Bolehkah ‘Sewa Jual’ Motor?

Bolehkah ‘Sewa Jual’ Motor?

Assalamualaikum Wr.Wb.

Saya ingin bertanya kepada pak ustadz tentang sewa jual motor. Saya dengan tidak sengaja menawarkan kepada langganan ojeg motor untuk antar jemput sekolah anak saya. Si pengojek saya tanya, berapa setoran motor untuk si pemilik per hari untuk motor lama? Dan berapa untuk motor baru? Jawabannya yaitu Rp 15.000,- untuk motor lama dan Rp 20.000,- untuk motor baru dan motor lama masih menjadi hak si pemilik.

Atas dasar tersebut, saya merasa kasihan dan berusaha untuk membantu si penyewa atau tukang ojeg tersebut dengan menawarkan hal-hal sebagai berikut:

1. Bagaimana seandainya bapak saya belikan motor lama seharga 7 juta rupiah dan membayar sewa kepada saya per hari sebesar 15 ribu?

2. Jika sampai waktu 3 tahun (3 x 365 hari) maka motor tersebut menjadi hak milik penyewa.

Si penyewa setuju karena dianggap menguntungkan dan dia akan memperoleh motor tersebut dengan cara ini. Dan kami menanda-tangani perjanjian yang kami sebut SEWA JUAL MOTOR tanpa uang muka.

Pertanyaan saya, apakah hal ini diperbolehkan dalam hukum jual beli menurut hukum Islam?

Mohon penjelasannya.

Wassalam

D. Sutopo

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du

Transaksi yang pertama yaitu antara pengojek dengan pemilik motor hukumnya dibolehkan dalam Islam. Dan transaksi kedua antara anda dengan tukang ojek itu pun boleh, bahkan lebih boleh lagi.

Sebab pada transaksi yang pertama yang terjadi adalah hukum sewa menyewa. Tukang ojek menyewa motor lama dengan harga Rp 15.000 sehari atau motor baru Rp 20.000 sehari. Sepenuhnya transaksi ini adalah hukum sewa menyewa. Sehingga apakah tukang ojek itu dapat uang atau tidak, untung atau tidak, tidak ada kaitannya dengan masalah sewa menyewa. Sewa menyewa juga tidak ada kaitannya dengan jual beli yang akan memindahkan kepemilikian motor.

Memang kalau dilihat dari sudut pandang tukang ojek, sewa menyewa ini kurang menguntungkan. Sebab kalau tidak dapat penumpang, maka dia tetap harus bayar sewa. Namun sewa menyewa ini bila merupakan pilihan baginya, hukumnya syah dan dibenarkan dalam Islam.

Sedangkan transaksi yang anda tawarkan itu pada hakikatnya adalah akad jual beli, bukan sewa menyewa, meski sekilas seperti sewa menyewa. Intinya anda menjual motor lama kepada tukang ojeg dengan harga Rp 15.000 x 365 x 3 = Rp 16.425.500,-. Dalam hal ini anda lumayan untung yaitu sebesar Rp 9.425.000,- karena harga motor lama hanya Rp 7.000.000,- saja. Meskipun keuntungan itu baru terkumpul selama tiga tahun. Karena pembayarannya dicicil harian selama 3 tahun. Namun intinya bukan menyewa, tapi mencicil kredit motor.

Lepas dari masalah keuntungan, transaksi jual beli ini hukumnya syah juga dan dibenarkan dalam Islam. Yang perlu untuk diketahui adalah masalah kepastian harga jual motor itu, yaitu Rp 16.425.000,-. Harga ini harus disepakati sejak awal dan haram untuk dirubah-rubah. Misalnya karena menunggak lama, lalu hitungan harinya ditambah menjadi 3,5 tahun. Ini akan merusak akad.

Banyak orang membuat istilah sewa beli semacam ini, diantaranya adalah al-ijarah al-muntahi bit tamlik atau sewa yang berakhir dengan kepemilikan. Namun lepas dari apapun istilahnya, yang jelas akad ini dibenarkan dalam Islam.

Berapa Persen Batas Keuntungan Yang Dibolehkan ?

Berapa Persen Batas Keuntungan Yang Dibolehkan ?

Ass wr wb

Saya berjualan (macam2 assesoris), kadang saya jualnya ngambil untung sampai 100% dan itu emang harga pasaran…bolehkah dalam Islam dan juga tolong di carikan dalil dalam hadist atau riwayat dari Rosullullah SAW. Terima kasih

A. Manaf – Tenggilis Kauman Surabaya

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Pada dasarnya dalam masalah muamalat termasuk jual beli, yang berlaku adalah kaidah dasar bahwa segala sesuatu hukumnya boleh kecuali bila ada nash yang sharih melarangnya.

Dan bila ditelusuri satu per satu, kita tidak menemukan nash sharih yang membatasi seseorang mengambil untung dari sebuah penjualan. Selama tidak ada larangan khusus dari Allah SWT dan selama kedua belah pihak tidak saling menzalimi dan sama-sama rela atas transaksi itu, maka jual beli itu syah menurut syariah.

Bahkan bukan hanya 100 %, tetapi 200 % atau lebih pun tidak mengapa, bila memang pasarnya demikian. Misalnya seorang seniman menjual karyanya di pelelangan dengan harga beratus kali lipat dari harga di kaki lima, adalah hal yang syah-syah saja. Selama bukan merupakan monopoli perdangan yang bisa menekan atau menyusahkan orang banyak.

Seorang guru agama yang mengajar di depan kelas sebuah sekolah swasta di pelosok mungkin hanya dibayar seribu dua ribu perak perjamnya. Bandingkan dengan ustaz kondang ibu kota yang sering nongol di TV, ceramah setengah jam bisa bawa pulang puluhan juta rupiah. Padahal bisa jadi apa yang diajarkan sama saja, tetapi kemasan dan tempat dimana jasa itu dipersembahkan memang bisa membedakan uang jasanya secara mencolok.

Segelas penuh kopi di warung sebelah rumah mungkin harganya hanya 2000-an perak, tetapi secangkir kopi di hotel bintang lima bisa puluhan ribu rupiah termasuk pajak ini dan itu. Padahal sama-sama air dan kopi juga. Barang sama dan harga berbeda.

Namun semua itu syah dalam hukum jual beli asalkan kedua belah pihak sama-sama ridha dan ihklas.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Bagi Hasil Atau Komisi

Bagi Hasil Atau Komisi

Assalammu’alaikum Wr. Wb

Pak Ustadz, dari contoh berikut ini yang manakah yang diperbolehkan menurut Islam ?

1. Amin menitipkan barang di toko Badu untuk dijual dengan harga jual Rp. 30.000 dan berjanji akan memberi komisi sebesar 5 % dari harga jual tsb.

2. Karena Amin membeli barang tersebut dengan harga Rp.25.000 dan meminta Badu menjualkannya dengan harga pasaran yaitu Rp. 30.000 maka keuntungannya adalah Rp. 5000 dan perjanjiannya adalah bagi hasil dari keuntungan (dari Rp. 5000) yaitu Amin 60 % dan Badu 40 %

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Ainun Sutanti – PT. Indonesia Chemi-Con

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Kedua contoh yang Anda sebutkan baik pada nomor satu maupun pada nomor dua sama-sama benar dan dibolehkan dalam syariat Islam. Bentuk transaksi atau kerjasama seperti ini sering juga disebut dengan samsarah.

Tentang bagaimana bentuk komisi atau pembagian keuntungan, terserah kepada mereka berdua. Yang penting masing-masing saling ridho tanpa harus ada yang terzalimi, tertipu atau terkurangi hak-haknya.

Jadi mau 5 % dari harga jual atau 40 % dari keuntungan, keduanya adalah komisi yang berhak diterima oleh si Badu karena jasa menjualkannya. 5 % dari harga jual adalah 5 % x Rp. 30.000 = Rp. 1.500,-. Dan 40 % dari keuntungan adalah 40 % x Rp. 5.000 = Rp. 2.000. Tinggal terserah di Badu, apakah dia rela mendapat komisi Rp. 1.500 atau Rp. 2.000. Yang jelas kesepakatan ini harus jelas di awal dan tidak boleh dirubah sepihak.

Bahkan dalam akad simsarah ini boleh juga disepakati bahwa si Badu bebas menjual berapa saja harganya, yang penting dia harus menyetor Rp. 25.000 kepada si Amir.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Penemuan Naskah Kuno Laut Mati

 

Penemuan Naskah Kuno Laut Mati

Assalamu’ alaikum wr wb.

Pak Ustadz, saya membaca mengenai penemuan Naskah Kuno Laut Mati (Dead Sea Scrolls) di daerah Qumran-Palestina yang kini telah menjadi warisan sejarah dunia. Dalam galian di beberapa gua di daerah tsb, ditemukan ribuan naskah kuno yang diselidiki berasal dari tahun 68 SM (Sebelum Masehi). Pada gua yang ke-4 ditemukan setiap Kitab nabi dari Kitab Perjanjian Lama (Bible perjanjian lama orang Nasrani yang sekarang).

Pertanyaan saya:

1. Setelah diselidiki dan dibandingkan dengan Bible kaum Nasrani yang sekarang, selain daripada sedikit perbedaan ejaan bahasa, disimpulkan bahwa tidak ada satu kata pun yang telah berubah dari Naskah tersebut. Hal ini menjadikan Bible nya orang Nasrani yang sekarang adalah sama dan tidak berubah dengan naskah tersebut yang umurnya lebih tua 2000 tahun Pak Ustadz, bagaimana kita kaum Muslim menyikapi hal ini, karena kita berpendapat bahwa Kitab Kaum Nasrani telah dirubah oleh mereka?

2. Naskah tersebut berumur 68 tahun sebelum lahirnya nabi Isa SAW. Pada salah satu naskahnya diceritakan mengenai akan datangnya seorang Mesias/Al-Maseh (Isa SAW) yang akan menderita dan akan mati di kayu salib (naskah Nubuatan Isiah). Bagaimana kita menyikapi hal ini karena berdasarkan Quran Nurkarim, dinyatakan bahwa Isa SAW tidak mati di kayu salib, melainkan diangkat oleh Allah.

Terima Kasih dan mohon penjelasannya.

Wassalamualaikum, Wr. Wb.

Dedy Awaluddin, Hegarmanah – Bandung

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Apa yang Anda sampaikan itu bisa kita cermati dan kita buat beberapa tanggapan sebagai berikut :

1. Keshahihan informasi

Informasi yang Anda terima itu biar bagaimana perlu untuk dichek ulang keshahihannya. Karena peristiwa mengklaim bahwa ditemukan ini atau itu yang intinya menjadi hujjah buat kalangan non Islam untuk menyalahkan Islam bukanlah hal yang asing.

Yang paling jelas di depan mata adalah kebohongan publik tentang teori evolusi Darwin yang ternyata bohong belaka. Hampir semua penemuan fosil tentang manusia purba menunjukkan bahwa ada sejuta kebohongan yang secara sistematis ditutupi oleh mereka sekedar untuk memenangkan teori Darwin itu. Dan hari ini, sedikit dmei sedikit terungkaplah kebohongan itu di mata publik.

Dan kalangan evolusionis itu harus menanggung malu berkepanjangan atas semua kebohongan yang mereka lakukan. Dan semua terjadi akibat kita terlalu percaya dengan klaim-klaim yang mereka rilis, padahal kejujuran orang barat itu sangat tipis dan antara jujur dengan bohong hanya dibatasi oleh sebuah garis tipis saja.

Hari ini, hampir semua fakta ilmiyah yang selama ini mereka dengungkan terungkap kebohongannya. Bukan oleh kalangan muslim, namun oleh kalangan mereka sendiri yang tidak tahan atas kebohongan publik yang memalukan itu.

2. Perjanjian Lama Yang Mana ?

Dan sebagai sebuah tes kecil-kecilan, kalau dikatakan bahwa isi naskah kuno itu sama dengan Perjanjian Lama yang ada sekarang, maka Perjanjian Lama versi yang mana yang sama ? Padahal hari ini kita punya sekian ribu versi Perjanjian Lama yang isinya saling berbeda satu dengan lainnya. Sehingga tidak perlu dibandingkan dengan versi tahun 68 SM yang informasinya belum jelas itu, dengan sebuah logika sederhana saja pun sudah bisa disimpulkan. Bahwa di antara ribu sekian versi Perjanjian Lama itu tidak mungkin semuanya benar. Pasti hanya ada satu yang benar atau malah semuanya tidak ada yang benar.

3. Perjanjian Lama Versi Tahun 68 SM Tidak Otomatis Asli

Anda sebutkan bahwa ada kesamaan antara Perjanjian Lama di masa sekarang ini dengan yang ditemukan di gua itu yang ditulis pada 68 tahun sebelum lahirnya nabi Isa.

Fakta ini sama sekali tidak membuktikan bahwa Perjanjian Lama yang ada sekarang itu asli atau benar. Karena kalau sekedar sama dengan versi yang ditulis pada tahun 68 sebelum masehi, maka pemalsuan dan campur tangan kalangan petinggi agama sudah terjadi sejak turunnya wahyu kepada Nabi Musa as.

Padahal kitab yang turun kepada Nabi Musa yang oleh sebagian mereka diklaim sebagai perjanjian lama adalah kitab yang turun di zaman beliau hidup, yaitu sekitar tahun 1527 s/d -1408 SM. Jadi kalau ada kitab yang ditemukan tahun 68 sebelum masehi, kemungkinan bahwa kitab itu palsu juga sangat besar.

Jangankan terpaut masa 1500-an tahun, bahkan ketika masih diturunkan pun, orang yahudi saat itu sudah mengingkarinya dan berusaha untuk memalsukannya. Mereka hanya mau menjalankan apa-apa yang sesuai dengan selera mereka dan membuang apa-apa yang tidak sesuai.

Para pengikut Nabi Musa as sejak ketika beliau masih hidup adalah tipe orang yang kerjaanya mengubah ayat Allah SWT dan menulis sendiri karya mereka lalu diakui sebagai ayat yang turun dari Allah SWT. Betapa nista dan hina apa yang mereka lakuikan itu. Lihatlah surat Al-Baqarah yang menelanjangi perilaku menyimpang mereka itu :

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (QS. Al-Baqarah : 75).

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah : 79)

Jadi kalau Anda menemukan sebuah kitab yang ditulis di zaman Nabi Musa sekalipun, belum tentu bisa dipercaya. Pertama, karena tidak ada pembuktian ilmiyah bahwa kitab itu memang ditulis dimasa itu. Katakanlah Anda punya mesin waktu dan bisa menyelinap masuk ke masa Nabi Musa hidup lalu mencuri salah satu kitab yang ada pada masa itu, tapi ini pun masih belum bisa dipertanggungjawabkan. Kenapa ? Karena karakteristik mereka memang tukang palsu yang kerjanya memalsukan ayat Allah SWT. Jadi sejak masa itu sudah beredar kitab-kitab palsu buatan tangan mereka sendiri.

Anda hanya bisa memastikan bahwa kitab itu benar kalau Anda dalam petualangan Anda itu Anda berhasil bertemu langsung dengan Nabi Musa dan bertanya kepadanya , “Wahai Nabi Musa, benarkah kitab yang barusan saya curi ini asli dan sesuai dengan wahyu yang Allah SWT turunkan kepada Anda ?”. Kalau beliau menjawab benar, maka barulah Anda boleh percaya. Tapi kalau Cuma katanya dan katanya, tidak ada satu pun yang berhak dipercayai.

Karena generasi yang ditinggalkan oleh Nabi Musa tidaklah seperti generasi shahabat Rasulullah SAW yang oleh Al-Quran Al-Karim dipastikan sebagai orang-orang yang tsiqah dan adil, dimana Allah SWT telah ridha kepada mereka.

Generasi di zaman nabi Musa tidak lain hanyalah kelompok penentang ayat-ayat Allah SWT dan tidak pernah ada jaminan kemurnian aqidah dan syariah mereka. Tidak ada jaminan keaslian kitab sucinya dan tidak ada jaminan kekalnya ajaran mereka hingga akhir zaman sebagaimana Islam.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

Ikhwal Surat Berantai “Berita dari Masjid Nabawi”

 

“Ikhwal Surat Berantai “Berita dari Masjid Nabawi”

Assalamualaikum wr. wb.

Pak ustadz, akhir-akhir ini saya sering mendapatkan kiriman surat berantai berjudul “Berita dari Masjid Nabawi” yang isinya menyatakan bahwa ada seseorang bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW yang memberi tahu kiamat telah dekat, dan orang tersebut diperintahkan untuk menyebarkan berita itu ke seluruh dunia. Di situ juga disebutkan jika saya tidak meneruskan ke orang lain, maka saya akan mendapatkan musibah. Apakah peristiwa dalam surat berantai itu memang benar terjadi? Dan apakah saya wajib meneruskan surat berantai itu?

Terima kasih Wassalam,

Damar

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

Surat berantai yang tidak ada tanggalnya sebenarnya ditulis sudah lama sekali. Paling tidak sudah puluhan tahun yang lalu. Namun sedemikian terkenalnya cakupan peredarannya meliputi hampir seluruh dunia. Isinya 100% dusta dan sayangnya masih ada saja sebagian umat ini yang terpedaya.

Rupanya di Timur-Tengah pun surat ini beredar juga, entah siapa yang memulainya. Sampai-sampai ulama seperti Dr. Yusuf Al-qaradawi pun harus memberikan taujih secara khusus untuk menyingkap kebohongan besar yang beredar ini. Bahkan beliau langsung menanyakan kepada orang-orang yang tinggal di Madinah tentang jati diri Syekh Ahmad, si pembuat surat wasiat yang mengaku sebagai penjaga kubur ‘kuncen’ nabi Muhammad SAW. Ternyata orang-orang yang tinggal di Madinah sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu tidak mengenal nama Syaikh Ahmad sebagai juru kunci makam Nabi. Nama itu ternyata fiktif dan tidak pernah ada.

Surat ini isinya adalah ancaman yang menakut-nakuti umat Islam. Yaitu siapa yang tidak menyebarkannya akan mendapatkan bencana atau musibah. Entah anaknya mati atau hartanya habis. Ancaman seperti ini tidak pernah dikatakan oleh seorang pun yang normal pikirannya terhadap kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Syari’at Islam tidak pernah memerintahkan hal demikian, apalagi sampai mengancam segala.

Bahkan tidak ada ancaman untuk orang yang tidak menyebarkan Al-Quran dan Hadits Rasulullah dengan ancaman beragam musibah. Kalau dua kitab tersuci di dunia dan punya nilai tertinggi itu saja tidak harus disebarkan dengan jalan mengancam-ngancam, bagaimana mungkin surat wasiat buatan manusia biasa sampai harus disebarkan diiringi ancaman siapa yang tidak menyebarkannya akan mendapatkan kesusahan. Ancaman ini jelas tidak punya nilai kebenaran.

Sedangakan sebagian isi surat itu yang menceritakan bahwa si Fulan yang telah menyebarkan isi surat itu telah mendapaatkan rezeki dan mendadak menjadi kaya adalah sebuah tipu daya paling sesat sepanjang sejarah. Juga cerita tentang orang yang tidak mau menyebarkannya tertimpa bencana juga sebuah tahayyul dan khurafat yang bernilai syirik bila dipercayai.

Untuk mendapatkan rezeki, pasti ada sebabnya secara nalar. Sebaliknya, untuk tertimpa musibah juga pasti ada larangan resmi dari Allah atau ada penjelasan ilmiyahnya. Sebab Allah tidak akan mengharamkan sesuatu atau memerintahkannya kecuali semua tertera jelas di dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya. Sedangkan perintah menyebarkan surat berantai itu tidak mejadi bagian dari agama Islam, meski secara umum isinya mungkin ada kemiripan dengan ajaran Islam.

Konon, surat semacam ini juga beredar melalui milis di internet. Maka bila anda mendapatkannya, buang saja atau hapus. Percayalah, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pemberi Ilmu tidak pernah memeritahkan kita untuk menyebarkannya. Dan Allah Yang Maha Melindungi itu akan melindungi hamba-Nya yang beriman serta akan menjaga mereka selama mereka beriman kepada-Nya.

Semoga Allah SWT segera mengangkat kebodohan umat ini dan menggantikannya dengan ilmu dan hikmah yang diberkahi. Amien.

Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.

 

 

Ibadah Harus Pake Perantara?

 

Ibadah Harus Pake Perantara?

Assalaamu ‘alaikum wr. wb.

Ustadz betulkah syarat diterimanya ibadah seseorang harus melalui perantara (wali/syekh/ustadz)? Karena katanya kita banyak dosa tak dapat langsung berhubungan dengan Allah! Tolong disertai dalilnya. Kemudian apakah betul ada hadits yang mengatakan Nabi Adam baru diterima taubatnya setelah bershalawat kepada Nabi Muhammad saw, karena katanya dengan alasan hadits itu maka nabi Adampun berhubungan dengan Allah melalui Nabi Muhammad saw.

Terima kasih Wassalaamu ‘alaikum wr. wb.

Ibnoe Dawud – Banten

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Ada sebuah ayat di dalam Al-Quran Al-Kariem yang menyebutkan bahwa kita diminta melakukan tawassul (menggunakan jalan tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT) dalam beribadah kepada Allah SWT.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidha : 35)

Para ulama ahli sunnah sepakat bahwa wasilah atau sarana yang bisa dijadikan untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak lain adalah amal shaleh. Dan bukan berupa sosok seseorang apalagi orang itu sudah mati. Karena orang yang sudah mati tidak akan bisa membantu mendekatkan siapa pun kepada Allah. Bahkan untuk dirinya sendiripun dia masih harus mempertanggung-jawabkan semua amalnya dihadapan Allah.

Islam tidak mengenal sosok orang yang menjadi perantara antara seorang hamba dengan Tuhannya. Allah sendiri sudah memerintahkan setiap manusia apabila menginginkan sesuatu dari-Nya, maka mintalah langsung kepada-Nya, bukan melalui siapapun selain dari Allah. Karena Allah itu sangat dekat kepada hamba-Nya.

Allah berfirman:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo‘a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)

Karena itu bila kita mempunyai hajat, maka mintalah kepada Allah. Boleh menggunakan wasilah atau perantaraan yang berupa amal baik/shaleh. Seperti bersedekah, memberi makan anak yatim, menolong fakir miskin, membebaskan budak, melunasi orang yang terjerat hutang dan amal-amal shaleh lainnya.

Amal shaleh yang ikhlas itu akan menjadi ‘perantara’ dikabulkannya hajat seseorang. Bukan dengan melalui arwah orang yang sudah mati atau kepada roh-roh tokoh-tokoh tertentu. Karena mereka itu tidak mampu menunaikan permintaan orang yang masih hidup. Bahkan perbuatan ini bisa membawa pelakunya ke dalam kemusyrikan.

Tawassul terbagi dua; tawassul masyru’ atau tawassul yang diperbolehkan untuk dilaksanakan dan tawassul mamnu’ atau tawassul yang dilarang. Adapun yang termasuk tawassul masyru’ adalah :

1. Bertawassul kepada Allah dengan nama-nama Allah SWT atau sifat-sifat-Nya.

Allah SWT berfirman:
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna , maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna” ( QS. Al-A’raf : 180)

Tawassul tersebut dapat dilakukan dengan cara menyebut nama-nama atau sifat-sifat Allah. Contohnya Anda berdo’a : Allahumma Inni As Aluka Bi Asmaaika Al-Husna An Taghfiroli.

2. Bertawassul dengan cara memuji Allah dan bersholawat kepada Nabi dipermulaan do’a.

Dari Fudholah bin ‘Ubaid dari Nabi SAW, beliau mendengar sesorang berdo’a dalam sholatnya tidak memuji Allah dan bersholwat kepada Rasulullah SAW terlebih dahulu. Beliau berkata : “Orang itu tergesa-gesa” Kemudian memanggilnya dan berkata padanya: “Apabila salah seorang diantara kamu sholat hendaklah dia memulai dengan bertahmid kepada Allah dan memuji pada-Nya kemudian bersholawatlah pada Rasulullah SAW Kemudian setelah itu berdo’alah sesuai dengan keinginanmu.”

Fudholah berkata: dan Rasulullah SAW pernah mendengar sesorang sedang sholat kemudian ia memuji Allah dan bertahmid pada-Nya serta bersholawat kepada kepada Nabi Muhammad SAW, maka beliau berkata padanya: “Berdo’alah engkau pasti diijabah dan mintalah engkau pasti dipenuhi” (HR Ahmad 6/18, Abu Daud No. 1481, Tirmidzi No. 3476 dan 3477, Nasa’i 3/44 dan 45, Ibnu Hibban No. 1960 dengan sanad hasan)

3. Bertawassul kepada Allah SWT dengan menyebut Janji-Nya.

Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT :
“Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS. Ali Imron :194)

Oleh karena itu kita boleh juga berdo’a : Allahumma Innaka Wa’adta Man Daa’ka Bil-Ijabati, Fastafib Du’aaii (Ya Allah engkau telah menjanjikan kepada orang yang berdo’Allah SWT pada-MU akan dipenuhi, maka penuhilah do’aku ini).

4. Bertawassul kepada Allah dengan perbuatan-perbuatan-Nya (Af’aal)

Sesorang boleh saja berdoa : “Ya Allah Wahai Dzat yang pernah menolong Muhammad SAW pada hari Badar maka tolonglah kami atas orang-orang yang kafir”. Hal ini sebagimana doa yang dibaca ketika tahiyyat.

5. Bertawassul kepada Allah dengan ibadah, baik ibadah hati, perbuatan maupun ucapan.

Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT:
“Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdo’a : “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mu’minun: 109).

Hal tersebut juga pernah dilakukan oleh tiga orang yang masuk ke dalam goa yang pintunya tertutup longsoran batu, ketiganya bertawassul dengan amal sholeh yang terbaik yang pernah mereka lakukan agar Allah SWt menyelamatakan mereka semua. (HR Bukhori No. 2215 dan 2272, Muslim NO. 2743)

6. Bertawassul kepada Allah dengan menyebut keadaan dirinya bahwa ia sangat membutuhkan rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Hal tersebut sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi Musa AS.

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” (QS. Al-Qoshosh : 24 ).

7. Bertawassul dengan doa orang sholih dengan harapan agar Allah memperkenankan doa orang tersebut.

Dengan syarat orang tersebut adalah seorang muslim yang masih hidup. Hal tersebut pernah dilakukan oleh Anak-anak Nabi Ya’kub AS :

“Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah”. (QS. Yusuf : 97)

Hal tersebut juga pernah dilakukan oleh seorang sahabat yang meminta kepada Rasulullah SAW agar memohon kepada Allah supaya Ia menurunkan hujan (HR Bukhori No. 1013 dan Muslim 897)

Sedangkan yang termasuk tawassul yang terlarang antara lain

1. Bertawassul dengan perantaraan orang-orang yang mati, meskipun orang tersebut adalah orang yang sholeh.

2. Bertawassul kepada benda-benda mati.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

Di Manakah Nabi Adam dan Hawa Pertama Kali Datang di Bumi?

 

Di Manakah Nabi Adam dan Hawa Pertama Kali Datang di Bumi?

1. Di manakah Nabi Adam dan Hawa pertama kali datang di bumi? Di daerah Arab atau India atau Eropa? Adakah ayat al-Qur’an yang menerangkan kedatangannya atau pun hadistnya dan juga tempat kedatangannya pertama kali.

2. Benarkah Ka’bah pertama kali didirikan oleh Nabi Adam a.s dan benarkah Ka’bah yang sekarang adalah Ka’bah yang dahulu didirikan oleh Nabi Adam. Adakah ayat Al-Qur’an atau Hadist yang menerangkannya.

3. Di manakah pertama kali peradaban dimulai? Benarkah pertama kali peradaban berasal dari Arab, adakah Ayat Al-Qur’an yang menerangkannya atau Hadistnya?

Rudi

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

Dalam kitab Tarikh Ar-Rusul Wal Muluk karya Imam At-Thabari jilid 1 halaman 79 disebutkan, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Adam as diturunkan di India dan Hawa di Jeddah. Lalu beliau mendatanginya dan bertemu di Muzdalifah (dekat Mekkah) dan bertaaruf lagi di Arafah dan karena itu lalu dinamakan tempat itu Arafah.

Disebutkan juga bahwa tempat turunnya Adam itu di Inda (Hind), namun tidak tepat persis dengan sebuah negara yang namanya India sekarang ini, melainkan wilayah Hind. Tepatnya di sebuah gunung yang paling tinggi di dunia. Para ahli sejarah lalu menafsirkan bahwa barangkali gunung yang dimaksud itu adalah Mount Everest, karena puncak itulah yang merupakan puncak gunung tertinggi di dunia (halaman 80).

Disebutkan juga oleh Ath-Thabari pada halaman 81 sebuah riwayat dari Nafi’ bahwa beliau mendengar dari Umar r.a. berkata bahwa Allah SWT mewayhukan kepada Adam yang saat itu ada di Hind untuk pergi haji ke Baitullah. Maka berangkatlah Adam dari Hind ke Baitullah dan bertawaf di sekelilingnya dan menjalankan manasik selengkapnya.

Sedangkan Ustadz Mahmud Syakir mengatakan bahwa Adam itu kuat diperkirakan ada di Barat Laut Asia kemudian di Jazirah Arabia. Meskipun ada juga yang berpendapat bahwa Adam itu di India atau di bagian utara Iraq. (lihat At-Tarikh Al-Islami oleh Mahmud Syakir jilid 1 halaman 29).

Kesemua pendapat ini kiranya tidak terlalu bertentangan, karena menunjukkan sebuah rentang wilayah yang relatif berdekatan. Karena kemudian Adam a.s. memang berkeluarga serta berketurunan di Jazirah Arabia atau di tempat di mana ka’bah berada.

Sedangkan riwayat pendirian ka’bah sebenarnya bukan didirikan oleh Nabi Adam, melainkan oleh para malaikat yang telah dikirim Allah jauh sebelum Adam diturunkan ke muka bumi. Sehingga ketika Adam diturunkan di Hind, beliau diperintahkan Allah SWT untuk pergi haji. Ini berarti memang ka’bah sudah ada lebih dahulu sebelum Adam. Di dalam Al-Quran disebutkan hal yang senada.

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS Ali Imran: 69)

Dengan demikian, paling tidak kita bisa menerima teori yang menyebutkan bahwa awal mula peradaban manusia memang dari Jazirah Arabia atau tepatnya dari baitullah. Barangkali itulah hikmah adanya syariat pergi haji ke baitullah, yaitu sebagai perjalanan nostalgia bangsa manusia ke tempat asal muasal peradaban mereka. Bahkan perintah haji itu tidak hanya kepada umat Islam saja, namun Allah SWT menggunakan panggilan kepada seluruh manusia. Dan Nabi Ibrahim diperintahkan untuk memanggil semua umat manusia untuk berkumpul di lembah di mana dulu nenek moyang mereka membangun peradaban pertama kali.

Dan PANGGILLAH MANUSIA untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS Al-Hajj: 27)

Untuk lebih jelasnya, silahkan anda baca buku yang lumayan memberikan informasi seperti ini yaitu Athlas Tarikh Al-Anbiya War-Rusul susunan Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts terbitan Maktabatul Ubaikan. Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi foto, peta dan skema/tabel yang penting tentang para Nabi dan Rasul termasuk foto peninggalan umat terdahulu lainnya. Semua ini bisa dijadikan bahan kajian. Yang jelas buku ini masih berbahasa Arab belum diterjemahkan.

Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.

 

 

Bila Ayah Kembali ke Agama Lamanya

 

Bila Ayah Kembali ke Agama Lamanya

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pak Ustadz saya ingin menanyakan sebuah pertanyaan yang dulu jg pernah dibahas di sini, tetapi menurut saya belum begitu jelas. Yaitu mengenai orang tua yang beragama lain (dalam hal ini ayah saya beragama Nasrani).

1. Apakah pernikahan orang tua saya dihukumi zina karena ayah saya beragama lain. Lalu bagamana dengan status ibu saya yang memang saat dinikahkan beliau benar-benar awam masalah agama? Perlu diketahui saat menikah dulu ayah saya masuk Islam, tetapi tak lama setelah resmi beliau kembali memeluk agamanya yang lama.

2. Bagaimana status kami anak-anaknya? Apa kami juga dihukumi anak hasil perzinaan?

3. Haramkah nafkah yang diberikan oleh ayah kepada kami, sedangkan pekerjaan ayah saya adalah pekerjaan yang halal? Jika ya, lalu kami harus bagaimana?

Demikian Ustadz, mohon jawabannya karena saya benar-benar bingung dan sedih memikirkan ini semua.

Jazakumullah khairan katsir.

Wassalamu’alaikum Warahmatulllahi Wabarakatuh

Tami

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

1. Karena ketika menikah, ayah anda dalam status beragama Islam, maka tidak ada yang salah dalam pernikahan itu. Meski anda mengatakan bahwa ibu anda awam, namun apa yang dilakukannya sudah benar, yaitu menikah dengan laki-laki yang saat itu beragama Islam. Maka pernikahan mereka syah secara syariat dan anak yang dilahirkan sama sekali bukan anak zina.

Bahwa kemudian ayah anda kembali kepada agama lamanya atau murtad, sama sekali tidak ada pengaruhnya dalam sah tidaknya perkawinan mereka sebelumnya. Hanya yang perlu dipahami adalah pernikahan mereka langsung batal dengan sendirinya tatkala ayah anda keluar dari agama Islam. Artinya, pasca kemurtadannya itu, mereka diharamkan untuk berlaku sebagai suami istri termasuk melakukan hubungan seksual.

2. Semua anak yang lahir dari pasangan ini adalah anak halal, selama ayah anda belum murtad. Sebaliknya, bila anak lahir setelah ayahnya murtad, maka gugurlah kewaliannya. Maksudnya, ayah itu tidak berhak untuk menjadi wali nikah bagi anak gadisnya.

Namun dalam Islam kita tidak mengenal istilah anak zina dalam arti bahwa anak itu berdosa. Yang berdosa adalah ayah dan ibunya, sedangkan anak itu sendiri tidak punya dosa, karena dia pada hakikatnya tidak bersalah.

Dan anda sendiri sebagai seorang wanita, ayah anda yang dalam posisi bukan sebagai muslim tidak bisa menjadi wali dalam pernikahan anda. Sebagai ganti, wali anda adalah kakak laki-laki, atau adik laki-laki, paman (saudara laki-laki ayah), kakek (ayahnya ayah), anak laki-laki paman. Tentu saja bila mereka beragama Islam. Bila tidak ada satu pun dari mereka yang muslim, maka wali anda adalah hakim agama di wilayah anda tinggal. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Sultan adalah wali bagi wanita yang tidak punya wali.”

3. Masalah nafkah yang diberikan ayah kepada anda dan ibu anda serta anak-anaknya, tentu saja hukumnya halal. Apalagi anda katakan bahwa nafkah itu dari sumber yang halal juga. Kekafirannya tidak berpengaruh kepada halal haramnya nafkah yang didapatnya.

Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.

 

 

Beramal Dan Berharap Yang Lain

 

Beramal Dan Berharap Yang Lain

Assalamu’ alaikum wr wb

Pak ustadz yang insya Allah di rahmati Allah

Saya memiliki pertanyaan yang sangat sederhana, yaitu bolehkah saya beramal (harta) dengan alasan agar ketika saya dalam keadaan sulit, ALLAH akan menolong saya, atau kah saya memang harus beramal dengan tanpa mengarapkan sesuatu

demikian pertanyaan saya

Wasalam

Iwan Wibisana – Bekasi

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Pada dasarnya amal perbuatan seseorang itu haruslah didasari dari rasa ketaatan kepada perintah Allah SWT . Ini sebagai modal utama dari setiap amal yang dikerjakan.

Namun Allah SWT sendiri tidak menafikan bahwa setiap amal itu diberi ganjaran, baik berupa pahala di akhirat mapun ganjaran yang bisa langsung dirasakan di dunia ini. Kalau kita perhatikan ayat-ayat Al-Quran Al-Karim dan juga sunnah Rasulullah SAW secara seksama, ternyata ‘iming-iming’ ganjaran di dunia penuh bertaburan disana sini. Dan karena Allah SWT sendiri yang memberi ‘iming-iming’ itu, maka kita bisa pahami bahwa tidak ada salahnya kalau kita ‘mengejar’ juga apa yang Allah SWT tawarkan. Toh dalam hal ini Allah SWT yang menawarkannya. Kalau tawaran itu tidak boleh diharapkan, buat apa Allah SWT menawarkannya.

Misalnya kalau kita baca mushaf Al-Quran Al-Karim, kita akan dapati ayat seperti ini :

…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Thalaq : 2-3)

Allah mengajak orang untuk bertaqwa dan mengiming-imingi kepada siapa yang bertaqwa untuk mendapatkan rizqi dari arah yang tidak terduga-duga. Jadi bila ada seseorang berusaha untuk bertawa dan berharap Allah SWT akan memberinya rizqi dari arah yang tidak diduga-duga, maka boleh saja. Karena memang Allah SWT menawarkannya.

Juga silahkan buka ayat berikut :

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(QS. An-Nahl : 97)

Dalam surat As-Shaf, Allah SWT menawarkan lagi dan kali ini disebutkan seolah-olah kita berdagang dengan Allah SWT.

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan karunia yang lain yang kamu sukai pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat . Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (QS. As-Shaf : 10-13)

Jadi semua itu syah-syah saja selama memang Allah SWT memberikan penawaran-Nya secara jelas dan tegas.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

 

Apakah Ikhtiar Bisa Mengubah Takdir?

 

Apakah Ikhtiar Bisa Mengubah Takdir?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz, saya ingin bertanya tentang ikhtiar. Kita tahu pada dasarnya nasib seorang hamba sudah di tentukan oleh Allah s.w.t. sejak dia dalam kandungan (semoga saya tidak salah), yang ingin saya tanyakan:

1. Sejauh mana kita harus berikhtiar?

2. Apakah ikhtiar kita bisa mengubah takdir/nasib kita?

Jazakumullah khoir Wassalamau’alaikum wr wb

Aris

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

Ikhtiar atau usaha itu merupakan perintah dari Allah SWT, sehingga hukumnya wajib untuk dilakukan oleh seorang hamba. Dan bahwa setiap hamba Allah itu memang akan diberi balasan sesuai dengan ikhtiar yang dilakukannya di dunia ini. Di dalam kitabullah yang abadi itu Allah SWT banyak menyebutkan urgensi dan peran dari ikhtiar yang dilakukan oleh hamba-Nya. Maka silahkan buka mushaf Anda dan simaklah bagaimana peran ikhtiar itu sedemikian penting bagi nasib manusia selanjutnya.

Dan Katakanlah, “BEKERJALAH KAMU, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 105)

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang KAMU USAHAKAN bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Baqarah: 110)

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang MEREKA USAHAKAN, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS Al-Baqarah: 202)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala YANG DIUSAHAKANNYA dan ia mendapat siksa yang DIKERJAKANNYA. (QS Al-Baqarah: 206)

Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang IA USAHAKAN. (QS Thaha: 15)

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang TELAH DIUSAHAKANNYA. (QS An-Najm: 39)

…Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga MEREKA MEROBAH KEADAAN YANG ADA PADA DIRI MEREKA SENDIRI… (QS Ar-Ra`d: 11)

Maka dalam dimensi manusia dan kemanusiaan, nasib seseorang memang akan sangat tergantung dari peran dan usaha yang dilakukannya. Selain unsur kasih sayang Allah tentunya. Sebab kalau dibandingkan antara amal perbuatan dengan apa yang Allah berikan kepada manusia, rasanya tidak akan sebanding. Sehingga apa yang Allah berikan buat mereka yang telah berusaha, pada hakikatnya merupakan anugerah yang berlebih dari Allah SWT Yang Maha Kasih. Semua itu diberikan kepada manusia yang mau taat dan melakukan apa yang diperintah-Nya.

Sedangkan kalau kita bicara taqdir Allah, apakah kita bisa merubah taqdir apa tidak, sebenarnya bukan porsi otak dan logika manusia untuk memperbincangkannya. Sebab semua taqdir Allah SWT itu adalah rahasia Allah semata. Tak satu pun dari hamba-Nya yang diberitahukannya. Tidak juga para Nabi dan malaikat-Nya. Sehingga ketika kita memperbincangkan taqdir, pada dasarnya kita sudah masuk ke wilayah yang gelap dan sama sekali kita tidak punya informasi apapun. Kalau wilayah ini diterobos juga, sangat boleh jadi kita akan memasuki wilayah perdebatan yang tidak ada habisnya sebagaimana dahulu kelompok Qadariyah dan Jabariyah pernah terjebak di dalamnya. Namun tidak akan ada hasilnya apa-apa kecuali buang waktu dan pikiran saja.

Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.