Sesuai Syariahkah Bisnis Saya ?

 

Sesuai Syariahkah Bisnis Saya ?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya mempunyai permasalahan sbb :

1. Ada seseorang yang meminjam uang kepada saya untuk bisnis menjual barang secara kredit, dimana dia mematok keuntungan 20 %, dan dia menjanjikan 3,5 % keuntungan itu untuk saya. Jadi apakah ini sudah termasuk bagi hasil yang di halalkan?

2. Dalam akadnya apakah harus ditegaskan ini adalah kerja sama usaha bukan peminjaman uang?

3. Terus kalau rugi apakah harus di tanggung bersama?

4. Lalu orang tersebut memberikan agunan berupa sebidang tanah, apakah ini dibenarkan?

Mohon dijawab segera, karena saya takut ini sudah termasuk riba yang dilarang dan diwanti-wanti untuk dijauhi oleh orang tua saya. Demikian ustadz, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih

Anis – Pontianak

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

1. Mematok keuntungan 20 % itu apa maksudnya ? Apakah dia pasti untung sebesar 20 % dalam bisnisnya yang dibiayai dari uang yang dipinjamnya dari Anda ?

Kalau benar itu maksudnya, jelas sekali bahwa keuntungan itu tidak bisa dipatok demikian. Meskipun biasanya memang selalu untung, tapi yang namanya bisnis dan usaha pasti tidak selamanya mulus. Namun itu urusan dia sendiri bila mematok keuntungan seperti itu.

Yang menjadi masalah adalah kepastiannya untuk memberi Anda 3,5 %. Pertanyaannya adalah : 3,5 % dari apa ? Apakah 3,5 % dari uang yang dipinjamnya dari Anda ? Ataukah 3,5 % dari keuntungan yang didapatnya ?

Kalau 3,5 % dari uang yang dipinjamnya dari Anda, maka jelaslah bahwa dia ingin “menyewa” uang dari Anda alias pinjam dengan cara riba. Dan ini mutlak haram tanpa basa-basi.

Tapi kalau dia mau memberikan 3,5 % dari keuntungan yang didapat dari bisnisnya, tentu saja tidak salah. Sebab yang dibayarkan adalah pembagian keuntungan, bukan pembayaran “sewa uang”.

2. Ya, dalam akadnya apakah harus ditegaskan ini adalah kerja sama usaha bukan peminjaman uang.

3. Kalau rugi biasanya ditanggung bersama, bila akadnya adalah usaha bersama atau bagi hasil. Sedangkan dalam sistem “sewa uang” yang haram itu, kalau bisnis rugi maka pemilik uang sama sekali tidak menanggung apa-apa.

4. Bila orang tersebut memberikan agunan berupa sebidang tanah, bisa dibenarkan. Sebagai jaminan bahwa dia bermaksud baik. Tapi biasanya yang namanya agunan diberikan pada kasus peminjaman uang dengan riba. Sedangkan kalau kerjasama bagi hasil, lazimnya tidak pakai jaminan segala. Sebab landasan kerja sama biasanya adalah saling percaya dengan niat masing-masing.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

Pengembalian Modal Mudharabah

 

Pengembalian Modal Mudharabah

Ass.Wr.Wb.

Mudharabah merupakan salah satu sistim bagi hasil dlm perbankan Syari’ah. misalnya Ahmad bermohon ke Bank Syariah untuk membiayai usahanya dengan tambahan modal 10 jt, dengan waktu pengembalian dana tersebut selama 3 tahun, dengan memakai bagi hasil 70:30. bagaimana cara pengembalian uang 10 Jt dari Bank Syari’ah? apakah pengembalian bagi hasil 30% selama 3 tahun sudah termasuk dari pengembalian modal terhadap Bank?

Sabar – Manado

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Jawaban pertanyaan saudara sangat tergantung isi perjanjian kerjasama Anda dengan pihak bank. Apakah cicilan yang Anda bayarkan itu dianggap sebagai bagian dari pengembalian modal, ataukah semata-mata bagi hasil selama kerja sama masih berjalan.

Kedua pilihan ini bisa-bisa saja atau mungkin-mungkin saja. Semua tergantung dari hitung-hitungan masing-masing pihak. Sebab keduanya tetap bisa dibenarkan dalam syariat Islam.

Umumnya yang namanya sebuah kerja sama bagi hasil adalah dengan kerjasama antara dua pihak atau lebih, dimana masing-masing mengeluarkan jasa dan modal. Lalu selama perjanjian kerjasama itu masih berlangsung, masing-masing pihak berhak mendapatkan bagi hasil atas keuntungan usaha bersama itu. Besarnya bagian masing-masing biasanya sebanding dengan nilai jasa dan modal masing-masing juga. Namun manakala perjanjian kerjasama itu berakhir, maka pihak pemilik modal berhak mencabut modalnya bila memang masih ada tersisa.

Tetapi ada juga bentuk kerjasama pemberian modal dimana tujuannya memang untuk mendongkrak pengusaha kecil. Maka modal itu diinvestasikan kepada pengusaha agar bisa bergerak, lalu ada bagi hasil atas usaha itu yang bila telah mencukupi nilai tertentu, lunaslah sudah hutang pihak pengusaha. Dengan cara ini, modal yang diberikan lebih mendekati bantuan yang punya nilai ekonomis.

Bentuk kedua ini biasanya dalam bentuk pengadaan alat/barang yang dibutuhkan dalam sebuah usaha. Misalnya sopir bajaj butuh kendaraan untuk menarik penumpang. Maka pemilik modal membelikan bajaj untuknya dan pak sopir mencicil kepada pihak pemodal selama kurun waktu tertentu. Bila harga cicilan itu sudah lunas, maka bajaj menjadi milik bapak sopir. Sehingga tidak perlu lagi harus membayar uang setoran.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

Menjual Sebidang Tanah Kepada Seorang Penipu, Bolehkah?

 

Menjual Sebidang Tanah Kepada Seorang Penipu, Bolehkah?

Assalamu’alaikum wr.wb

Ustadz, bolehkah menjual sebidang kepada seseorang yang diketahui pekerjaannya sebagai penipu?

Wassalamu’alaikum wr.wb Jazakumullah khoiron katsir

Ummu Nasywa – Depok

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Kebolehan bertransksi bisnis dengan seseorang pada dasarnya tidak ada kaitannya dengan perilaku orang tersebut. Apakah dia muslim ataukah kafir, tidak ada pengaruhnya pada syah tidaknya sebuah transaksi. Ataukah dia ahli maksiat atau ahli bid`ah.

Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah apakah jual beli yang kita lakukan dengan yang berangkutan itu berpengaruh kepada kekafiran atau kemaksiatan yang dilakukannya atau tidak. Misalnya, kita menjual bahan-bahan yang bisa mungkin bisa dijadikannya sebagai sarana kemaksiatan.

Misalnya menjual pisau kepada seorang yang telah dikenal sering menggunakan pisau untuk membunuh. Tentu saja transaksinya syah namun dampaknya membuat jual beli itu terlarang. Sebab kita tahu pasti untuk apakah pisau itu akan digunakan.

Maka dalam kasus Anda, bila Anda menjual tanah kepada seseorang yang secara jelas akan memanfaatkan tanah itu untuk melakukan kemungkaran, sebaiknya Anda tidak menjualnya kepadanya. Sebab bila tanah itu digunakan untuk kemungkaran, Anda pun sedikit banyak punya andil dalam kemungkaran itu.

Sebaliknya, bila sama sekali tidak ada indikasi keterkaitan antara kemungkaran yang dilakukannya dengan barang yang dibeli dari Anda, pada dasarnya tidak ada larangan untuk berjual beli. Hanya saja sebagai orang yang bertransaksi bersama, Anda punya kewajiban untuk mencegahnya melakukan kemungkaran semampu yang Anda sanggup lakukan.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

 

Mencatat Bunga Pinjaman Perusahaan Atas Transaksi Ribawi

Mencatat Bunga Pinjaman Perusahaan Atas Transaksi Ribawi

Assalamualaikum

Saya adalah seorang akuntan di sebuah perusahaan yang terkadang perusahaan tsb melakukan pembelian atau penjualan dalam bentuk kredit, maka saya harus mencatat beban bunga untuk mempersiapkan laporan keuangan. Apakah saya termasuk golongan orang yang ada di dalam Al-Quran yang tidak disenangi Allah karena telah mencatat riba ustadz? Syukron Jazakillah

Tia – Cilandak

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Kalau menengok matan hadits secara zahir, orang yang mencatat transaksi yang ribawi memang sempat disebut-sebut sebagai orang yang dilaknat oleh Rasulullah SAW.

Jabir bin Abdillah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orangyang menjadi saksinya.” Dan beliau bersabda: “Mereka itu sama.” (HR Muslim)

Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melaknat orang yang makan riba dan yang memberi makan dari hasil riba, dua orang saksinya, dan penulisnya.” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan:

“Orang yang makan riba, orang yang memberi makan dengan riba, dan dua orang saksinya –jika mereka mengetahui hal itu– maka mereka itu dilaknat lewat lisan Nabi Muhammad saw. hingga han kiamat.” (HR Nasa’i)

Hadits-hadits sahih yang sharih itulah yang menyiksa hati orang-orang Islam yang bekerja di bank-bank atau perusahaan yang aktivitasnya tidak lepas dari tulis-menulis dan bunga riba.

Namun perlu diperhatikan bahwa masalah riba ini tidak hanya berkaitan dengan pegawai bank atau penulisnya pada berbagai syirkah, tetapi hal ini sudah menyusup ke dalam sistem ekonomi kita dan semua kegiatan yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana umum sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw.:

“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia akan terkena debunya.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

Kondisi seperti ini tidak dapat diubah dan diperbaiki hanya dengan melarang seseorang bekerja di bank atau perusahaan yang mempraktekkan riba. Tetapi kerusakan sistem ekonomi yang disebabkan ulah golongan kapitalis ini hanya dapat diubah oleh sikap seluruh bangsa dan masyarakat Islam.

Perubahan itu tentu saja harus diusahakan secara bertahap dan perlahan-lahan sehingga tidak menimbulkan guncangan perekonomian yang dapat menimbulkan bencana pada negara dan bangsa. Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk melakukan perubahan secara bertahap dalam memecahkan setiap permasalahan yang pelik.

Cara ini pernah ditempuh Islam ketika mulai mengharamkan riba, khamar, dan lainnya. Dalam hal ini yang terpenting adalah tekad dan kemauan bersama, apabila tekad itu telah bulat maka jalan pun akan terbuka lebar.

Setiap muslim yang mempunyai kepedulian akan hal ini hendaklah bekerja dengan hatinya, lisannya, dan segenap kemampuannya melalui berbagai wasilah (sarana) yang tepat untuk mengembangkan sistem perekonomian kita sendiri, sehingga sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai contoh perbandingan, di dunia ini terdapat beberapa negara yang tidak memberlakukan sistem riba, yaitu mereka yang berpaham sosialis.

Di sisi lain, apabila kita melarang semua muslim bekerja di bank atau perusahaan yang menjalankan riba, maka dunia perbankan dan sejenisnya akan dikuasai oleh orang-orang nonmuslim seperti Yahudi dan sebagainya. Pada akhirnya, negara-negara Islam akan dikuasai mereka. Dan janganlah kita melupakan kebutuhan hidup yang oleh para fuqaha diistilahkan telah mencapai tingkatan darurat. Kondisi inilah yang mengharuskan seseorang untuk menerima pekerjaan tersebut sebagai sarana mencari penghidupan dan rezeki, sebagaimana firman Allah SWT:

“… Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Baqarah: 173)

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Membulatkan Harga Nominal

 

Membulatkan Harga Nominal

Assalamu’alaikum wr.wb

Gimana hukumnya kalau kita membulatkan harga yang sudah tertera di print out, seperti misalnya dalam pembayaran telp pd sebuah wartel. Terimakasih sebelumnya.

Wassalam

Pipit – Purworejo

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Perkara ini meski kecil namum layak untuk diperhatikan. Sebab ketika seseorang menetapkan harga, yang wajib dibayarkan adalah apa yang telah ditetapkan. Bila ada kekurangan dari uang kembalian karena pecahan nominalnya sulit didapat, paling tidak harus ada pernyataan untuk meminta keikhlasan kepada pihak yang haknya terambil.

Sebab meski nilai uang pecahan itu hanya beberapa rupiah, tetapi bila dijumlahkan pastilah akan menjadi teramat banyak. Untuk itu, pihak penjual harus memastikan bahwa uang kembalian itu utuh, tidak dibulatkan. Dan bila terpaksa harus dibulatkan, sampaikan dulu permintaan kepada konsumen bahwa kembaliannya terpaksa dibulatkan karena alasan teknis. Umumnya pihak pembeli bisa maklum dengan alasan itu tetapi bila disampaikan permohonan maaf serta kesediaan untuk mengikhlaskannya, tentu orang yang merasa dihargai dengan baik.

Sebab sebuah transaksi itu disyaratkan untuk bisa terjadi kesepakatan dan saling ikhlas atas apa yang mereka lakukan.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

Jasa Jual Beli Properti/rmh/tanah Hukumnya Apa?

 

Jasa Jual Beli Properti/rmh/tanah Hukumnya Apa?

assalamualikum

bagaimanakah hukum secara islam jasa jual beli properti. misal A punya rmh yang hendak dijual. B adalah broker suatu usaha jasa jual beli properti. dimana B akan mencari pembeli. dan B memperoleh Komisi dari hasil jual beli rmh tsb. halalkah komisi yang diterima B.

wassalam

Abdul Aziz – Surabaya

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Apa yang dilakukan oleh B itu diistilahkan dalam fiqih sebagai samsarah. Dan pelakunya disebut simsar. Artinya adalah perantara, broker atau orang yang berjasa untuk menjualkan sesuatu kepada pihak lain dan mendapatkan imbalan atas jasanya itu.

Hukum simsarah dalam Islam pada dasarnya adalah halal, selama dia melakukannya dengan etika dan ketentuan yang dibenarkan syariat Islam. Praktek seperti itu dibenarkan dalam Islam karena akadnya jelas dan saling menguntungkan serta tidak ada pihak yang dizalimi.

Samsarah sendiri sudah dipraktekkan di masa Rasulullah SAW dan juga para shahabat. Ibnu Abbas, salah seorang shahabat Rasulullah SAW mengatakan bahwa boleh hukumnya seorang menyuruh orang lain untuk menjualkan pakaian, “Jualkanlah baju ini, kalau ada lebihnya (dari harga yang aku tetapkan), maka lebihnya itu untuk kamu”.

Ibnu Sirin juga mengatakan boleh hukumnya seseorang berkata, ”Jualkanlah barangku ini dengan harga sekian, tapi kalau kamu bisa mendapat harga lebih dari itu, ambillah sebagai keuntunganmu”.

Imam Al-bukhari menyebutkan bahwa ‘Athi, Ibrahim dan Al-Hasan pun membolehkan praktek simsarah ini. Yang penting dasarnya adalah kesepakatan antara pemilik barang dengan yang menjualkannya. Sabda Rasulullah SAW :

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Orang Islam itu terikat pada syarat (perjanjian) yang disepakatinya”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

 

Investasi di Perusahaan Future Trading

 

Investasi di Perusahaan Future Trading

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Ustadz, saya ingin menanyakan hukum bekerja di perusahaan berjangka. Di sana barang yang diperjualbelikan belum tersedia (future trading). Dan bagaimana hukum orang yang melakukan investasi di perusahaan tersebut, apakah termasuk perjudian karena nilai spekulasi yang tinggi.

Atas jawaban ustadz saya ucapkan terima kasih, Jazakumullahu khairan katsiiro.

Wassalam,

Ummu Naufal

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

Di zaman yang maju sekarang ini, jenis-jenis transaksi jual beli telah merambah ke wilayah yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan dalam benak orang dahulu. Apalagi ditambah dengan kemajuan fasilitas alat komunikasi yang berhasil menjadi bumi ini hanya sebuah bulatan kecil saja.

Maka perdagangan dunia sudah menjadi hal yang lazim kalau seorang pembeli dan penjual melakukan transaksi dan antara keduanya dipisahkan jarak siang dan malam.

Kita di zaman ini mengenal sebuah jenis bisnis baru yaitu Future Trading atau Future Komoditi. Dan sesuai dengan istilahnya, bisnis ini memang merupakan sebuah perdagangan di masa depan. Yaitu sebuah komoditas yang dijual namun baru akan ada wujud komoditasnya itu nanti di masa yang akan datang.

Gambaran sederhananya adalah seorang petani besar menjual padi yang akan dipanennya kepada pihak lain meskipun padinya saat ini sedang atau malah belum ditanam. Namun dia menjual padi itu dengan harga hasil panen nanti. Sebab diperkirakan dalam waktu 3 bulan, padi yang akan dihasilkan dari sawahnya akan mencapai 1 juta ton. Maka saat ini dia sudah menjual padi dengan kuantitas 1 juta ton dan telah menerima uangnya saat ini pula.

Pihak pembeli secara hukum adalah pemilik 1 juta ton padi yang dalam waktu 3 bulan lagi akan segera terwujud. Namun sebenarnya pihak pembeli sama sekali tidak butuh padi sebanyak 1 juta ton. Surat pembelian/hak atas padi 1 juta ton itu pun ditawarkan kepada pihak lain, tentu saja dengan harga yang lebih tinggi.

Pihak lain akan menaksir kira-kira berapa harga 1 juta ton padi pada tiga bulan ke depan. Bila menurut analisa konsultan bahan pangan, harganya akan melambung naik tiga bulan lagi, maka dia pun akan membelinya dari bursa komoditi itu. Demikianlah kepemilikan padi 1 juta ton itu akan berpindah-pindah dari satu tangan ke tangan lain, antara sekian banyak pialang future komoditi.

Antara Future Trading dengan Bai’us Salam

Sekilas memang ada kemiripan antara future trading ini dengan akad bai’ salam atau salaf, yaitu jual beli dengan pembayaran harga yang disepakati secara tunai, sedang penyerahan barangnya ditangguhkan kemudian pada waktu yang dijanjikan oleh penjual dan disetujui pembeli (jatuh tempo).

Dalam akad salam harga sudah tetap, tidak dikenal padanya penambahan, kenaikan atau pun penurunan harga.

Kebolehan transaksi bai’us salam ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW Dari Ibnu Abbas berkata:

Rasulullah SAW datang ke Madinah, sedang masyarakat Madinah melakukan transaksi salaf (salam) setahun, dan dua tahun. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang melakukan salaf, maka lakukanlah dalam takaran yang jelas, timbangan yang jelas dan waktu yang jelas.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Namun bila menilik lebih dalam serta membandingkan secara cermat antara future komoditi dengan bai’us salam, ada beberapa titik perbedaan yang amat besar. Misalnya pada motivasi pembeli future komoditi. Bila dalam bai’us salam motivasinya adalah semata-mata hubungan antara penjual dan pembeli, namun dalam futue komoditi lebih dari itu.

Sebab pembeli bukan semata-mata berniat untuk membeli barang, namun berniat untuk berdagang atau menjual kembali dengan melihat fluktuasi harga. Dengan hitungan tertentu, pada saat harga barang rendah, dia akan membeli sebanyak-banyaknya. Sambil memperkirakan kapankah nanti harga barang akan naik sesuai dengan usia panen tanaman itu. Bila tiba waktunya, pada saat harga barang tinggi maka ia melepas surat tanda kepemilikan barang.

Begitulah berpindah-pindah dari satu orang ke-orang lain menjual surat berharga tersebut tanpa mengetahui barangnya. Unsur penambahan/kenaikan harga atau penurunan/pengurangan harga setelah transaksi dan pembayaran dilunasi disebut capital gain.

Letak Keharaman Akad Ini

a. Gambling

Unsur penambahan atau pengurangan inilah sebenarnya yang mengandung karakter gambling (maysir). Dalam konteks ini, para ulama memandang bahwa bursa komoditi seperti ini sangat erat dengan sebuah perjudian yang haram hukumnya. Jelasnya dalam bisnis seperti ini, target pembeli adalah melakukan praktek gambling (qimar/maysir) dengan naik turunnya harga barang yang ditentukan oleh pasar. Sebab bukan dengan melihat dan memeriksa terlebih dahulu barang itu. Sehingga baik pembeli maupun penjual sama sekali tidak pernah melihat langsung barang yang mereka perjual belikan. Bahkan transaksi itu hanya lewat pembicaraan telepon.

b. Unsur Jahalah

Hal lain yang membuat tidak diterimanya bisnis seperti ini oleh syariat adalah bahwa pembeli menjual kembali barang yang belum ia terima kepada pembeli kedua atau orang lain. Padahal salah satu syarat dari syahnya jual beli adalah adanya al-Qabdh, yaitu penerimaan barang dari penjual kepada pembeli. Padahal baik penjual maupun pembeli, keduanya sama-sama tidak pernah tahu dimanakah barang itu dan seperti apa rupanya. Bahkan bisa jadi barangnya memang tidak ada sama sekali, entah karena diserang hama dan sebagainya.

Profesi Konsultan pada Future Trading

Adapun memberikan jasa konsultasi untuk keperluan future trading yang mengandung unsur praktek haram seperti di atas termasuk memberikan dukungan untuk suatu kema’siatan atau manivestasi ta’awun ‘alal itsmi. Maka, penghasilan yang diperoleh dari jasa konsultasi ini hukumnya adalah haram.

Hal yang hampir mirip terjadi juga pada bursa saham dan money changher. Kedua model akad ini secara mendasar adalah halal. Tetapi hukum itu berubah jika sudah mengarah pada maisir (gambling), yaitu motivasi jual beli saham untuk mencari selisih keuntungan, bukan penyertaan modal.

Begitu juga pada jual beli mata uang, motivasinya untuk mencari keuntungan dari selisih harga tersebut bukan untuk kebutuhan, misalnya keluar negeri dan lain-lain.

Maka hukum kedua jenis transaksi tersebut berubah dari halal menjadi haram, karena sudah masuk pada judi yang diharamkan Allah.

Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.

 

Hukum Lelang dan Mengambil Untung yang Tinggi

Hukum Lelang dan Mengambil Untung yang Tinggi

Pak ustadz,

1. Bagaimana hukum penjualan dengan sistem lelang?

2. Dalam berjualan, apakah dibolehkan menjual dengan mengambil untung yang tinggi. Misalnya telur mentah Rp 500, setelah digoreng kemudian di warung makan kita jual Rp 2.000 (4x lipat)?

3. Bagaimana hukum menimbun barang dagangan? Misalnya orang yang menimbun pupuk sehingga pupuk langka dan kemudian menjual dengan harga tinggi kepada petani? Apakah ada batasan bagaimana kita menyimpan stok barang?

Agus

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

1. Hukum Lelang

Lelang adalah sebuah transaksi legal dan syah dalam hukum Islam. Lelang dikenal juga dengan istilah Muzayadah. Rasulullah SAW sendiri melakukan elang kepada para shahabatnya. Dan praktek lelang telah berlangsung berabad-abad dalam perjalanan umat Islam.

Yang dimaksud dengan tidak boleh membeli barang yang sedang ditawar orang lain bukanlah lelang. Karena keduanya sangat berbeda. Dalam contoh kasus yang dilarang untuk membeli barang yang sedang ditawar orang lain adalah seperti demikian: Si A sedang menawar barang dari B tapi harganya belum disepakati. Lalu tiba-tiba muncullah C yang tidak ikut sejak awal penawaran itu dan langsung membeli barang yang sedang ditawarkan kepada A.

Dan dalam hal ini tanpa meminta izin lagi kepada A yang tentu saja membuat A sakit hati. Praktek ini jelas dilarang. Tapi bila dalam tawar menawar itu si C juga ikut serta dalam menawar sejak awal bersama dengan A, lalu B mengatakan akan menjual barang itu kepada siapa saja yang memberi harga tertinggi, maka hal itu boleh dilakukan. Dan itulah yang disebut lelang.

2. Islam tidak membatasi batas maksimal keuntungan yang boleh didapat dari menjual suatu barang. Hanya saja jangan sampai terjadi monopoli di mana sebuah barang yang menyangkut hajat hidup orang banyak hanya dimiliki oleh satu penjual, lalu penjual ini menaikkan harga setinggi-tingginya hingga mencekik masyarakat. Jelas perbuatan ini diharamkan, karena sifatnya zalim dan merugikan orang banyak.

Namun bila tidak ada seorang pun yang terzalimi dengan harga itu dan orang-orang masih punya pilihan untuk membeli di tempat lain dengan harga yang terjangkau, tidak ada salahnya seorang pedagang mengambil keuntungan berlebih.

Contoh yang mudah adalah pada sebuah restoran ayam goreng terkenal. Sepotong ayam di restoran itu bisa berharga Rp 10.000. Sementara di samping restoran itu ada pedagang kaki lima yang juga menjual ayam goreng hanya seharga Rp 3.000,-. Padahal keduanya sama-sama digoreng dan besarnya pun sama. Tetapi restoran itu menaikkan harga sampai 3 kali lipat. Dan ini syah-syah saja hukumnya. Tinggal silahkan masyarakat memilih, mana yang mereka mau beli sesuai dengan isi kantongnya. Dan buktinya keduanya punya pelanggan sendiri-sendiri.

3. Dalam kasus menimbung barang, yang perlu diperhatikan adalah jawaban soal nomor dua. Intinya jangan sampai membuat orang lain terzalimi dengan harga yang mencekik. Tetapi kalau sekedar menyimpang barang dan baru menjualnya hingga harga pasaran cukup baik, tentu tidak salah. Sebab kenaikan harga bukanlah dia yang menentukan, melainkan harga pasar yang berlaku. Apalagi bila barang itu tidak merupakan monopoli yang dimiliki oleh segelintir orang saja. Maka menaikkan harga sesuai dengan harga pasar menjadi hal yang boleh dilakukan.

Wallahu a’lam bishshawab Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.

Hukum Berjualan Patung

 

Muamalah
Hukum Berjualan Patung

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Kalo saya membantu menjual patung batu atau patung kayu, bagaimana hukumnya (saya dapat keuntungan dari setiap patung yang terjual)? Patung tersebut tidak ada di tempat saya, saya hanya menjual virtual/lewat internet, promosi dengan pamflet). Terima kasih atas jawaban ustadz.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Arry – Jakarta

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

Boleh tidaknya anda melakukan apa yang anda tanyakan sebenarnya kembali kepada hukum patung itu sendiri dalam hukum Islam. Di dalam hadis disebutkan, bahwa Jibril a.s. tidak mau masuk rumah Rasulullah s.a.w. karena di pintu rumahnya ada sebuah patung. Hari berikutnya pun tidak mau masuk, sehingga ia mengatakan kepada Nabi Muhammad:

“Perintahkanlah supaya memotong kepala patung itu. Maka dipotonglah dia sehingga menjadi seperti keadaan pohon.” (Riwayat Abu Daud, Nasai, Tarmizi dan Ibnu Hibban)

Dari hadis ini segolongan ulama ada yang berpendapat diharamkannya patung apabila dalam keadaan sempurna, tetapi kalau salah satu anggotanya itu tidak ada yang kiranya tanpa anggota tersebut tidak mungkin dapat hidup, maka membuat patung seperti itu hukumnya mubah.

Tetapi menurut tinjauan yang benar berdasar permintaan Jibril untuk memotong kepala patung sehingga menjadi seperti keadaan pohon, bahwa yang mu’tabar (diakui) di sini bukan karena tidak berpengaruhnya sesuatu anggota yang kurang itu terhadap hidupnya patung tersebut, atau patung itu pasti akan mati jika tanpa anggota tersebut. Namun yang jelas, patung tersebut harus dicacat supaya tidak terjadi suatu kemungkinan untuk diagungkannya setelah anggotanya tidak ada.

Cuma suatu hal yang tidak diragukan lagi, jika direnungkan dan kita insafi, bahwa patung separuh badan yang dibangun di kota guna mengabadikan para raja dan orang-orang besar, haramnya lebih tegas daripada patung kecil satu badan penuh yang hanya sekedar untuk hiasan rumah.

Termasuk patung yang diharamkan, yaitu gambar/lukisan yang dikuduskan (disucikan) oleh pemiliknya secara keagamaan atau diagung-agungkan secara keduniaan.

Seperti patung malaikat, nabi-nabi, misalnya Nabi Ibrahim, Ishak, Musa dan sebagainya. Patung-patung itu biasa dikuduskan oleh orang-orang Nasrani, dan kemudian sementara orang-orang Islam ada yang menirunya, yaitu dengan melukiskan Ali, Fatimah dan lain-lain.

Juga patung-patung dewa, raja, pemimpin dan seniman. Ini dosanya tidak seberapa kalau dibandingkan dengan yang pertama tadi. Tetapi akan meningkat dosanya, apabila yang dilukis itu orang-orang kafir, orang-orang yang zalim atau orang-orang yang fasik. Misalnya para pemimpin kafir yang menghukum dengan selain hukum Allah, para pemimpin yang mengajak umat untuk berpegang kepada selain agama Allah atau seniman-seniman yang mengagung-agungkan kebatilan dan menyiar-nyiarkan kecabulan di kalangan umat.

Kebanyakan patung dan gambar di zaman Nabi dan sesudahnya adalah lukisan-lukisan yang disucikan dan diagung-agungkan. Sebab pada umumnya lukisan-lukisan itu adalah buatan Rum dan Parsi (Nasrani dan Majusi). Oleh karena itu tidak dapat melepaskan pengaruhnya terhadap pengkultusan kepada pemimpin-pemimpin agama dan negara.

Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Abu Dhuha pernah berkata sebagai berikut: Saya dan Masruq berada di sebuah rumah yang di situ ada beberapa patung. Kemudian Masruq berkata kepadaku: Apakah ini patung Kaisar? Saya jawab: Tidak! Ini adalah patung Maryam.

Masruq bertanya demikian, karena menurut anggapannya, bahwa lukisan itu buatan orang Majusi yang biasa melukis raja-raja mereka di bejana-bejana. Tetapi akhirnya ketahuan, bahwa patung tersebut adalah buatan orang Nasrani.

Dalam kisah ini Masruq kemudian berkata: Saya pernah mendengar Ibnu Mas’ud menceriterakan apa yang ia dengar dari Nabi s.a.w., bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di sisi Allah, ialah para perupa.”

Selain patung di atas, yaitu misalnya dia menggambar/melukis makhluk-makhluk yang tidak bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, laut, gunung, matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Maka hal ini sedikitpun tidak berdosa dan tidak ada pertentangan sama sekali di kalangan para ulama.

Dan bila demikian hukum patung, maka haramlah memperjual belikannya, membuatnya atau mengambil keuntungan dari bisnisnya. Kecuali bila benda itu tidak masuk dalam kategori patung, seperti boneka, mainan, robot, alat peraga berbentuk tubuh manusia yang digunakan oleh dunia pendidikan, kedokteran, dan sejenisnya. Sebab alat-alat ini memang bukan patung dalam makna dan esensi.

Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.

 

 

Dititipi Beli Barang, Bolehkah Harga Di-Markup

 

Dititipi Beli Barang, Bolehkah Harga Di-Markup

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya ingin bertanya tentang berjual-beli. Bagaimana hukumnya, bila kita dititipi seseorang untuk membelikan sesuatu, lalu kita sampaikan harga barang tersebut lebih tinggi daripada harga yang sebenarnya, dengan maksud agar kita mendapat keuntungan. Hanya itu yang ingin saya tanyakan, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Anhar Ahmad

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du

Boleh tidaknya akan sangat tergantung pada posisi anda dalam transaksi itu. Bila posisi anda sebagai semata-mata orang yang diamanahi untuk membeli suatu barang, maka anda harus jujur dalam masalah harga. Anda tidak bisa mengambil keuntungan begitu saja dengan memark-up harga karena anda hanya orang yang dititipi.

Namun kalau posisi anda adalah bagian dari pihak penjual dan sudah ada semacam kesepakatan antara anda dengan penjual di mana anda akan mendapatkan upah atas terjualnya barang milik penjual, maka apa yang anda lakukan adalah sebagai simsar atau perantara. Simsar adalah orang yang membantu menjaulkan barang kepada orang lain dimana dia berhak mendapatkan bagian dari hasil penjualan itu.

Praktek seperti itu dibenarkan dalam Islam karena akadnya jelas dan saling menguntungkan serta tidak ada pihak yang dizalimi. Samsarah sendiri sudah dipraktekkan di masa Rasulullah SAW dan juga para shahabat. Ibnu Abbas, salah seorang shahabat Rasulullah SAW mengatakan bahwa boleh hukumnya seorang menyuruh orang lain untuk menjualkan pakaian, “Jualkanlah baju ini, kalau ada lebihnya (dari harga yang aku tetapkan), maka lebihnya itu untuk kamu.”

Ibnu Sirin juga mengatakan boleh hukumnya seseorang berkata, ”Jualkanlah barangku ini dengan harga sekian, tapi kalau kamu bisa mendapat harga lebih dari itu, ambillah sebagai keuntunganmu”.

Imam Al-bukhari menyebutkan bahwa ‘Athi, Ibrahim dan Al-Hasan pun membolehkan praktek simsarah ini. Yang penting dasarnya adalah kesepakatan antara pemilik barang dengan yang menjualkannya. Sabda Rasulullah SAW: Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Orang Islam itu terikat pada syarat (perjanjian) yang disepakatinya”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).

Maka dalam jenis akad kedua ini, anda tidak bertindak sebagai orang yang diamanahi untuk membeli barang, melainkan sebagai orang yang mewakili penjual barang untuk membantu menjualkannya. Bila demikian, maka anda berhak mendapatkan keuntungan dari hasil transaksi itu.

Wallahu a’lam bishshawab,
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kontributor Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.