

Selain patung di atas, yaitu misalnya dia menggambar/melukis makhluk-makhluk yang tidak bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, laut, gunung, matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Maka hal ini sedikitpun tidak berdosa dan tidak ada pertentangan sama sekali di kalangan para ulama.

Dan bila demikian hukum patung, maka haramlah memperjual belikannya, membuatnya atau mengambil keuntungan dari bisnisnya. Kecuali bila benda itu tidak masuk dalam kategori patung, seperti boneka, mainan, robot, alat peraga berbentuk tubuh manusia yang digunakan oleh dunia pendidikan, kedokteran, dan sejenisnya. Sebab alat-alat ini memang bukan patung dalam makna dan esensi.

Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.

 

 

Dititipi Beli Barang, Bolehkah Harga Di-Markup

 

Dititipi Beli Barang, Bolehkah Harga Di-Markup

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya ingin bertanya tentang berjual-beli. Bagaimana hukumnya, bila kita dititipi seseorang untuk membelikan sesuatu, lalu kita sampaikan harga barang tersebut lebih tinggi daripada harga yang sebenarnya, dengan maksud agar kita mendapat keuntungan. Hanya itu yang ingin saya tanyakan, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Anhar Ahmad

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du

Boleh tidaknya akan sangat tergantung pada posisi anda dalam transaksi itu. Bila posisi anda sebagai semata-mata orang yang diamanahi untuk membeli suatu barang, maka anda harus jujur dalam masalah harga. Anda tidak bisa mengambil keuntungan begitu saja dengan memark-up harga karena anda hanya orang yang dititipi.

Namun kalau posisi anda adalah bagian dari pihak penjual dan sudah ada semacam kesepakatan antara anda dengan penjual di mana anda akan mendapatkan upah atas terjualnya barang milik penjual, maka apa yang anda lakukan adalah sebagai simsar atau perantara. Simsar adalah orang yang membantu menjaulkan barang kepada orang lain dimana dia berhak mendapatkan bagian dari hasil penjualan itu.

Praktek seperti itu dibenarkan dalam Islam karena akadnya jelas dan saling menguntungkan serta tidak ada pihak yang dizalimi. Samsarah sendiri sudah dipraktekkan di masa Rasulullah SAW dan juga para shahabat. Ibnu Abbas, salah seorang shahabat Rasulullah SAW mengatakan bahwa boleh hukumnya seorang menyuruh orang lain untuk menjualkan pakaian, “Jualkanlah baju ini, kalau ada lebihnya (dari harga yang aku tetapkan), maka lebihnya itu untuk kamu.”

Ibnu Sirin juga mengatakan boleh hukumnya seseorang berkata, ”Jualkanlah barangku ini dengan harga sekian, tapi kalau kamu bisa mendapat harga lebih dari itu, ambillah sebagai keuntunganmu”.

Imam Al-bukhari menyebutkan bahwa ‘Athi, Ibrahim dan Al-Hasan pun membolehkan praktek simsarah ini. Yang penting dasarnya adalah kesepakatan antara pemilik barang dengan yang menjualkannya. Sabda Rasulullah SAW: Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Orang Islam itu terikat pada syarat (perjanjian) yang disepakatinya”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).

Maka dalam jenis akad kedua ini, anda tidak bertindak sebagai orang yang diamanahi untuk membeli barang, melainkan sebagai orang yang mewakili penjual barang untuk membantu menjualkannya. Bila demikian, maka anda berhak mendapatkan keuntungan dari hasil transaksi itu.

Wallahu a’lam bishshawab,
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.

 

 

Apa Boleh Menerima Imbalan Dari Pinjaman

Apa Boleh Menerima Imbalan Dari Pinjaman

Pak Ustadz, Saya meminjamkan uang ke teman saya tanpa bunga, tapi teman saya itu ingin memberikan imbalan kemudian saya katakan terserah karena dia memaksa. Apakah halal bila saya menerima imbalan tersebut.

Nurhasanah – Jakarta

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Bila yang dipinjamkan itu bukan berupa uang melainkan benda-benda seperti kendaraan, rumah, perkakas dan lainya, maka Anda boleh menerima imbalan. Dan transaksi itu namanya adalah sewa.

Sedangkan uang tidak boleh disewakan atau dipinjamkan dengan imbalan. Imbalan atas pemimjaman uang adalah riba yang diharamkan Allah SWT. Sebab praktek inilah yang dahulu dilakukan oleh arab Mekkah sebagai pelaku bisnis. Mereka seringkali meminjamkan modal kepada para pedagang yang ingin berniaga. Dengan perjanjian uang itu harus dikembalikan plus imbalannya.

Sebailknya, ketika Rasulullah SAW berdagang dengan Khadijah, beliau menerapkan sistem bagi hasil, bukan imbalan atas sewa uang.

Bila kondisi Anda memang tidak berniat meminjamkan uang dengan imbalan, sebaiknya Anda tolak saja pemberian imbalan itu. Agar tidak ditafsirkan sebagai imbalan atas jasa penyewaan uang. Tetapi kalau pemberian itu bisa dijamin sama sekali tidak terkait dengan uang yang pernah Anda pinjamkan, pastikan sekali lagi tidak ada keterkaitannya. Dan pemberian hadiah secara umum hukumnya halal.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.