Zakat dan Etika Berusaha

Zakat dan Etika Berusaha

Salah satu hikmah penting dari kewajiban berzakat dan anjuran berinfak adalah timbulnya kesadaran untuk selalu berusaha mencari rezeki yang halal yang sesuai dengan etika dan moral serta tuntunan syariah. Zakat dan infak bukanlah membersihkan harta yang kotor yang didapatkan dengan cara-cara yang tidak benar, akan tetapi mengeluarkan bagian hak orang lain dari harta kita yang telah kita usahakan melalui proses dan jalan yang tepat dan benar.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, ”Allah SWT tidak akan menerima sedekah (zakat) dari harta yang didapat secara tidak sah.” Dalam hadis lain riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang bersedekah seberat biji kurma dari hasil usaha yang halal (dan Allah tidak akan menerima kecuali dari yang halal dan bersih), maka Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, lalu membalasnya bagi pemilik harta tersebut dengan balasan yang berlipat ganda.”

Kehalalan rezeki ini merupakan masalah yang sangat fundamental dan menentukan bagi kebahagiaan dan keselamatan seseorang, bahkan juga bagi diterima atau ditolaknya amal-amal ibadahnya termasuk doa yang dipanjatkannya. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW mengisahkan seseorang yang perjalanannya sangat jauh dan melelahkan sehingga keadaannya terlihat kusut dan kotor, kemudian dia menengadahkan kedua tangannya sambil berkata, ‘Tuhanku, Tuhanku! (ia menyampaikan doa dan permohonannya)’, akan tetapi makanan, minuman, dan pakaiannya semuanya didapatkan dengan cara-cara yang diharamkan, juga orang itu selalu dikenyangkan oleh barang yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan.

Di samping itu, cara-cara yang tidak benar dan tidak fair dalam berusaha akan menyebabkan kacaunya tatanan kehidupan. Korupsi, sebagai contoh, yang begitu menggurita terjadi dalam masyarakat kita ternyata telah menyebabkan kehancuran dan keterpurukan pada sektor-sektor kehidupan lainnya. Karena itu, korupsi dalam perspektif ajaran Islam termasuk kategori al fasad (perbuatan yang sangat merusak). Sehingga, hukuman bagi pelakunya sangat berat bila telah dibuktikan dalam peradilan, yaitu dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kaki dengan bertumbal balik, atau dibuang ke tempat yang jauh dari keramaian.

Firman Allah SWT, ”Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (Al-Maaidah: 33). Menurut para ahli tafsir, koruptor termasuk sebagai golongan yang membuat kerusakan di muka bumi.

Karena itu, semangat berzakat dan berinfak yang didorong untuk dilakukan pada setiap Ramadhan hendaknya tidak hanya dipandang sebagai perbuatan karitatif (kedermawanan) semata. Namun, juga harus dipandang sebagai upaya untuk menumbuhkembangkan etika berbisnis dan akhlak berusaha, sehingga rezeki yang dikeluarkan zakat dan infaknya benar-benar adalah rezeki yang halal dan bersih. Wallahu a’lam bis-shawab.

Sumpah Pejabat

Sumpah Pejabat

Sewaktu dilantik sebagai khalifah, Abu Bakar Siddik menyampaikan pidato kenegaraan yang sangat brilian. Dalam pidatonya, ia menegaskan dirinya bukanlah orang yang terbaik. Lantaran itu, ia meminta dukungan umat Islam sekiranya ia benar, dan mengharapkan kritik dan koreksi kalau ia salah atau bertindak serong.

Umar bin Khattab, pengganti Abu Bakar, dalam pengukuhannya sebagai khalifah, menyampaikan pidato yang lebih kurang sama. Antara lain, ia menegaskan komitmennya untuk berpegang teguh pada Alquran dan Hadis secara konsekuen dan konsisten. Lalu, katanya lagi, ”Kalau kalian melihat ada penyimpangan pada diriku, maka kalian harus meluruskannya.”

Mendengar pernyataan Umar itu, seorang penggembala yang ikut hadir dalam acara pelantikan, berdiri sambil mengacungkan pedangnya seraya berkata, ”Kalau kulihat ada penyimpangan dalam diri Tuan, maka aku akan luruskannya dengan pedangku ini!”

Umar, sang khalifah, tersenyum. Ia bersyukur kepada Allah SWT, karena merasa masih ada di antara rakyatnya yang memiliki iktikad baik untuk menegakkan kebenaran.

Kita dapat memetik pelajaran berharga dari teladan kedua tokoh Islam itu. Bagi keduanya, pelantikan n pejabat bpejabat (bay’at) bukanlah upacara tahunan atau seremonial belaka tanpa makna. Sumpah janji yang diucapkaukan pula koor atau pernyataan yang hanya bersifat verbalistik. Sumpah janji dengan dan atas nama Tuhan itu pada hakikatnya adalah komtimen iman dan sekaligus kontrak sosial yang mengikat para pejabat untuk selalu berpihak kepada kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan rakyat.

Dalam Islam, pelantikan dan sumpah pejabat itu dinamakan bay’at, berasal dari kata bay’ yang secara harfiah berarti jual-beli. Jual-beli (bay’) melibatkan dua pihak: satu pihak menyerahkan barang (mutsman) dan pihak yang lain menyerahkan uang (tsaman). Seperti halnya jual-beli (bay’), bay’at juga melibatkan dua pihak, yaitu pejabat (pemimpin) dan rakyat (yang dipimpin), yang keduanya harus pula saling berbagi dan memberi.

Ibn Manzhur, pengarang Lisan al-‘Arab, memahami bay’at sebagai sebuah transaksi (mu’aqadah) dan kontrak sosial (mu’ahadah) yang mengikat kedua belah pihak: pemimpin dan rakyat yang dipimpin. Dengan bay’at, masing-masing pihak seolah-olah telah menjual atau membeli dari pihak lain (mubaya’ah). Pemimpin menuntut kepatuhan (tha’at), tetapi rakyat menuntut keadilan, rasa aman, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Jadi, dalam Islam bay’at itu mengandung empat makna. Pertama, tekad untuk memegang teguh Alquran dan Sunnah. Kedua, tekad untuk bekerja dan menjalankan roda kepemimpinan sesuai dengan petunjuk keduanya. Ketiga, tekad untuk selalu berbuat adil dan mementingkan kemaslahatan umat. Keempat, tekad untuk bersikap terbuka dan bersedia menerima saran dan kritik konstruktif dari rakyat.

Ini berati, bay’at memiliki implikasi teologis dan sosiologis sekaligus. Para pejabat yang menjalani bay’at tentu harus tahu dan memahami implikasi dari bay’at itu.

Kontributor Oleh : A Ilyas Ismail

Simbol-simbol Kemewahan

Simbol-Simbol Kemewahan

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang bertakwa lagi kaya yang menyembunyikan simbol-simbol kekayaannya (kemewahannya).” Sering terjadi kesalahan pandangan dan persepsi di sebagian masyarakat kita bahwa Islam adalah agama yang tidak mendorong umatnya untuk memiliki kekayaan. Cukuplah umat Islam itu menjadi umat yang miskin yang tidak menguasai sektor-sektor kehidupan. Umat Islam harus cukup puas dengan kegiatan di masjid dan di majelis taklim. Sedangkan kegiatan di sektor-sektor ekonomi, industri, pasar, dan yang lainnya diserahkan kepada non-Muslim.

Tentu saja pandangan semacam ini sangat berbahaya karena akan mengakibatkan umat Islam selalu terpinggirkan dan tidak akan mampu menguasai sektor-sektor strategis yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan. Hadis tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT sangat mencintai orang-orang yang beriman yang memiliki kekayaan yang didapatkan dengan cara-cara yang elegan, transparan, dan sportif, yang sesuai dengan norma dan etika Islam. Bukan kekayaan yang didapatkan melalui cara-cara yang tidak halal seperti kegiatan riba, menipu, korupsi, dan cara-cara kotor lainnya. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah 188, ”Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta tersebut dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.”

Cukup banyak ayat Alquran dan hadis Rasulullah SAW yang menyuruh umat Islam untuk kaya. Misalnya ayat-ayat yang memerintahkan untuk bersedekah, berinfak, berzakat, serta membantu fakir miskin, dan yatim-piatu. Untuk bisa bersedekah dan berzakat, misalnya, tentu orang yang bersangkutan harus berkecukupan. Semakin orang itu berkecukupan alias kaya, zakat dan sedekah yang dikeluarkan tentu akan semakin banyak. Juga hadis Nabi SAW yang menyatakan ”tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah” dan ”Muslim yang kuat lebih baik dari Muslim yang lemah”. Semua itu menunjukkan bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk kaya.

Namun, kekayaan atau harta yang didapatkan haruslah dengan cara-cara yang halal. Kehalalan inilah yang akan mendorong pemiliknya memberikan kebaikan dan kemanfaatan bagi masyarakat luas. Dan, itulah yang terjadi pada diri sahabat Nabi Muhammad SAW yang kaya seperti Usman bin Affan dan Abdurahman bin Auf. Para sahabat tersebut kekayaannya tampak pada sikap mereka di dalam berinfak, bersedakah, dan berkorban untuk kepentingan agama serta pembangunan masyarakat.

Bukan pada penampakan simbol-simbol kekayaan dan kemewahan yang pada saat ini dianggap sebagai sebuah kebutuhan, keharusan, dan keniscayaan. Menyembunyikan simbol-simbol kemewahan pada saat sebagian besar masyarakat sedang menderita, jelas harus dilakukan, apalagi kemewahan yang berkaitan dengan jabatan seperti tergambar pada rumah dinas, mobil dinas, dan fasilitas wah lainnya. Sungguh sangat menyakitkan perasaan masyarakat apabila untuk pakaian dinas seorang kepala daerah saja sampai menghabiskan ratusan juta rupiah. Untuk itu, upaya pimpinan MPR periode 2004-2009 yang menolak fasilitas yang terkesan mewah merupakan langkah yang perlu diikuti oleh semua pejabat publik dari pusat sampai daerah, agar masyarakat semakin yakin bahwa perasaan para pejabat adalah sama dengan perasaan mereka. Wallahu a’lam bis-shawab.

Kontributor Oleh : Kh Didin Hafidhuddin

Sedekah yang Baik

Sedekah yang Baik

Istilah sedekah mengacu pada pemberian yang bersifat sukarela dan sunat hukumnya. Kata sedekah seakar dengan kata al-sidqu yang berarti benar. Ini mengandung makna bahwa orang yang bersedekah telah melakukan cara yang benar dalam menggunakan harta. Meskipun demikian, sedekah bukan hanya dengan menggunakan harta. Sikap yang baik dan menyenangkan hati sesama manusia termasuk sedekah. Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Senyum simpulmu kepada saudaramu ketika bertemu adalah sedekah.” (HR Tirmidzi).

Islam menganjurkan pemeluknya banyak bersedekah karena hal itu tidak mendatangkan kerugian dan membuat orang jatuh miskin, tetapi memberikan manfaat positif dunia dan akhirat. Allah SWT akan mengganti yang disedekahkan dengan karunia lebih baik. Allah SWT berfirman, ”Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS 34: 39).

Melalui sedekah, Muslim akan semakin dekat kepada Allah. Ia akan dibalas Allah SWT dengan karunia berupa kenikmatan surga di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, ”Dan di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga-Nya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 9: 99). Agar sedekah bermanfaat di dunia dan akhirat kita perlu memperhatikan beberapa ketentuan.

Pertama, sesuatu yang disedekahkan merupakan yang terbaik dan disenangi bagi yang memberikan dan menerimanya. Allah SWT berfirman, ”Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS 76: 8). Kedua, sedekah dilakukan secara sukarela, ikhlas, dan tidak riya (pamer). Sedekah bertujuan menjalankan perintah Allah dan mengharapkan keridhoan-Nya. Allah berfirman, ”Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanya untuk mengharapkan keridhoan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS 76: 9).

Ketiga, memberikan sedekah dengan wajar, tidak berlebih-lebihan dan tidak kikir. Firman Allah SWT, ”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS 25: 67). Keempat, pemberian sedekah tidak bertujuan mendapatkan balasan kembali, baik dengan jumlah sama atau lebih banyak dari yang disedekahkan. Allah berfirman, ”Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS 74: 6). Sedekah dengan karakteristik di atas perlu menjadi budaya Muslim sebagai wujud kesalehan, solidaritas sosial, dan bukti persaudaraan antara sesama kita. Apalagi saat ini banyak saudara-saudara kita yang miskin menunggu uluran tangan, bantuan, dan sedekah dari mereka yang mampu. Wallahu a’lam.

Kontributor Oleh : Firdaus

Ramadhan Berakhir Fitri

Ramadhan Berakhir Fitri

Manusia pada asalnya suci, bersih, tak bernoda, apalagi berdosa. Demikian bunyi satu hadis yang Nabi SAW sampaikan, ”Setiap anak itu terlahir sebagai makhluk yang suci dan bersih.’‘ (HR Bukhari-Muslim). Namun, faktor lingkunganlah yang kemudian mempengaruhinya, hingga ia menjadi seorang Muslim atau non-Muslim. Inilah yang digambarkan lebih lanjut oleh Nabi SAW, ”Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu sebagai seorang Yahudi atau Nashrani.” (HR. Bukhari-Muslim).

Fitri atau fitrah bermakna suci, bersih, dan tak bernoda. Fitrah manusia sejatinya adalah suci, karena ia berasal dari Zat yang suci, yaitu Allah SWT. Karena kesucian manusia inilah, Allah SWT kamudian memuliakan mereka dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. ”Sungguh telah Kami muliakan anak keturunan Adam, lalu Kami tempatkan mereka di daratan dan di lautan, kemudian Kami beri mereka rezeki dari jalan-jalan yang terbaik. Kami unggulkan derajat mereka dibandingkan dengan makhluk-makhluk Kami yang lain.” (Al-Isra: 71).

Kelahiran manusia yang suci, lalu berubah menjadi sosok-sosok yang beragam. Ada yang teguh mempertahankan kesuciannya, ada yang berubah menjadi kotor lalu menyucikan diri, dan ada pula yang kotor tapi tidak mau membersihkan kotoran-kotoran dosa itu hingga kematian menjemputnya. Semua itu adalah proses-proses yang pasti dialami dan dilalui oleh umat manusia di alam dunia ini. Dunia adalah ladang proses yang menentukan arah dan tujuan manusia ke tempat asalnya semula, yaitu Allah SWT.

Orang-orang yang selalu berusaha membersihkan dirinya dari dosa, maka ia akan berjumpa dengan Allah SWT dalam keadaan yang juga bersih dan suci, seperti awalnya. Namun jika jiwa kotor, maka ia akan menghadap Allah SWT dalam kekotorannya. Allah SWT sesungguhnya tidak akan dapat menerima hamba-hamba-Nya yang berjiwa kotor. Ia hanya menerima jiwa-jiwa yang tenang dan bersih: ”Wahai jiwa-jiwa yang bersih dan tenang, kembalilah kepada Tuhan sejatimu dalam keridhoan. Masuklah kalian ke dalam golongan hamba-hamba-Ku yang akan masuk surga.” (Al-Fajr: 27-30). Itulah titik ujung perjalanan umat manusia sesungguhnya. Menjadi hamba-hamba Allah SWT yang suci kembali, setelah melewati berbagai macam cobaan dan godaaan di alam dunia.

Puasa merupakan salah satu alat untuk membimbing orang-orang beriman ke jalan kesucian hakikinya. Karena dalam ibadah ini, seorang yang berpuasa berpotensi besar mampu meraih kesuciannya kembali, dengan catatan bahwa ibadah puasa itu tidak hanya untuk menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi, puasa dilakukan untuk mengekang keinginan-keinginan kotor nafsu yang setiap saat bergejolak. Berpuasa dengan demikian adalah jalan efektif meraih kembali kesucian jiwa yang telah lama ternoda oleh dosa yang menggurita. Nafsu di bulan puasa dikekang semaksimal mungkin untuk itu semua. Ketika nafsu sudah terkontrol, jiwa akan mudah terisi penuh dengan sinaran cahaya Allah SWT yang suci.

Karena itu, orang berpuasa yang sukses hakikatnya ia telah meraih kebahagiaan sejati, karena telah menemukan kesuciannya kembali. Sabda Rasulullah SAW, ”Orang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan, pertama ketika berbuka (di dunia), dan kedua kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhan di akhirat kelak.” (HR Bukhari, Muslim, Tarmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Darimi). Bahagia ketika sukses menyucikan jiwanya dengan berpuasa, dan juga bahagia ketika kesucian jiwa itulah yang mampu mempertemukannya dengan Allah SWT yang Maha Suci.

Kontributor Oleh : Fajar Kurnianto

Orang Pilihan

Orang Pilihan

Allah dan rasul-Nya telah memberikan petunjuk yang tidak hanya menerangkan bagaimana kita harus beribadah, tetapi juga mencakup bagaimana kita semestinya bersikap dan hidup dalam kaitannya dengan hubungan antarsesama atau dalam bermuamalah, dan bahkan dengan lingkungan alam sekitarnya. Ini bukti kebenaran bahwa Islam merupakan ajaran agama dan sistem yang lengkap dan sempurna. Karena itu, Allah memerintahkan kepada kita untuk melaksanakan Islam secara keseluruhan, tidak parsial. Allah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS 2: 208).

Salah satu ajaran tersebut adalah petunjuk bagaimana kita agar dapat menjadi orang-orang pilihan yang dapat membawa perbaikan dan manfaat bagi masyarakat dan umat Islam pada umumnya. Rasulullah menjelaskan petunjuk tersebut dalam sabdanya, ”Orang-orang yang terpilih di antara kalian adalah orang-orang yang mengingatkan kalian kepada Allah jika melihatnya, perkataannya menambah giat kalian untuk beramal, dan amalnya membuat kalian semakin mencintai akhirat.” (HR Hakim dari Ibnu Umar).

Hadis tersebut secara gamblang menjelaskan kriteria orang-orang pilihan, yaitu orang-orang yang senantiasa mengingatkan orang lain untuk beribadah dan memberikan contoh dalam kebaikan. Pendek kata, orang-orang pilihan adalah orang-orang yang senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dalam kaitan ini Allah berfirman, ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS 3: 104).

Dalam ayat berikutnya Allah mempertegas, ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS 3: 110).

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa setiap Muslim bisa menjadi orang-orang pilihan. Karena, tugas amar ma’ruf nahi munkar ini merupakan fitrah bagi umat Islam. Dan, dalam pelaksanaannya tidak hanya bisa dilakukan oleh setiap individu, tetapi tugas ini bisa dilaksanakan secara kolektif atau kelembagaan.

Contoh sederhana orang-orang Islam yang bekerja di lembaga sensor film, misalnya. Amar ma’ruf nahi munkar yang bisa mereka lakukan adalah dengan tidak meloloskan film-film yang tidak sesuai tuntunan dan nilai-nilai agama maupun norma masyarakat. Sabda Rasulullah SAW, ”Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak sanggup, maka dengan lidahnya, dan jika tidak sanggup juga, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim). Wallahu a’lam bishawab.

Kontributor Oleh : Mulyana

Muslihst Setan

Muslihst Setan

Seorang tabib yang dikenal alim, suatu hari, didatangi seorang pasien perempuan muda dalam keadaan sakit parah. Tabib itu biasanya menolak mengobati pasien perempuan, tapi melihat penderitaan pasien perempuan muda itu, hati tabib merasa iba. Tak sampai hati ia menolaknya.

Dengan hati-hati dan telaten, dia obati pasien itu. Sungguh tragis, kejadian berikutnya adalah bencana. Sang tabib jatuh hati pada pasien yang ternyata berparas cantik itu, dan terjadilah skandal yang semestinya tidak terjadi. Perempuan itu hamil, dan akhirnya dibunuh oleh sang tabib.

Nukilan kisah yang dituturkan Peter J Awn dalam buku yang menawan, Tragedi Setan, Iblis dalam Psikologi Sufi (Bentang Budaya, 2000), bersumber dari kitab yang sangat terkenal, Ihya’ Ulum al-Din, karya Al-Ghazali. Tak disangka, perempuan itu sebenarnya telah dirasuki iblis. Penyakitnya juga muslihat setan, yang sengaja direkayasa untuk menjerumuskan sang tabib.

Luar biasa, memang, tipu-daya iblis dan setan. Mereka tak pernah kehabisan jurus, amat licik dan canggih, untuk memperdaya manusia. Singkat kata, muslihat mereka jauh di luar kemampuan manusia untuk mengalahkannya.

Mereka juga tak tak mengenal waktu dan kesempatan, baik di waktu jaga maupun tidur. Baik lelaki, perempuan, tua, muda, anak-anak, manusia biasa, berpangkat, alim, ulama, bahkan sampai para nabi pun, mereka goda.

Ingat kisah Nabi Adam dan Hawa yang diusir dari surga gara-gara termakan bujukan setan seperti difirmankan Allah dalam Alquran. Juga Nabi Musa, Isa, Yahya, bahkan Rasulullah Muhammad SAW pun pernah digoda setan. Dalam buku yang mengutip banyak ayat suci Alquran, hadis, dan berbagai kitab tasawuf, diceritakan bahwa iblis sering menggoda manusia justru ketika sedang shalat. Ketika seseorang sedang khusyuk shalat, tiba-tiba terbetik keinginan untuk bersedekah. Kebetulan ia baru saja menerima banyak rezeki.

Sepanjang shalat, pikirannya ngelayap ke orangtuanya, famili, dan orang-orang dekat, yang akan dia beri sedekah. Saat itulah iblis bersorak; ia berhasil mengalihkan konsentrasi orang itu dari Allah. Hanya mulutnya yang komat-kamit, hati dan pikirannya terbang ke mana-mana. Hal-hal seperti inilah yang juga banyak kita alami ketika sedang shalat.

Setan paling suka membakar orang marah, dengki, tamak, sombong, dan–apalagi–nafsu rendah. Sumua itu adalah sifat-sifat setan, syaitan, atau iblis. Kita tentu tahu, semua itu adalah biang malapetaka dan kehancuran dunia. Menuruti nafsu setan, pasti akan sesat. Tapi, sesat kemudian apalah gunanya.

Dalam surat Al-Qashash: 15-16, difirmankan bahwa Musa menyesal dan mohon ampun kepada Allah setelah memukul musuhnya hingga tewas. Musa berkata, ”Ini perbuatan setan, sesungguhnya setan itu musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).”

Di situlah keutamaan dzikir: mengingat Allah setiap saat. Allah SWT juga memberi kita bacaan penangkal setan: ”Au’dzubillahi min al-syaithoni al-rojimi” (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).

Kontributor Oleh : EH Kartanegara

Muara Kemewahan

Muara Kemewahan

Rombongan Abu Ubaidah bin Jarrah tiba di Madinah dengan membawa banyak harta dari Bahrain. Maka, penuhlah masjid untuk shalat subuh bersama Rasulullah SAW.


Usai shalat, Rasul bertanya, ”Saya menduga kalian mendengar Abu Ubaidah datang membawa sesuatu dari Bahrain.”
”Benar, wahai Rasulullah,” jawab jamaah serempak.

Rasul bersabda, ”Bergembiralah, namun renungkan apa yang menggembirakan kalian itu. Demi Allah, bukan kefakiranmu yang aku khawatirkan, melainkan bila kemewahan dunia telah menimpamu, sebagaimana orang-orang sebelummu. Lalu, kamu berlomba-lomba dan binasa, seperti mereka.” (HR Muslim).

Peringatan Rasul terlalu serius untuk diabaikan karena mengawalinya dengan sumpah. Sejarah dan realitas kontemporer memang membuktikan sabdanya. Persia dan Romawi hancur. Bahkan, meski menerapkan sebagian hukum Islam, Daulah Umayyah, Abbasiyah, dan Ustmaniyah juga runtuh lantaran para pembesar menjauhi kehidupan sederhana seperti Rasul dan sahabatnya, hingga mudah ditelikung musuh.

Kemewahan pembesar adalah tanda kehancuran. Dalil naqlinya, ”Bermegah-megahan telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS At Takaatsur, 102: 1-2).

Kehancuran, misalnya, karena melihat langsung neraka Jahiim (ayat 6-7). Secara implisit, berarti mendiaminya. Di ayat lain, ”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati-Nya), namun mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS 17: 16).

Mafhum mukhalafah (makna kebalikan) ayat ini adalah hanya para pembesar yang berlaku zuhud dan sederhana, mengonsumsi sesuai kebutuhan, bukan kemauan (nafsu), yang akan menaati Allah, sekaligus memimpin rakyatnya ke arah Islam. Itulah negeri yang akan diselamatkan Allah.

Kehancuran akibat perilaku mewah juga terjelaskan secara aqliyah (rasionalitas). Pertama, berlaku mewah dikendalikan hawa nafsu. Gagal mengendalikan nafsu sendiri, berarti akan gagal mengendalikan nafsu anak buah dan rakyat. Kedua, berkuasanya nafsu akan melemahkan akal, sekaligus produktivitas manusia, mulai dari berpikir, bersikap hingga bertindak.

Takkan ada keinginan untuk memperbaiki kehidupan negerinya, karena dirinya sibuk berlaku konsumtif. Padahal, perubahan selalu dimulai dari akal, sehingga ketika titik tolak itu lemah, maka melemah pula kekuatan untuk memperbaiki diri dan negeri. Ini mirip dengan susahnya perbaikan orang yang akalnya rusak karena narkoba dan minuman keras.

Ketiga, terjadi persaingan tidak sehat, saling dengki, dan menjatuhkan karena iri yang lain lebih mampu bergaya mewah. Keempat, meluasnya korupsi, kolusi, dan pencurian harta negara dan rakyat.

Bagaimanapun, gaya hidup mewah tidak mengenal batas, sementara penghasilan resmi dan halal pasti ada batasnya. Karena itu, tiada alasan tidak menjadikan bulan Ramadhan sebagai awal ditinggalkannya gaya hidup mewah oleh para pembesar hingga kita terjauh dari kehancuran.

Kontributor Oleh : Fahmi Ap Pane

Merasakan Kehadiran Allah SWT

Merasakan Kehadiran Allah SWT


Di antara tujuan penting disyariatkannya ibadah-ibadah mahdlah (ibadah khusus), seperti shalat dan shaum adalah tertanamnya kesadaran tauhid. Yakni, kesadaran bahwa Allah SWT selalu hadir dalam segala situasi dan kondisi menyertai hamba-Nya.

Dia tidak akan pernah tertidur sekejap pun dan tidak akan pernah lupa terhadap segala amal perbuatan yang dilakukan hamba-Nya. Perhatikan firman-Nya dalam Alquran (Al-Baqarah: 255), ”Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Siapakah yang bisa memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Dalam surat Ali ‘Imran 99, Allah pun berfirman, ”Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?’ Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”

Ketika seseorang berdoa, ia akan melakukannya dengan penuh kesungguhan karena yakin Allah SWT Mahadekat, Maha Mendengar, dan Maha Mengabulkan segala rintihan dan permohonan hamba-Nya. Allah berfirman, ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186).

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Turmudzi dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ”Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa Dia akan mengabulkannya. Ketahuilah oleh kamu sekalian bahwasanya Allah SWT tidak akan mengabulkan doa dari orang yang hatinya lalai dan lupa.”

Ketika seseorang berjuang menegakkan kebenaran, kejujuran, dan keadilan dalam hidupnya, ia akan selalu optimistis bahwasanya Allah akan menolongnya, meskipun sebagian besar manusia tidak menyukainya bahkan menentangnya. Tantangan-tantangan tersebut akan dijadikannya sebagai peluang dan kesempatan untuk lebih mengoptimalkan dan memfungsikan sikap hidupnya tersebut, sebab diyakininya bahwa tidak ada keberhasilan yang maksimal kecuali setelah mampu mengatasi hambatan. Tidak ada kemudahan yang akan diraih kecuali setelah berhasil mengatasi kesulitan. Firman Allah SWT, ”Maka, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Al-Insyirah: 5-6).

Merasakan kehadiran Allah dalam sanubari kita akan menyebabkan terhambatnya keinginan-keinginan untuk melakukan perbuatan-perbuatan negatif dan merusak, walaupun orang-orang tidak mengetahuinya. Akan timbul pula kekuatan yang sangat dahsyat yang mampu mengatasi gejolak hawa nafsu dalam melakukan perbuatan buruk dan tercela. Karena itu, jika tujuan ini dihayati secara sungguh-sungguh oleh setiap orang yang beribadah, maka pasti ibadahnya akan melahirkan perbuatan yang selalu sesuai dengan aturan dan ketentuan-Nya. Allah SWT berfirman, ”Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Wallahu a’lam.

Kontributor Oleh : Kh. Didin Hafidhuddin 

Membahagiakan Sesama Muslim

Membahagiakan Sesama Muslim  

Nabi Muhammad SAW pada sebuah kesempatan berpesan kepada umatnya bahwa manusia yang paling dicintai Allah adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Lebih jauh beliau menekankan bahwa membuat saudara Muslim gembira atau memasukkan rasa gembira ke dalam hati Muslim yang lain merupakan salah satu dari perbuatan yang paling baik dan menjadi amalan yang dicintai Allah.

Kegembiraan seseorang terpancar dari kondisi hati yang tenang dan nyaman. Terlebih rasa gembira yang terlahir dari qolbunsalim (hati yang selamat), sejatinya akan memberikan dampak pula bagi orang lain. Karena, saat itulah, setiap Muslim akan terdorong untuk melahirkan perbuatan baik menjadi ringan namun bernilai.

Suatu hari, seorang lelaki kaya raya datang menemui Rasulullah dalam keadaan kotor dan compang-camping. Rasul bertanya, ”Apakah engkau tidak punya harta?” Lelaki itu menjawab, ”Punya, banyak sekali dari segala bentuk yang diberikan Allah kepadaku.” Rasul pun bersabda, ”Sesungguhnya Allah senang bila Ia memberi nikmat kepada hamba-Nya, nikmat itu tampak bekasnya.” (HR Ahmad).

Maka, sepatutnya rasa gembira seseorang juga memberikan sesuatu bentuk kenikmatan yang lain, yaitu kenikmatan bersyukur dengan berupaya membagi kebahagiaan itu kepada sesamanya. Kini, saatnya setiap Muslim mengejar berkah-berkah kesalehan Ramadhan dengan menebar rasa bahagia ke setiap orang, memupuknya, merawat, dan menjaga agar mendapatkan buah indahnya ikatan persaudaraan.

Syawal, sebagai bulan indahnya kebersamaan dalam kasih sayang, merupakan hari-hari yang begitu membahagiakan bagi semua Muslim. Sebuah waktu istimewa untuk dapat bersilaturahim, saling mengenal, dan saling mendoakan. Doa yang dianjurkan saat berjumpa adalah, ”Taqobbalallahu mina waminkum.” Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu. Kita hendaknya berusaha mengamalkan tuntunan Rasulullah SAW untuk memberikan kesenangan dan kegembiraan fitri bukan saja kepada kerabat dan handai tolan, melainkan pula kepada saudara-saudara kita yang fakir, miskin, atau dalam kondisi yang memprihatinkan (dhuafa), agar kelak mereka tidak lagi meminta-minta dan hidup kesusahan, hingga kegembiraan itu terus berlanjut dalam kehidupan yang layak.

Rasulullah menjelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abi Ad-Dunya bahwa amal kebaikan yang dicintai Allah adalah membahagiakan sesama Muslim dengan menghilangkan kesusahan hidupnya, membayar utang, dan menjauhkan dari kelaparan. Hidup adalah hamparan ladang amal dan tempat berbagi kebaikan. Suatu saat kelak, setiap diri akan melihat apa yang telah dilakukannya. Islam telah menekankan bahwa hubungan antarsesama Muslim diikat dalam tatanan nilai ukhuwah (persaudaraan). Untuk menegakkan nilai agung itu, salah satu pilarnya adalah bersedianya Muslim untuk saling berbagi kebahagiaan kepada sesamanya. Wallahu a’lam bishawab.

Kontributor Oleh : Mahyudin Purwanto