Diskon & Hutang

 

Diskon & Hutang

1. Bolehkah kita menjual produk/jasa dengan melihat konsumen kita. Umpamanya bila konsumen termasuk orang biasa saja, kita memberikan harga khusus (discount) tapi kalau konsumen orang yang berada kita tidak memberikan discount ?

2. Dalam peristiwa/kisah apakah Nabi SAW pernah berhutang?

Terima kasih atas perhatian & jawabannya.

JJ – Bekasi

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

1. Menjual barang dengan harga yang tidak sama antara satu pembeli dengan pembeli lainnya sebenarnya tidak ada larangannya. Sebab setiap orang berhak untuk menjual barang dengan harga yang menurutnya wajar.

Dan setiap pembeli juga berhak untuk menawar dan meminta keringanan/discount harga pembelian dari penjualnya. Dan bila ada seorang penjual yang memberikan discount khusus kepada pembeli tertentu dengan pertimbangan tertentu, jelas lah bahwa itu merupakan haknya secara penuh.

2. Tentang kasus jual beli secara khusus dimana Rasulullah SAW pernah berhutang kepada seseorang, mungkin bisa Anda dalami dari sirah nabawiyah. Sebab di dalam bab-bab fiqih, kami belum lagi menemukannya. Tapi kebolehan berhutang tentu sudah pasti adanya dan dikuatkan dalam nash Al-Quran Al-Kariem dan As-Sunnah An-Nabawiyah. Bahkan ayat tentang hutang adalah paling panjang di dalam Allah SWT.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan, dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya.

Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki. Jika tak ada dua orang lelaki, maka seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya.

Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak keraguanmu. , kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan , maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah : 282)

Kecuali kisah dimana Rasulullah SAW menggadaikan baju perangnya. Juga kisah dimana Rasulullah SAW pernah menjanjikan untuk memberi hadiah kepada seseorang berupa gelang raja Kisra. Hingga beliau SAW wafat, janji itu belum terkabul hingga datang masa Umar bin Al-Khattab ra dimana umat Islam berhasil menjatuhkan istana putih milik kekaisaran Kisra di Madain, Persia. Saat itu Panglima saad bin Abi Waqqash menyerahkan sepasang gelang emas milik Kisra kepada Suraqah bin Malik yang dahulu saat masih belum masuk Islam pernah dijanjikan akan diberi oleh Rasulullah SAW.

Secara umum, janji untuk memberi gelang emas itu bisa disebut hutang juga bukan?

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

Bagaimana Menghitung Bagi Hasil Usaha?

 

Bagaimana Menghitung Bagi Hasil Usaha?

Assalamu’alaikum wr wb

Pak Ustadz, Saya punya sebidang tanah yang dibeli seharga Rp. 32 juta, akan dibangun 5 petak kontrakan yang sewanya Rp. 300rb/bulan. Untuk membangun diperlukan biaya kira2 Rp.60 jt dan bekerjasama (patungan) dengan 3 orang teman masing2 Rp.20jt. Bagaimana sistem bagi hasil dari penghasilan sewa kontrakan perbulan jika perjanjiannya dalam satu tahun uang teman saya tersebut akan saya kembalikan, dan bagaimana juga jika perjanjiannya selama 2 tahun.

Jazakumullah khairon katsiro.

Anas – Ciputat Tangerang

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Paling tidak ada dua pilihan jenis kerjasama yang bisa Anda lakukan. Pertama, kerjasama bagi hasil yang bersifat terus menerus. Kedua, kerjasama bagi hasil yang terbatas waktunya.

Yang pertama adalah kerjasama dimana ada dua belah pihak. Pihak pertama adalah Anda yang dalam kerjasama ini memiliki saham berupa tanah. Pihak kedua adalah teman-teman Anda yang sahamnya adalah uang masing-masing 20 juta.

Bila kontrakan itu sudah jadi dan sudah ada yang menyewa, uang sewanya dibagikan kepada kedua belah pihak sesuai dengan besar nilai saham masing-masing. Anda sebagai pihak pertama yang punya tanah, saham Anda itu senilai 32 juta. Sedangkan teman-teman Anda itu totalnya 60 juta. Maka usaha rumah kontrakan itu punya nilai total 32 juta + 60 juta = 92 juta.

Maka besar bagian Anda adalah 32/92 x uang sewa. Sedangkan teman-teman Anda mendapat 60/92 x uang sewa. Tapi skema pembagian keuntungan ini tidak mutlak, yang penting masing-masing saling sepakat dan rela atas ketentuan bagi hasil ini.

Cara kedua adalah dengan akad bai’ul istishna`. Yaitu dua pihak yang bersepakat untuk bekerjasama bukan untuk usaha rumah kontrakan melainkan untuk melakukan proyek pembangunan rumah. Pihak pertama adalah Anda yang punya lahan untuk membangun rumah. Dan pihak kedua adalah teman-teman Anda yang punya uang untuk membangun rumah.

Karena Anda tidak punya uang tunai sebesar 60 juta, maka Anda meminta teman Anda untuk membangunkan rumah di atas lahan Anda. Setelah disepakati gambarnya, didapatlah bahwa biaya riil untuk membangun rumah itu misalnya 60 juta. Untuk jasa membangunkan rumah ini, pihak kedua yaitu teman-teman Anda berhak mendapatkan keuntungan berupa mark-up harga menjadi 90 juta yang harus Anda lunasi selama 5 tahun misalnya. Uang untuk membayar biaya 90 juta itu dihasilkan dari uang sewa kontrakan dari penghuni selama sekian tahun. Artinya selama sekian tahun, pihak kedua berhak mendapatkan uang sewa kontrakan. Lamanya atau besar nilai totalnya bisa dihitung dan disepakati dengan memasukkan nilai sewa rumah itu.

Bila biaya pembangunan sudah terpenuhi, maka rumah itu akan diserahkan kembali kepada Anda. Saat itu barulah Anda bisa menikmati hasilnya.

Cara kedua ini jangan sampai diselewengkan menjadi Anda meminjam uang dari pihak kedua dengan bunga bulanan. Harus dipastikan bahwa pembangunan rumah itu betul-betul dilakukan oleh pihak kedua dan dikelola oleh mereka selama sekian lama sampai harga yang disepakati terlunasi.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

Bolehkah ‘Sewa Jual’ Motor?

Bolehkah ‘Sewa Jual’ Motor?

Assalamualaikum Wr.Wb.

Saya ingin bertanya kepada pak ustadz tentang sewa jual motor. Saya dengan tidak sengaja menawarkan kepada langganan ojeg motor untuk antar jemput sekolah anak saya. Si pengojek saya tanya, berapa setoran motor untuk si pemilik per hari untuk motor lama? Dan berapa untuk motor baru? Jawabannya yaitu Rp 15.000,- untuk motor lama dan Rp 20.000,- untuk motor baru dan motor lama masih menjadi hak si pemilik.

Atas dasar tersebut, saya merasa kasihan dan berusaha untuk membantu si penyewa atau tukang ojeg tersebut dengan menawarkan hal-hal sebagai berikut:

1. Bagaimana seandainya bapak saya belikan motor lama seharga 7 juta rupiah dan membayar sewa kepada saya per hari sebesar 15 ribu?

2. Jika sampai waktu 3 tahun (3 x 365 hari) maka motor tersebut menjadi hak milik penyewa.

Si penyewa setuju karena dianggap menguntungkan dan dia akan memperoleh motor tersebut dengan cara ini. Dan kami menanda-tangani perjanjian yang kami sebut SEWA JUAL MOTOR tanpa uang muka.

Pertanyaan saya, apakah hal ini diperbolehkan dalam hukum jual beli menurut hukum Islam?

Mohon penjelasannya.

Wassalam

D. Sutopo

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du

Transaksi yang pertama yaitu antara pengojek dengan pemilik motor hukumnya dibolehkan dalam Islam. Dan transaksi kedua antara anda dengan tukang ojek itu pun boleh, bahkan lebih boleh lagi.

Sebab pada transaksi yang pertama yang terjadi adalah hukum sewa menyewa. Tukang ojek menyewa motor lama dengan harga Rp 15.000 sehari atau motor baru Rp 20.000 sehari. Sepenuhnya transaksi ini adalah hukum sewa menyewa. Sehingga apakah tukang ojek itu dapat uang atau tidak, untung atau tidak, tidak ada kaitannya dengan masalah sewa menyewa. Sewa menyewa juga tidak ada kaitannya dengan jual beli yang akan memindahkan kepemilikian motor.

Memang kalau dilihat dari sudut pandang tukang ojek, sewa menyewa ini kurang menguntungkan. Sebab kalau tidak dapat penumpang, maka dia tetap harus bayar sewa. Namun sewa menyewa ini bila merupakan pilihan baginya, hukumnya syah dan dibenarkan dalam Islam.

Sedangkan transaksi yang anda tawarkan itu pada hakikatnya adalah akad jual beli, bukan sewa menyewa, meski sekilas seperti sewa menyewa. Intinya anda menjual motor lama kepada tukang ojeg dengan harga Rp 15.000 x 365 x 3 = Rp 16.425.500,-. Dalam hal ini anda lumayan untung yaitu sebesar Rp 9.425.000,- karena harga motor lama hanya Rp 7.000.000,- saja. Meskipun keuntungan itu baru terkumpul selama tiga tahun. Karena pembayarannya dicicil harian selama 3 tahun. Namun intinya bukan menyewa, tapi mencicil kredit motor.

Lepas dari masalah keuntungan, transaksi jual beli ini hukumnya syah juga dan dibenarkan dalam Islam. Yang perlu untuk diketahui adalah masalah kepastian harga jual motor itu, yaitu Rp 16.425.000,-. Harga ini harus disepakati sejak awal dan haram untuk dirubah-rubah. Misalnya karena menunggak lama, lalu hitungan harinya ditambah menjadi 3,5 tahun. Ini akan merusak akad.

Banyak orang membuat istilah sewa beli semacam ini, diantaranya adalah al-ijarah al-muntahi bit tamlik atau sewa yang berakhir dengan kepemilikan. Namun lepas dari apapun istilahnya, yang jelas akad ini dibenarkan dalam Islam.

Berapa Persen Batas Keuntungan Yang Dibolehkan ?

Berapa Persen Batas Keuntungan Yang Dibolehkan ?

Ass wr wb

Saya berjualan (macam2 assesoris), kadang saya jualnya ngambil untung sampai 100% dan itu emang harga pasaran…bolehkah dalam Islam dan juga tolong di carikan dalil dalam hadist atau riwayat dari Rosullullah SAW. Terima kasih

A. Manaf – Tenggilis Kauman Surabaya

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Pada dasarnya dalam masalah muamalat termasuk jual beli, yang berlaku adalah kaidah dasar bahwa segala sesuatu hukumnya boleh kecuali bila ada nash yang sharih melarangnya.

Dan bila ditelusuri satu per satu, kita tidak menemukan nash sharih yang membatasi seseorang mengambil untung dari sebuah penjualan. Selama tidak ada larangan khusus dari Allah SWT dan selama kedua belah pihak tidak saling menzalimi dan sama-sama rela atas transaksi itu, maka jual beli itu syah menurut syariah.

Bahkan bukan hanya 100 %, tetapi 200 % atau lebih pun tidak mengapa, bila memang pasarnya demikian. Misalnya seorang seniman menjual karyanya di pelelangan dengan harga beratus kali lipat dari harga di kaki lima, adalah hal yang syah-syah saja. Selama bukan merupakan monopoli perdangan yang bisa menekan atau menyusahkan orang banyak.

Seorang guru agama yang mengajar di depan kelas sebuah sekolah swasta di pelosok mungkin hanya dibayar seribu dua ribu perak perjamnya. Bandingkan dengan ustaz kondang ibu kota yang sering nongol di TV, ceramah setengah jam bisa bawa pulang puluhan juta rupiah. Padahal bisa jadi apa yang diajarkan sama saja, tetapi kemasan dan tempat dimana jasa itu dipersembahkan memang bisa membedakan uang jasanya secara mencolok.

Segelas penuh kopi di warung sebelah rumah mungkin harganya hanya 2000-an perak, tetapi secangkir kopi di hotel bintang lima bisa puluhan ribu rupiah termasuk pajak ini dan itu. Padahal sama-sama air dan kopi juga. Barang sama dan harga berbeda.

Namun semua itu syah dalam hukum jual beli asalkan kedua belah pihak sama-sama ridha dan ihklas.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Bagi Hasil Atau Komisi

Bagi Hasil Atau Komisi

Assalammu’alaikum Wr. Wb

Pak Ustadz, dari contoh berikut ini yang manakah yang diperbolehkan menurut Islam ?

1. Amin menitipkan barang di toko Badu untuk dijual dengan harga jual Rp. 30.000 dan berjanji akan memberi komisi sebesar 5 % dari harga jual tsb.

2. Karena Amin membeli barang tersebut dengan harga Rp.25.000 dan meminta Badu menjualkannya dengan harga pasaran yaitu Rp. 30.000 maka keuntungannya adalah Rp. 5000 dan perjanjiannya adalah bagi hasil dari keuntungan (dari Rp. 5000) yaitu Amin 60 % dan Badu 40 %

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Ainun Sutanti – PT. Indonesia Chemi-Con

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Kedua contoh yang Anda sebutkan baik pada nomor satu maupun pada nomor dua sama-sama benar dan dibolehkan dalam syariat Islam. Bentuk transaksi atau kerjasama seperti ini sering juga disebut dengan samsarah.

Tentang bagaimana bentuk komisi atau pembagian keuntungan, terserah kepada mereka berdua. Yang penting masing-masing saling ridho tanpa harus ada yang terzalimi, tertipu atau terkurangi hak-haknya.

Jadi mau 5 % dari harga jual atau 40 % dari keuntungan, keduanya adalah komisi yang berhak diterima oleh si Badu karena jasa menjualkannya. 5 % dari harga jual adalah 5 % x Rp. 30.000 = Rp. 1.500,-. Dan 40 % dari keuntungan adalah 40 % x Rp. 5.000 = Rp. 2.000. Tinggal terserah di Badu, apakah dia rela mendapat komisi Rp. 1.500 atau Rp. 2.000. Yang jelas kesepakatan ini harus jelas di awal dan tidak boleh dirubah sepihak.

Bahkan dalam akad simsarah ini boleh juga disepakati bahwa si Badu bebas menjual berapa saja harganya, yang penting dia harus menyetor Rp. 25.000 kepada si Amir.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Apakah Termasuk Riba?

Apakah Termasuk Riba?

Assalamu‘alaikum Wr. Wb.

Mohon penjelasannya, apakah hal ini termasuk dalam kategori riba atau tidak.

Sepupu saya seorang pengusaha konstruksi. Dalam pekerjaannya, sering dia harus mengeluarkan modal kerja untuk membeli bahan-bahan, karena uang muka dari klien tidak mencukupi.

Untuk menutupi kekurangannya, dia suka meminjam uang kakak saya dalam jumlah tertentu, kemudian mengembalikannya dalam jumlah lebih besar sebagai tanda terima kasih.

Jumlah uang gantinya ditentukan sendiri oleh sepupu saya tersebut, sehingga selisih pengembalian uang pinjaman itu bukan karena permintaan yang meminjamkan, tapi karena itikad baik sepupu saya.

Pada saat meminjam, sepupu saya selalu menjelaskan untuk apa uang tersebut (menunjukkan bukti proyek yang akan dikerjakan), dan mengatakan berapa jumlah yang akan dia kembalikan. Dan kakak saya selalu menyerahkan sepenuhnya kepada sepupu saya mengenai jumlah yang akan dibayarkan tersebut, karena menurutnya itu adalah bagi hasil dari keuntungan usaha, sehingga orang yang menjalankan usaha yang lebih tau berapa hasil yang bisa dibaginya.

Apakah hal ini termasuk riba walaupun pengembalian uang pinjaman yang lebih besar itu adalah atas kemauan dan itikad baik dari pihak peminjam? Tidak ada paksaan dari yang meminjamkan, bila dibayar sesuai dengan jumlah yang dipinjampun tidak masalah.

Mohon penjelasannya, terima kasih.

Wassalam.

Chaidir – Cilandak, Jakarta

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Sebenarnya perbedaan antara riba dan tidak riba dalam kasus ini sangat tipis sekali, yaitu pada akad atau kesepakatannya saja. Karena kelihatannya secara prinsip, keduanya sama-sama rela dan ikhlas.

Jadi lebih baik akadnya diganti dengan bagi hasil dan bukan pinjam meminjam. Konsekuensinya dalam bagi hasil, kalau untung, maka keuntungannya itu dibagi dua dengan prosentase masing-masing yang telah disepakati. Misalnya, 40% buat yang punya modal dan 60% buat yang menjalankan usaha itu.

Tapi, kalau usaha itu merugi pada suatu saat, maka pihak yang memberi modal harus ikhlas kehilangan uangnya. Dia tidak boleh menuntut pengembalian uang itu, karena akadnya bukan pinjam tapi usaha bersama dan bagi hasil.

Disinilah letak perbadaannya dengan pinjaman yang ada ceritakan. Dalam kasus usaha itu rugi, maka kakak anda itukan tidak mau tahu, pokoknya uangnya harus kembali minimal utuh. Kalau tidak, maka tetap dianggap hutang. Sementara dengan sistem bagi hasil, kalau rugi harus ditanggung sama-sama.

Pinjam meminjam seperti yang anda ceritakan itu boleh saja diterapkan asal tidak ada ketentuan ketika mengembalikan harus dengan tambahan. Jadi bila sepupu anda karena merasa berterima kasih ingin berbagi karunia atas hasil usahanya kepada kakak anda, itu boleh saja. Yang penting bukan merupakan syarat atau kewajiban.

Bila suatu saat dia untung besar sampai 300% misalnya, kakak anda sama sekali tidak dibenarkan untuk meminta cipratan walau satu rupiahpun selama sepupu anda tidak memberinya. Haknya hanyalah sebatas uang yang dipinjamkan tidak lebih.

Karena itu, sebaiknya jadikan saja akad itu bagi hasil, karena lebih adil dan imbang.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Apa Boleh Menerima Imbalan Dari Pinjaman

Apa Boleh Menerima Imbalan Dari Pinjaman

Pak Ustadz, Saya meminjamkan uang ke teman saya tanpa bunga, tapi teman saya itu ingin memberikan imbalan kemudian saya katakan terserah karena dia memaksa. Apakah halal bila saya menerima imbalan tersebut.

Nurhasanah – Jakarta

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Bila yang dipinjamkan itu bukan berupa uang melainkan benda-benda seperti kendaraan, rumah, perkakas dan lainya, maka Anda boleh menerima imbalan. Dan transaksi itu namanya adalah sewa.

Sedangkan uang tidak boleh disewakan atau dipinjamkan dengan imbalan. Imbalan atas pemimjaman uang adalah riba yang diharamkan Allah SWT. Sebab praktek inilah yang dahulu dilakukan oleh arab Mekkah sebagai pelaku bisnis. Mereka seringkali meminjamkan modal kepada para pedagang yang ingin berniaga. Dengan perjanjian uang itu harus dikembalikan plus imbalannya.

Sebailknya, ketika Rasulullah SAW berdagang dengan Khadijah, beliau menerapkan sistem bagi hasil, bukan imbalan atas sewa uang.

Bila kondisi Anda memang tidak berniat meminjamkan uang dengan imbalan, sebaiknya Anda tolak saja pemberian imbalan itu. Agar tidak ditafsirkan sebagai imbalan atas jasa penyewaan uang. Tetapi kalau pemberian itu bisa dijamin sama sekali tidak terkait dengan uang yang pernah Anda pinjamkan, pastikan sekali lagi tidak ada keterkaitannya. Dan pemberian hadiah secara umum hukumnya halal.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Zuhud yang Menyesatkan

Zuhud yang Menyesatkan

Para penyeru agama, sengaja ataupun tidak, seringkali menjadikan ummatnya tertipu oleh ajaran mereka tentang meraih kekayaan ruhani dengan mengajarkan hidup yang sengsara.

Jauh sebelum manusia bisa memproduksi pesawat terbang, dalam legenda Persia kuno dikisahkan bahwa di antara raja-raja mereka ada memendam keinginan yang kuat untuk bisa menjelajahi angkasa, terbang setinggi-tingginya. Keinginan itu diutarakan kepada para pembantunya agar mereka dapat mencari jalan keluarnya.

Setelah bertahun-tahun memikirkannya, akhirnya ditemukan satu jalan yang sekiranya dapat merealisasi keinginan sang Raja. Mereka mengetahui bahwa burung rajawali merupakan burung yang sangat perkasa. Penduduk sering memergoki burung rajawali memangsa seekor ayam kemudian dibawa terbang setinggi-tingginya.

Akal mereka mulai bekerja. Menurut jalan pikirannya, jika sekiranya empat burung rajawali dikaitkan antara satu dengan lainnya, kemudian ditengahnya diberi satu tatakan yang kuat, tentu dapat menerbangkan sang raja. Ide yang orisinil ini segera mendapat persetujuan segenap penasehat raja.

Proyek imajiner ini segera dimulai dengan menangkap empat burung rajawali yang masih kecil untuk dipelihara dan diberi latihan secukupnya. Setelah burung-burung tersebut menginjak dewasa dan menjadi perkasa, maka segera dibuatkan tenda persegi empat yang tiang-tiangnya diikatkan secara kuat ke masing-masing burung. Di tengahnya dibuatkan tempat yang aman dan nyaman untuk sang raja. Di bagian atasnya diletakkan onggokan daging yang segar dan menggiurkan.

Pelepasan “pesawat terbang ” itu disaksikan oleh ribuan rakyatnya. Dengan lambaian tangan ribuan rakyatnya, burung-burung itupun mulai terbang membawa sang Raja. Setelah berputar putar sekian lama, burung-burung itupun mulai merasa lapar. Dilihatnya Onggokan daging di atasnya, keempat burung itu serentak mengerahkan tenaganya untuk meraihnya. Semakin kuat keinginan mereka untuk meraih daging segar, lezat, dan menggiurkan itu, semakin kuatkan tenaga penggeraknya, berarti semakin tinggilah mereka terbang bersama sang raja. Sayang, daging segar itu tak bisa diraihnya sama sekali, karena ditempatkan disatu tempat yang tak mungkin terjangkau oleh mereka.

Semakin lapar, semakin bernafsu mereka untuk menggapainya, sampai akhirnya mereka kehabisan tenaga. Seluruh tenaganya telah terkuras habis, kepayahan diraskan ke seluruh anggota tubuh. Mereka mengalami kepayahan yang amat sangat. Keinginan mereka untuk beristirahat tak mungkin bisa dilakukan di ketinggian angkasa, sementara perut melilit tak tertahankan. Akhirnya burung-burung itu meluncur ke bumi, jatuh terpuruk bersama sang Raja. Mereka hancur berantakan bersama mimpi-mimpinya.

Apa yang bisa kita petik dari tamsil kisah ini? Banyak orang yang tergilincir jatuh karena mimpi-mimpinya. Mereka mengangankan sesuatu yang tak bakal digapai kecuali dalam alam khayalnya.

Para penyeru agama, sengaja ataupun tidak seringkali menjadikan ummatnya seperti burung-burung rajawali yang tertipu seperti dalam kisah di atas. Mereka memanipulasi ajaran zuhud bagai onggokan daging yang merangsang dan menggiurkan. Dengan alasan untuk meningkatkan kehidupan ruhaninya, mereka diajak terbang tinggi dan tinggi sekali. Untuk itu semua, mereka menyiksa diri dengan membiarkan perutnya kelaparan tanpa isi. Islam adalah agama yang rasional, ia tidak saja memberikan bimbingan tapi sekaligus memelihara fitrah manusia. Bahwa manusia bukanlah binatang, tapi juga bukan malaikat. Manusia tetaplah manusia dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Bahkan adanya kekuarangan manusia itu menunjukkan kesempurnaannya.

Bisa jadi “onggokan daging” itu berupa paham bahwa guru sufi atau mursyid adalah bayangan Allah di muka bumi, yang karenanya segala titah dan perintahnya adalah juga titah dan perintah Tuhan. Kepadanya para murid menyerahkan nasib baik buruknya. Penyerahan diri kepada sang Guru ruhani atau pemimpin spiritualnya tak ubahnya seperti mayat yang diam saja ketika dimandikan, dikafani, dan diusung dengan keranda ke liang kubur. Bisa jadi “onggokan daging” itu berupa paham agama bahwa Tuhan telah membagi-bagikan rizki kepada manusia dalam kadar yang telah ditentukan-Nya, yang karenanya barangsiapa yang mencari rizki melebihi kadar yang telah ditentukan untuknya berarti ia telah mengingkari taqdir-Nya. Allah tentu murka kepadanya.

“Onggokan daging” itu bisa berupa paham bahwa dunia ini tak lebih dari bangkai busuk yang tak pantas bila dikaitkan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mat tinggi dan mulia. Terlalu rendah bagi manusia yang berusaha dan bekerja untuk mendapatkannya. Dalam kaitan ini Rasulullah Saw mengingatkan kita semua: “Janganlah kalian mencaci maki dunia. Dia adalah sebaik-baik kendaraan. Dengannya kamu dapat meraih kebaikan dan dapat selamat dari kejahatan.” (HR ad-Dailami)

Untuk mencapai kelezatan iman, manusia tidak perlu meninggalkan kehidupan dunianya, menempuh cara hidup yang diciptakannya sendiri dalam suasana yang tidak alami. Memencilkan diri dari kehidupan ramai, menolak total aneka warna kehidupan untuk mencapai tingkat hakekat adalah kehidupan zuhud yang ekstrim. Pola kehidupan seperti ini tak ubahnya seperti burung rajawali yang ingin menggapai onggokan daging yang tak bakal diperolehnya, selama-lamanya.

Terhadap pola hidup seperti ini, Allah Swt secara tegas mematahkan argumentasi mereka dengan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizqi yang baik?’ Katakanlah: ‘Semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat’. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (al-A’raaf: 32)

Dalam konsep Islam, kehidupan dunia ini bukanlah untuk diludahi karena kehidupan dunia bukanlah menjijikkan, bukan najis dan kotor. Sebaliknya, kehidupan dunia adalah kudus, yang karenanya perlu disucikan dengan produktivitas dan karya-karya besar. Kreativitas itu terus dikembangkan sehingga menjadi lebih semarak, indah, dan makmur. Itulah tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

Agama Islam diturunkan bukan untuk memberkati lapar dan putus asa. Islam didatangkan di permukaan bumi sebagai landasan bagi manusia agar berusaha sekuat daya dan kemampuannya, tidak mudah lelah dan putus asa, berusaha, berkarya, dan menikmati kehidupan dunia yang lebih baik.

Dengan Islam hendaknya kaum muslimin bangkit dari keterpurukannya, berangkat menuju kehidupan, berusaha dengan sungguh-sungguh, berjuang dengan terus menrus untuk mendapatkan segala yang terbaik di dunia ini. Dunia ini bukan disiapkan untuk orang-orang kafir saja, tapi terutama adalah untuk hamba-hamba-Nya yang shalih.

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Lauh Mahfuhz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (al-Anbiyaa: 105)

Jika bumi ini diperuntukkan bagi hamba-hamba yang shalih, mengapa kita yang seringkali mengaku kaum yang shalih tidak tergerak untuk mendapatkannya? Mengapa kita puas ketika menerima sisa-sisa dari mereka? Ketika yang baik-baik dari kehidupan dunia ini diambil oleh mereka, kita hanya menonton sambil mengelus dada. Sampai kapan kita bisa lepas dari belenggu ajaran sesat yang menjadikan ummat bagai rajawali-rajawali yang menggapai-gapai onggokan daging yang kemudian jatuh terkulai?

(diambil dari majalah Hidayatullah)

Kontributor Oleh : Abu Nafis

Visi Keluarga

Visi Keluarga

Imam Syahid menempatkan keluarga menjadi sasaran kedua setelah bina fardi al-muslim. Sebelum bina mujtama’ al-islam. Urutan penempatan seperti itu bukan tanpa alasan tentunya. Logikanya masyarakat muslim tidak akan terbentuk tanpa basis keluarga yang kokoh. Basis keluarga yang kokoh tidak akan terwujud tanpa pribadi yang kokoh. Oleh karena itu menjadi amat relevan kita menengok kebelakang sirah kita dalam bina bait al-muslim.

Terekam kuat dalam ingatan saya sewaktu mendengarkan khutbah nikah di Bandung 15 tahun yang lalu. Bahwa ketika dua individu disatukan berlaku hukum matematis 1+1=2 dan bukan 1+1=1/2. Untuk menuju sinergis dibutuhkan proses panjang berkelanjutan. Proses yang harus dilakukan mestilah dimulai dari muta’arifina bainahuma (saling mengenal diantara pasangan), meningkat menjadi mutafahimina bainahuma (saling memahami diantara pasangan) dan muta’awinina bainahuma (saling bekerja sama diantara pasangan) serta mutakafilina bainahuma (senasib sepenanggungan).

Mengenal pasangan tidak cukup hanya semalam ketika berlama-lama untuk tidak segera tidur karena banyak yang ingin diobrolkan. Mengenal pasangan dibutuhkan waktu lama untuk mengetahui luar dalam. Dari yang nampak sampai yang tidak nampak. Banyak pasangan membutuhkan waktu tidak kurang dari 4 tahun pernikahan berjalan untuk memastikan dia mengenal pasangannya dan mengerti mau dan keinginan tanpa harus dikatakan. Kegagalan kita dalam mengenal pasangan akan berdampak pada sulitnya mencari titik temu untuk produktifitas. Walaupun tidak untuk produktifitas keturunan.

Keberhasilan mewujudkan saling memahami akan mengantarkan lembaga keluarga seimbang dan stabil. Rasulullah SAW ketika menerima saran dari Istri Beliau untuk memotong rambut dan menyembelih hewan ditengah kegalauan dan kekecewaan ummatnya atas gagalnya rencana haji mereka menjadi contoh baik dalam upaya mewujudkan keseimbangan. Pernikahan menurut David Reuben seperti sebuah perjalanan panjang menggunakan sebuah sampan kecil: Jika salah satunya menggoyangkan perahu, yang lain harus berusaha menjaga keseimbangannya; bila tidak demikian, mereka akan tenggelam bersama-sama.

Keluarga kokoh menjadi idaman setiap orang terlebih lagi kita. Tentu kita tidak menginginkan adanya pasangan yang nampaknya runtang-runtung namun sebenarnya keropos. Ustadz Ahmad Heriawan, Lc. (Ketua Fraksi Keadilan DPRD DKI) dalam makalahnya menulis, untuk memulai mengokohkan hubungan kita hendaklah setiap pasangan merenungkan kembali pertanyaan mendasar ‘mengapa menikah?’ dan ‘mengapa memilih dia?’. Pertanyaan akan mendapat jawaban ideologis selain hasrat badani.

Saya dan akhukum fillah sangat yakin semuanya mesti bermula dan berbasiskan spritual yang kokoh. Setelah itu baru kita mengupayakan hal-hal yang bersifat skill. Kalau toh kita harus mengasah skill dalam berumah tangga itu semata-mata apresiasi dari keimanan semata. Artinya untuk harmonisasi pasangan selain kita harus mengupayakan hadir nuansa spritual dalam membina hubungan juga meski mengupayakan hal-hal berikut ini:

Orang bijak berkata: Paling mudah bagiku untuk berteman dengan sepuluh ribu orang, Yang paling sulit justru ketika harus berteman dengan satu orang.

Wallaahu a’lam.

Kontributor Oleh : Imam Muchrozi

Untukmu Penegak Kalimat Tauhid

Untukmu Penegak Kalimat Tauhid

DR. Yusuf Qorodhowi dalam sebuah khutbah Jum’atnya di masjid ‘Umar bin Khattab, Dhoha, Qatar mengatakan adalah suatu yang lucu dan menyedihkan Amerika sebagai sebuah bangsa yang memproklamirkan dirinya sebagai penegak HAM mencantumkan batalyon syuhada Al Aqsho sebagai organisasi teroris. Lebih ironis lagi ketika Amerika melalui pemimpin negerinya mengatakan Ariel Sharon yang tangannya berluruman darah dalam membantai umat Islam, mempertahankan dirinya di tengah serangan teroris dan fundamentalis Hamas.

Lebih jauh lagi DR. Yusuf Qorodhowi mengatakan, ‘Itu sesuatu yang lucu tapi menyedihkan. Karena dengan sikap itu berarti Amerika menyamakan antara daging dan pisau, antara pembunuh dan yang dibunuh, antara korban pembantaian dan pelaku pembantaian. Kalau sikap ini yang dianggap sebagai teroris, Ya Allah jadikanlah aku sebagai orang-orang teroris…matikanlah aku sebagai teroris..dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang teroris…’

Semenjak invasi Isarel atas tanah suci Al Quds pada Mei 1948 dengan ditandai berdirinya negara Israel secara sepihak, sampai saat ini tak pernah berhenti memeras darah umat Islam Palestina. Dengan dalih merebut tanah yang dijanjikan menurut versi mereka, mereka menghalalkan membunuh anak-anak dan wanita Palestina dengan rasa penuh kebanggaan telah menjalankan ajaran kitab sucinya.

Watak ketertutupan terhadap bangsa lain, sifat individualistis serta anggapan bahwa mereka merupakan bangsa pilihan, menimbulkan kebencian terhadap bangsa ini. Akibatnya mereka sering dikejar-kejar oleh penduduk asli setempat di manapun mereka menyebar di dunia ini. Dengan gerakan yang dinamakan Zionisme yang didirikan oleh Theodore Herzl yang pada tahun 1896, menyerukan kepada bangsa Yahudi untuk mendirikan negara Yahudi, di Palestina. Berbagai kelicikan telah dipertontonkan oleh bangsa yang satu ini. Dengan berpelayankan Amerika, mereka dengan santainya berteriak keseluruh dunia, bangsa Palestina adalah Teroris. Kenyataannya, Teroris teriak Teroris.

Bom syahid yang dilancarkan oleh pemuda-pemuda Palestina nan gagah berani, sering kali dengan konspirasi besar dicap sebagai teroris fundamentalis. Teroris yang menyerang penduduk sipil Yahudi. Padahal tidak ada penduduk sipil Yahudi di Palestina krn seluruh anasir Yahudi adalah tentara.

DR. Yusuf Qorodhowi kembali berkomentar tentang aksi bom syahid ini:

‘Orang yang bunuh diri itu membunuh dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Sementara pejuang ini mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri itu adalah orang yang pesimis atas dirinya dan atas ketentuan Allah, sedangkan pejuang ini adalah manusia yang seluruh cita-citanya tertuju kepada rahmat Allah SWT.

Orang yang bunuh diri itu ingin menyelesaikan dari dirinya dan dari kesulitannya dengan menghabisi nyawanya sendiri, sedangkan seorang mujahid ini membunuh musuh Allah dan musuhnya dengan senjata terbaru ini yang telah ditakdirkan menjadi milik orang-orang lemah dalam menghadapi tirani kuat yang sombong.

Mujahid itu menjadi bom yang siap meledak kapan dan di mana saja menelan korban musuh Allah dan musuh bangsanya, mereka (baca: musuh) tak mampu lagi menghadapi pahlawan syahid ini. Pejuang yang telah menjual dirinya kepada Allah, kepalanya ia taruh di telapak tangan-Nya demi mencari syahadah di jalan Allah.’

Sekarang adalah bagimana kita sebagai muslim menjalankan ukhuwwah yang selama ini kita teriakkan di mimbar-mimbar, di kajian-kajian, di tabligh akbar, bahwa sesungguhnya muslim itu adalah ibarat sebuah tubuh, yang apabila satu bagian dari tubuh tersebut merasakan suatu kesakitan maka bagian tubuh yang lain turut merasakannya. Apa yang sudah kita perbuat untuk saudara-saudara kita di Palestina.

Bila saja seorang Yusuf Qorodhowi masih mengatakan, ‘Aku masih belum menyerahkan diriku sepenuhnya terhadap perjuangan Islam, sebagaimana Imam Ghazali yang menyerahkan dirinya untuk islam; beliau hidup bersama ilmu dan amal. Usaha kita terlalu sedikit bila dibandingkan dengan usaha kaum Yahudi dalam menegakkan Negara Israel, terlalu sedikit bila dibandingkan dengan kaum Nasrani yang giat menyebarkan ajaran agama mereka. Perjuangan kita untuk menegakkan Islam belumlah ada apa-apanya’. Bagaimana dengan kita ?

Saudaraku, Perjuangan masih panjang. Jalan berliku penuh onak masih akan kita jumpai. Darah yang keluar dari sela-sela jari kita mungkin akan keluar dari dada kita. Luruskan dan rapatkan barisan. Bersihkan niat dari segala kekotoran. Bisa jadi, kita tak merasakan waktu yang kita citakan, tetapi tongkat estafet haruslah tetap berjalan. Perteguh iman, pertajam kesadaran..Perbanyak ‘perbekalan’… Jangan sampai kita kehabisan di tengah jalan. Saudaraku, Kematian bukanlah kehinaan. Kematian adalah keindahan dan kemuliaan. Persiapkan diri agar bumi Allah ini mau menerima kita.

Allohu Akbar !!…
Ya muslimun…ya muslimun…
Ya muslimun…ya muslimun…
Ya muslimun…ya muslimun…
Jihad memanggil akankah kau bangun…

Tataplah wajah-wajah saudara-saudara kita dalam ingatan dan do’a-do’amu. Sudahkah kita peduli kepada mereka ? Dan mengulurkan tangan memberikan kehangatan takkala baju-baju mereka habis menjadi penyeka darah dan panasnya matahari Gaza. Sudahkah kita tunjukkan ? Bahwa kita adalah saudara mereka, yang siap menjadi ayah mereka, kakak mereka, anak mereka, ibu mereka, takkala ayah, ibu, anak, kakak mereka tertembus timah panas dan terlindas deru kecongkakan tank ? Hanya karena mereka berkata : Ana Muslim….Allohu Akbar….

Ataukah kita menjadi sebagian muslim dunia, yang tak ada sedetikpun terlintas nasib mereka. Sementara baju-baju kita melebihi apa yang kita butuhkan .Sementara kita bingung mau makan apa esok hari dan bukan makankah esok hari.

Wahai saudaraku…
Tahukah engkau bagaimana rasa bahagianya mati syahid ? Al-Bukhary mentakhrij dari Abu Hurairah r.a, dia berkata, ‘Aku mendengar Nabi SAW bersabda, ‘Demi yang diriku ada di tangan-Nya, sekiranya tidak ada orang-orang Mukmin yang tidak suka jika aku meninggalkan mereka dan aku tidak mendapatkan apa yang kubebankan kepada mereka, tentu aku selalu ikut dalam pasukan perang fi sabilillah. Demi diriku yang ada di tangan-Nya, aku benar-benar suka terbunuh di jalan Allah, kemudian aku dihidupkan lagi, lalu aku terbunuh lagi, lalu dihidupkan lagi, terbunuh lalu dihidupkan lagi, lalu terbunuh.’

Al-Bukhary mentakhrij dari Aslam, dari Umar bin Khaththab r.a, dia pernah berkata, ‘Ya Allah, berilah aku mati syahid di jalan-Mu, dan jadikanlah saat kematian di negeri Rasul-Mu.’

Al-Isma’ily mentakhrij dari Hafshah Radhiyallahu ‘Anha, dia menambahi riwayat di atas, ‘Aku bertanya, ‘Apa arti semua ini?’ Beliau menjawab, ‘Allah mendatangkannya pada hari kiamat menurut kehendak-Nya.’ Begitulah yang disebutkan di dalam, ‘Fathul-Bari’, 3/71.

Wahai saudaraku…
Bosnia merintih dalam kesendirian…
Qosova mengalir sungai-sungai merah…
Palestin menjerit terhimpit konspirasi kecongkakan binatang Israel dan Amerika…
Afghanistan dalam tekanan…..
Indonesia dalam keterpurukan….
Kashmir dalam penindasan….

Wahai saudaraku…
Siapkan apa yang ada yang kau mampu dan dapat kau tempuh
Masukkanlah mereka dalam barisan do’a-do’a tahajjudmu…
Berikan ruang hati kita
Untuk saudara kita disana…

Kontributor Oleh : Abu Saifulhaq