Yang Bersedih di Hari Raya

 

Yang Bersedih di Hari Raya
 

Meski bukan baru, tapi baju yang saya pakai masih terlihat seperti baru. Bersih dan rapi. Begitu juga yang dikenakan istri dan anak-anak saya. Tangis haru dan tawa gembira mewarnai suasana lebaran hari itu. Sepulang sholad Id, anak-anak cantik kami berlarian memburu nenek mereka untuk meminta cium. Setelah sebelumnya berhamburan di pelukkan kami, mengecup lembut tangan dan pipi kami. Saya dan istri membalasnya dengan kecup terkasih. Sebelum berlalu, tak lupa mereka meminta ‘jatah’ uang lebaran.

Ada air mata yang menetes saat kutatap wajah tua di hadapanku. Terlalu lemah hati ini untuk menahan rasa yang begitu dalam terhadap ibu, sesosok anggun yang selalu ingin kucium kakinya. Kurengkuh kaki letihnya, kunikmati wangi cintanya seraya berharap kelak mendapatkan surgaku dari sana. Lalu, mengalirlah doa dan kalimat penuh kasihnya untuk anak yang sering tak tahu membalas budi ini. Kemudian satu persatu adikku tersungkur di kakinya.

Aneka kue khas hari raya yang sejak subuh telah tersedia di meja ruang tamu nampaknya tak sabar menanti untuk disentuh. Saya dan istri, tentu saja takkan melewatkan hidangan khas lebaran di rumah cinta itu, Laksa Betawi. Tidak hanya anak-anak ibu yang menikmati Laksa masakan ibu, tapi juga sahabat-sahabat saya yang sengaja datang untuk dua hal; silaturahim dan Laksa!

Begitu indah dan harunya hari raya kami, hingga saya hampir terlupa akan sebuah janji jika saja tak diingatkan seorang sahabat. “Jadi kan kita ke sana?”

Berenam kami memacu kendaraan menuju tempat yang sudah kami rencanakan untuk dikunjungi. Untuk sementara, kami tangguhkan rencana silaturahim ke beberapa teman lama. Tak lebih dari lima belas menit, kami sudah sampai di depan sebuah rumah yang kami tuju.

Sebaris senyum belasan anak-anak dari halaman rumah menyambut salam kami. Seorang dari mereka yang paling besar mempersilahkan kami masuk …

Rumah kecil itu, dinding-dindingnya terlihat terkelupas di beberapa sisi. Tak ada satu pun anak yang mengenakan baju baru, sepatu baru, juga tak ada yang terlihat tengah menghitung-hitung uang hasil pemberian saudara-saudara mereka. Tak ada kue khas hari raya. Tak tersedia ketupat lebaran, apalagi semur daging atau rendang pelengkap sayur bumbu kuning. Air yang tersedia untuk kami pun hanya air tak berwarna, jelas, karena mereka tak punya sirup.

Di rumah panti anak yatim itu, hanya ada mata-mata kosong menanti uluran tangan para dermawan. Mereka tak pernah lagi menikmati saat-saat indah di hari raya dengan aneka hidangan, pakaian bagus, cium dan peluk hangat dari orang-orang terkasih. Tak lagi mereka dapatkan punggung tangan dan pipi untuk dikecup sepulang sholat Id, juga kaki-kaki mulia tempat mereka bersimpuh, bahkan sebagian besar mereka pun tak pernah tahu wajah orang yang pernah melahirkannya.

Sebagian mereka mengaku terus bertanya, kenapa Allah membiarkan mereka hidup tanpa orang tua? “Apakah Allah tak ingin melihat saya bermanja dengan ibu?” tanya Ardi, salah seorang penghuni panti berusia delapan tahun. Tidak sedikit dari mereka terus berharap Allah mengembalikan orang tua mereka agar mereka bisa merasakan menjadi anak, yang mendapatkan kasih sayang orang tua, agar ada tangan yang dikecup saat berangkat dan pulang sekolah, agar ada satu kesempatan bagi mereka untuk menikmati manisnya berbakti.

Mereka seolah tak peduli dengan aneka makanan dan hadiah yang kami bawa. Bukan itu yang mereka rindui. Mereka mengaku sudah terbiasa hidup tanpa berlimpah makanan. Bersekolah tanpa uang jajan pun sudah keseharian mereka. Ada yang lebih mereka rindui di sepanjang hari, terlebih di hari raya ini.

Akbar, lelaki kecil berusia enam tahun menghampiri dan berbisik di telinga saya, “Kak, gimana rasanya tidur ditemani mama?”

Gagal saya menahan air mata ini ….

 

Kontributor Oleh : Bayu Gautama

 

Walk The Talk

 

Walk The Talk
 

Sukses itu sudah ada resepnya, tinggal bagaimana kita berani memulai untuk mencoba resep tersebut. Seperti saat membuat agar-agar, maka dengan berlatih dan terus mencoba akan memperlezat agar-agar yang kita buat.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, “Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.

Menyimak ayat al-Quran di atas,u menjadi orang yang sesuai antara perkataan dan perbuatan. Ti sebenarnya kita sudah di-“guide” oleh Yang Maha Kuasa untuk selaldak satunya kata dan amal akan mendatangkan murka dari Allah SWT. Jadi sebenarnya kita dituntut untuk selalu memperhatikan apakah sudah sesuai antara perkataan dengan amal perbuatan kita.

Bicara itu mudah, tetapi melakukan itu lebih sulit. Dan kebanyakan orang hanya pandai bicara, padahal salah satu kunci sukses adalah dengan melakukan apa yang dikatakan (diimpikan). Menurut Ken Melrose dalam bukunya Making the Grass Greener on Your Side mengatakan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah cukup hanya dengan membaca buku dan menghadiri seminar terkini tanpa mengamalkannya. Namun seorang pemimpin harus jujur pada dirinya, membumi dan “melakukan apa yang dikatakan” (Walk the Talk) setiap hari.

Artinya, kita tidak akan pernah beranjak dari posisi kita saat ini jika kita tidak memahami dan mengamalkan keinginan kita dalam hidup ini. Bercita-cita tinggi namun hanya sebatas mimpi dan angan-angan. Berbicara melangit tapi tak pernah berusaha membumi.

Jadi kuncinya adalah bagaimana mengaktualisasikan mimpi kita menjadi karya nyata sehingga dapat menjadi contoh bagi orang lain dan memiliki daya gugah yang sangat besar.

Jadi jika kita saat ini kita masih jauh dari kesuksesan yang kita idamkan, maka sudah saatnya kita mulai melakukan sesuatu. Segeralah berbuat, do a little thing but do it right here, right now, Not tomorrow but today. Karena sesungguhnya kesuksesan adalah hasil dari rangkaian sukses-sukses kecil.

Masih ingat ketika waktu masih kecil kita sering ditanya, “Kalau sudah besar mau jadi apa?” lalu dengan lantangnya kita menjawab, “Saya ingin jadi dokter”. Sebuah mimpi anak kecil yang kemudian ditindak lanjuti dengan bersekolah demi tujuan yang dituju. Mulai dari SD, SMP, SMA, kuliah di fakultas kedokteran sampai akhirnya lulus sebagai sarjana kedokteran. Sebuah formula kesuksesan sebenarnya sudah sama-sama kita ketahui dan pahami.

Kebanyakan orang merasa cukup hanya dengan bermimpi maka dia bisa mencapai cita-citanya. Saya sering mendengar ada orang yang bercita-cita ingin menjadi pengusaha sukses, tapi hingga sekarang dia tidak pernah memulai berbisnis dan mendirikan perusahaan. Atau ada juga yang ingin menjadi penulis terkenal, tapi menulis saja masih ragu-ragu. Mereka akhirnya hanya menjadi pemimpi dan hanya mengangankan impiannya itu jadi kenyataan.

Sebenarnya untuk memulai sesuatu itu sangatlah mudah, yang terpenting kita mempunyai tujuan yang jelas membuat perencanaan dan mulai membuat “environment” yang mendukung tercapainya cita-cita kita. Seperti contoh di atas, cita-cita menjadi dokter maka sudah seyogyanya memilih fakultas kedokteran sebagai tempat menuntut ilmu. Bergaul dengan sesama mahasiswa kedokteran yang memiliki minat yang sama. Karena dengan demikian, si calon dokter akan mendapatkan tempat untuk mengasah pengetahuan dan belajar mengaplikasikan ilmunya di lingkungan yang tepat.

Jadi sebenarnya tidak ada yang sulit selama kita mau mengubah kerangka berfikir kita. Mulailah dengan mengubah pola pikir, lalu lakukan, perbaiki, lakukan lagi. Sebab kita tidak pernah tahu apakah langkah yang kita ambil salah atau benar jika belum melakukan.

Saya jadi ingat pengalaman waktu mencoba membuat agar-agar. Subhanallah, bayangkan untuk dapat membuat agar-agar seserdahana itu saja dibutuhkan pengalaman yang tidak sedikit. Beberapa langkah harus dipersiapkan, dari mulai pemilihan bahan, membuat campuran adonan hingga menentukan lamanya pengadukan adonan. Learn through experience. Anda tidak akan pernah tahu rasanya enak atau tidak jika tidak pernah mencoba membuatnya. Sukses itu sudah ada resepnya, tinggal bagaimana kita berani memulai untuk mencoba resep tersebut. Seperti saat membuat agar-agar, maka dengan berlatih dan terus mencoba akan memperlezat agar-agar yang kita buat.

Sudah saatnya kita memulai dengan mencontoh Rasulullah SAW dengan menjadikan Al-Quran berjalan bersama dengan dirinya, menebar semerbak kebaikan, menjadi tauladan bagi kemanusiaan. Sehingga ketika seorang sahabat bertanya kepada Aisyah r.a. tentang akhlak Rasulullah, maka ia menjawab, “Akhlak Rasulullah tidak lain adalah Al-Quran!” Dengan kata lain, Rasulullah adalah The Walking and The Living Qur’an, contoh nyata aktualisasi Al-Qur’an!

Jika sudah begitu maka tidak lagi ada istilah sholat tapi korupsi jalan terus. Mengaji tapi maksiat tahan sampai pagi. Dan umat Islam tidak lagi hanya menjadi pengekor umat lain karena kesuksesan akan menjelang. Oleh karena itu kita harus mulai walk the Talk ilmu yang kita miliki dan pahami dan meniru Rasulullah sebagai uswah tauladan bagi kita. So, anda berani memulai?

Kontributor Oleh : Abu Sayyeed

 

Untuk Dia yang Entah di Mana

 

Untuk Dia yang Entah di Mana
 

Kala itu 4 Maret 2002. Semuanya begitu cepat terjadi dan menyentak. Ya, di sanalah salah satu episode kehidupanku yang mungkin akan terus dikenang sampai maut menjemput. Bagaimana tidak, di antara percaya dan tidak, ternyata saya harus mendekam di dalam sel tahanan. Sungguh, sebuah garis hidup yang tak pernah terlintas di benakku. Pasalnya sederhana saja, saya bukanlah teroris seperti yang mereka gariskan. Saya bukanlah pembuat onar seperti yang mereka minorkan, dan saya bukanlah penjahat yang layak dihujat. Dan saya bukanlah penjagal kakap yang harus ditangkap. Asal tahu saja, menyembelih ayam pun saya belum pernah!!

Kendati demikian, bukan itu yang layak kukenang. Tapi, Allah hadirkan di tengah-tengah kami sosok setengah baya. Dugaanku ia berusia 40 tahunan. Perawakannya tegap, wajahnya teduh, janggutnya melebat, dibungkus jubah yang tak pernah lepas dari raganya. Ia sangat santun, lembut, kerap melempar senyum, dan jauh dari kesan garang, apalagi kejam dan sadis. Tahukah Anda? Kata mereka yang tengah tertawa terbahak-bahak seperti setan di luar sel sana, sosok santun itu adalah teroris berbahaya!! Dagelan yang tak lucu.

“Jangan sedih, insya Allah kalian lekas dibebaskan. Sesungguhnya di balik kesukaran itu ada banyak kemudahan, berdo’alah kepada Yang di atas sana,” ujar sosok teduh itu kepada kami yang tengah dililit ketakutan mencekam, keputusasaan yang memuncak dan kekalutan yang menggurita. Bayangkan! Kami dipenjara. Masalahnya adalah, penjara itu identik dengan kekejaman dan penyiksaan.

Lalu, saya ingat betul cerita orang-orang dan di buku-buku ihwal kengerian di penjara politik. Setruman listrik, tendangan dan pukulan yang siap mendarat, hardikan dan teriakan kasar sipir, makanan yang menjijikan, dan intinya adalah hewanisasi insan. Itulah menu harian penghuni sel.

Sontak saja saya berdo’a dengan sepenuh hati. “Ya Allah, selamatkanlah hamba-Mu ini… Ya Allah, jauhkanlah saya dari kekejaman orang-orang zalim… Ya Allah, teguhkanlah hatiku atas cobaan ini…” Dan saya pun terus komat-kamit mengeja lafal do’a di atas.

Jujur saja, sepanjang hayatku, tak pernah saya memohon sesyahdu dan sekhidmat itu. Tapi kali itu, hatiku diseret untuk mengemis kasih-Nya. Asaku bermuara di hulu cinta-Nya. Dan Firman-Nya pun menyentil qalbuku yang gelisah menggulana.

Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan… (An-Naml: 62)

Dan benar saja, Yang di atas sana mendengar jeritan kami. Hanya siksaan mental yang mendera kami. Dikurung di bawah tanah selama tiga pekan tanpa nur mentari. Pengisi perut yang terhidang di ember bak dedak pakan ternak, plus lauk sayuran yang hambar tak berasa, dibalut kepedihan serta nestapa yang menganga.

Dan di saat gamang itulah sosok santun itu kembali menyapa kami. Ia muncul laksana induk ayam temukan anak-anaknya. Kami dirangkulnya. Kami dihiburnya. Ia ajari kami hakikat kesabaran. Ajari kami tentang optimisme. Ceburkan kami ke samudera ketabahan dan ketegaran. Suapi kami dengan lantunan kalam ilahi. Dan yang terpenting, ia ajari kami untuk menangis sembari mengais rahmat-Nya, dalam shalat berjamaah kami, dalam sahur dan ifthar puasa kami, dalam zikir kami dan do’a-do’a parau kami. Geliat yang jarang kami lakukan di luar sel sana. Kami terhenyak, ternyata dunia telah memalingkan kami. Sejatinya kita bercermin diri,

Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak… (At-Taubah: 82)

Saya merenung, jangan-jangan sosok itu tengah menafsir ulang petuah Yusuf as,

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.” (Yusuf: 33)

Lalu, saat kami bersiap ke peraduan menjemput mimpi, kulihat sosok itu masygul dengan shalatnya. Selepas Isya hingga larut ia habiskan waktunya untuk shalat dan terus shalat, lalu, tetes air matanya yang meleleh tengah mengiba Tuhannya. Ia tak kenal jemu untuk memohon dan terus memohon. Itulah pemandangan jelang larut malam selama tiga pekan kami mendekam. Sementara saya hanya melongo, berpikir dan memutar otak bagaimana caranya cepat keluar dari penderitaan ini.

Tapi, berkat sentuhan lembut sosok santun itu, ternyata dari hari ke hari, kami lewatkan bersamanya dalam bara tazkiah yang membara. Sehingga jalinan kasih kami mengerat jiwa dan terhimpun dalam cinta-Nya. Ia bagian dari kami dan kami pun bagian darinya. Kami seperti satu saudara, dan memang sesama Muslim wajib bersaudara.

Sampai kemudian, tepat tiga pekan setelah kami “ditraining” di sel, kami bebas. Tak pelak senyum sumringah menghiasi raut muka kami. Kami bergegas dan terus bergegas tanpa hirau. Tapi, tahukah Anda, di manakah gerangan sosok santun itu ketika kami bergegas? Ternyata kami telah melupakannya. Saking gembiranya, kami lupa bahwa ia tengah berada di kamar mandi sel.

Tapi untunglah, rekan kami yang dibebaskan setelah kami membawa kabar. Kabar itu adalah, sosok santun itu kirim salam atas kami, sosok santun itu menangisi kepergian kami, dan sosok itu memohon do’a dari kami. Akhirnya kami tertegun sembari mengaca diri dan tak kuasa untuk menangis haru. Lalu kami berapologi dalam untaian do’a,

Ya Allah, maafkan kami… Kami tak peduli padanya… Ya Allah, sampaikan cinta tulus kami terhadapnya… Ya Allah, bebaskanlah belenggu raganya kendati jiwanya merdeka… Ya Allah, ganjarkan dia atas ajaran-ajaran cara mencinta-Mu, cara memohon-Mu dan cara meneteskan air mata karena-Mu… Ya Allah, terima kasih atas semuanya…

Dan sosok santun itu kami biasa memanggilnya dengan sapaan Syekh. Ya, Syekh Abdul Qadir. Itulah nama yang kami tahu. Ia guru ngaji yang kata jongos-jongos asing disebut sebagai teroris. Masa hukumannya tak jelas. Kami tak tahu kapan ia akan kembali menghirup udara kebebasan? Tapi yang kami tahu ialah, ia lebih tegar dari kami. Ia lebih optimis ketimbang kami. Ia terus memohon kepada Tuhannya. Dan yang membuat hati kami pilu adalah, kini ia entah di mana. Di duniakah? Atau telah menemui Rabbnya?

Dan lewat penggalan syair Sayyid Qutb, semoga kita dapat memahami ketegaran sosok santun itu.

Saudaraku, Anda merdeka di balik tembok itu Saudaraku, Anda merdeka dengan belenggu itu

Jika Anda jadikan Allah sebagai sandaran Maka apakah gerangan yang akan memperdayakanmu

Ya Allah, terima kasih atas semuanya.

lias76@maktoob.com

Untuk sahabat-sahabatku, jangan pernah lupa berkirim do’a untuknya… Terima kasih atas semua teladannya… Dan ingat! Api jihad tak kenal redup…

kontributor Oleh :  M. Ilyas

 

Taman Kupu-Kupu Surga

 

Taman Kupu-Kupu Surga
 

Ahad pagi… alhamdulillah aku merasa sangat cantik hari ini, mungkin karena telah kutumpahkan segala bebanku kepada Yang Berhak untuk dicurhati. Meski fisik ini terasa begitu lemah, namun semangatku menggebu untuk tidak telat mengikuti pelatihan istimewa. Kupaksakan diriku untuk beranjak dan bersiap-siap.

Setengah tujuh pagi, kutelusuri jalan yang masih asing bagiku dengan angkot CH. Kuperhatikan sepanjang jalan agar tidak salah turun alias nyasar. Maklum aku masih termasuk newcomers di kota metropolitan ini. Aku hanya diberi arahan agar turun di halte Mustika lalu jalan sedikit, sampailah di tempat training itu. Alhamdulillah… baru kali ini aku melihat Jakarta begitu lengang pagi ini, beda dengan hari-hari dimana aku harus berdesakan dalam metromini, mana macet lagi… Aku berpikir, kemana ya orang-orang sebanyak itu di pagi ini? Ah… sepertinya mereka juga pasti memiliki kegiatan sendiri seperti diriku.

Subhanallah… Segala Puji bagi-Mu yang menggerakkan hati setiap jiwa dengan kecenderungannya masing-masing. Mudah-mudahan Engkau senantiasa Menggerakkan hati kami cenderung kepada kebaikan dan taqwa. Akhirnya, sampai juga aku. Wah… banyak akhwat di sini, sepertinya 100-an lebih yang mengikuti training ini.

“Kok ikhwannya dikit banget ya…”, batinku. Paling juga 1/5 nggak ada. Kupikir maklumlah… ini kan pelatihan manajemen guru TKA/TPA plus, jadi kebanyakan akhwat yang tertarik. Tapi kan implementasinya bukan hanya TKA/TPA aja, ini kan menyangkut pendidikan buat putra-putri kita di masa mendatang. Apakah pendidikan dan perkembangan psikologis anak hanya menjadi tanggung jawab seorang ibu? Retorika… masing-masing dari kita pasti telah mengetahui jawabannya.

Satu yang pasti, peran ibu dalam hal ini sangat besar sebab muslimah adalah bekal da’wah yang tidak hanya siap mendampingi pasangan da’wah (suami) mencapai tujuan syahidnya, tetapi juga dituntut untuk mampu melahirkan, mempersiapkan dan membentuk generasi da’wah di masa depan. Tugas yang berat lagi mulia bagimu muslimah… Dengan diawali basmalah dimulailah trainingnya. Materi-materinya begitu komprehensif dan para pembicaranya juga mampu membawakan dengan interaktif sehingga aku tertarik bahkan hanyut didalamnya melupakan rasa lemah fisik saat ini.

Kadang-kadang aku merasa seolah-olah menjadi kanak-kanak lagi yang sedang belajar menyanyi dan bermain permainan tepuk Rukun Islam, tepuk Rukun Iman, dsb. Tapi terkadang, membayangkan seolah-olah aku sedang berdiri dengan dikelilingi oleh kanak-kanak yang sedang aku bina, yang riuh belajar, mengaji dan bermain bersamaku. Duhai indahnya suasana seperti ini ya Rabb… aku sangat merindukannya… Banyak hal baru yang kujumpai di sini, kesederhanaan, keceriaan, dunia kana-kanak yang penuh harapan dan kepolosan yang jauh dari hiruk pikuk rutinitas kerja engineer. Banyak ilmu yang kuperoleh di sini, manajemen tpa-tka dengan segala teorinya, kurikulum lengkap dengan metoda-metodanya.

Namun, ada satu hal yang sangat membekas di hati ini, yaitu pernyataan pembicara bahwa pendidik merupakan taman bagi anak-anak didiknya. Sederhana namun sarat makna. Pendidik merupakan taman, artinya menjadi pusat perhatian yang indah bagi anak didiknya. Seorang pendidik harus mampu menjadi profil teladan yang baik sebab dengan kita-lah sang anak berinteraksi.

Anak-anak yang memiliki sifat meniru atau sedang berada dalam imitation phase dimana mereka sering meniru hal-hal baru atau kebiasaan-kebiasaan orang di sekitarnya. Sehingga sebagai orang yang memegang peranan penting bagi anak, kita harus mampu memberikan keteladanan yang baik. Pendidik merupakan taman, artinya menjadi tempat bermain dan pusat imajinasi anak. Sebab itu, dibutuhkan kesiapan ilmu, pengetahuan, pemahaman agama, bahkan kreativitas dalam kemampuan BCM (Bermain, Cerita dan Menyanyi). BCM merupakan tiga hal cukup penting dalam metoda menarik anak-anak dalam pengajaran sebab dunia anak adalah dunia bermain. Kita bisa tidak bisa memaksakan suatu keseriusan pada anak tetapi mengarahkan permainan, lagu dan cerita kepada pemahaman agama atau pengetahuan lainnya, sehingga mudah dicerna dan dimengerti bagi anak. Pendidik merupakan taman, artinya di situlah anak mengenal warna-warni bunga kehidupan, keramahan, keceriaan dan kebahagiaan. Untuk itu diperlukan kesabaran dan keikhlasan dalam membina anak.

Hiasilah selalu raut wajah kita dengan senyuman, karena wajah kita-lah yang selalu mereka tatap dan rindukan untuk menemani mereka tumbuh dan berkembang. Munculkan keceriaan mereka dengan keramahan kita, dan perkaya batin mereka dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang mereka peroleh ketika berinteraksi bersama kita. Ingatlah, bahwa setiap kita berperan sebagai pendidik dalam keluarga. Terlebih, seorang ibu yang berfungsi sebagai madrasah pertama dalam keluarga. Kualitas akan generasi masa depan berada di pundak kita.

Mampukah kita mencetak generasi da’wah masa depan? Jawabannya tergantung pada kesiapan dan persiapan kita saat ini. Wallahu a’lam bishshowab. Persiapkanlah diri kita menjadi taman terindah sebagai tempat bermainnya kupu-kupu surga, sebagaimana kutipan dari sebuah lagu anak-anak: Santri-santri kecil dari TK-TPA Bawa satu buku Iqro juga bawa Al Qur-an Bermain, bernyanyi, mengaji bersama Berseragam indah bagai kupu-kupu surga. [un_nick97@yahoo.com]

 

Kontributor Oleh : Shafiyyah Shafy

 

Sebuah Parade Ukhuwah

 

Sebuah Parade Ukhuwah
 

Sebuah kisah nyata seperti yang di utarakan oleh Drs. Umar Ali Yahya dan Syarifuddin. Ukhuwah intinya ‘MEMBERI’. Memberi tanpa mengharapkan balasan Dan mengharap balasan hanya dari Allah SWT.

Ukhuwah dan keimanan seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, maka dari itu jika salah satu tidak ada maka yang lainnya pun sirna. Tingkat ukhuwah terendah ialah bersih hati dan berbaik sangka pada saudaranya sedangkan tingkat ukhuwah tertinggi ialah mendahulukan saudaranya daripada dirinya [Drs. Umar Ali Yahya].

Alkisah disebuah Madrasah Tsanawiyah di daerah Bangka Jakarta Selatan, berkumpul sekelompok anak-anak sekolah yang sedang istirahat mengerumuni abang penjual rujak, rupanya siang itu anak-anak sedang membeli rujak.Diantara sekumpulan anak-anaktersebut terdapatlah seorang anak bernama Ubaidurrahman (Ubay) yang saat itu ingin sekalimembeli rujak namun uangnya ketinggalan di kelas.Keinginan Ubay itu ditangkap oleh temannya Hamad tanpa terlewat sedikitpun. Saat itu Hamad pun sebetulnya ingin membeli rujak juga, namun uangnya tinggal seribu rupiah saja, dan itupun untuk ongkos pulang.

‘Pake uangku saja dulu Ubay,’ seru Hamad pada Ubay yang terlihat sangat ingin sekali membeli rujak. ‘Terima kasih Hamad, nanti aku ganti uangnya di kelas ya,’ jawab Ubay dengan riangnya.

Begitulah, Hamad meminjamkan uangnya yang hanya tinggal seribu itu pada Ubay untuk membeli rujak dengan harapan nanti akan dibayar di kelas. Ketika sampai di kelas ternyata Ubay tidak membayar hutangnya dengan alasan uangnya ternyata sudah terpakai untuk yang lain.

‘Masya Allah, Hamad aku lupa uangnya tadi sudah dipakai, besok saja ya…’ Hamad menatap Ubay sejenak dan kemudian mengangguk dengan senyum khasnya. Dalam keadaan tidak ada uang sepersen pun, bahkan untuk ongkos pulang sekalipun, Hamad masih tersenyum dan menjalani sisa harinya dengan kegembiraan.

Bel sekolah telah berbunyi, menandakan waktunya untuk pulang. Tidak terkecuali dengan Hamad, ia pun pulang meskipun tidak seperti hari-hari sebelumnya. Kali ini dia terlihat berjalan kaki, ya.. berjalan kaki dari sekolahnya di Bangka Jakarta Selatan sampai rumahnya di Jatibening Bekasi, yang biasanya memerlukan waktu 1 jam jika ditempuh dengan dengan kendaraan bermotor.

———-

‘Hamad kok belum pulang ya Bu? Aku mulai khawatir, coba telepon teman-temannya barangkali memang sedang ada acara di sekolahnya,’ pinta Ust. Zufar pada istrinya.Ust. Zufar merupakan ayah dari Hamad. Beliau ialah sosok yang ramah, nama lengkapnya ialah Ust. Zufar Bawazier, Lc, dosen LIPIA dan juga pengurus sebuah Partai Islam di Indonesia.

Saya sempat mengenalnya ketika beliau mengisi sebuah seminar di Bandung dimana saya terlibat sebagai panitia. Saat itu, beliau kami sediakan tiket pulang dengan Kereta Api untuk jadwal kepergian jam 13.00.

Betapa kagetnya saya ketika teman saya memberitahukan bahwa Ust. Zufar sedang berdiri menunggu angkutan umum yang saya yakin beliau tidak hafal rutenya, untuk menuju stasiun. Lebih parah lagi waktu telah menunjukan pukul 12.50, yang artinya hanya 10 menit lagi kereta akan segera pergi.

Saya segera mengambil motor untuk mengantarnya menuju stasiun, saya tidak habis fikir mengapa Ust. Zufar tidak memberi tahu panitia kalau keadaannya seperti ini, atau memang panitianya yang tidak memperhatikan, pikirku.

Aku susuri jalanan kota Bandung dengan kecepatan tinggi, bahkan sempat melanggar beberapa rambu lalu lintas, aku tak peduli, saat itu fikiranku hanya mengantar Ust. Zufar agar tidak ketinggalan kereta menuju Jakarta.

Dan memang akhirnya Ust. Zufar bisa mendapatkan keretanya, walaupun harus dengan berlari setelah sebelumnya masih sempat menyalamiku sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih padaku. Itulah kenangan terakhir dan satu-satunya pertemuanku dengan Ust. Zufar.

———-

‘Kriiing…’ telepon di rumah Pak Umar berdering. Telepon itu ternyata dari Ust. Zufar yang kemudian memberitahukan kepada Pak Umar bahwa anaknya saat itu pulang malam sekali. Pak Umar adalah kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah dimana Hamad bersekolah. Lalu Ust. Zufar pun menjelaskan penyebab anaknya hingga pulang selarut itu kepada Pak Umar.

Esok harinya, Pak Umar memanggil Hamad dan Ubay ke Kantor. Tidak ditemukan wajah kesal atau kecut dari Hamad, suatu pancaran ketenangan jiwa dari seorang anak yang masih bersih hatinya.

Lalu Pak Umar berkata pada Ubay, ‘Lihatlah, sepatu temanmu rusak karena kamu menyia-nyiakan kebaikannya…’ Pak Umar terkenal akan kebijaksanaannya, beliau digelari ‘Pembina Sejati’ oleh teman saya di Bandung yang pernah merasakan sentuhannya pula. Saya beruntung pernah menjadi binaanya selama setahun. Waktu yang cukup singkat untuk sebuah pembinaan yang bertajuk Ta’lim Rutin Kader Partai Keadilan Sejahtera. Namun waktu yang singkat itu telah cukup baginya untuk meniup kuncup dalam diri ini sehingga mekar menjadi bunga.

Sepatu tua Hamad terlihat rusak, yang memang sebelumnya sudah lusuh. Ubay menangkap semua itu tanpa terlewat sedikitpun. ‘Maafkan aku ya Hamad, ini pakai saja sepatuku, aku punya dua sepatu kok di rumah.’

Begitulah kisah mereka berdua, ibarat sebuah parade ukhuwah mereka begitu mempesona setiap orang yang melihatnya.

Kontributor Oleh : Jimmi Abdullah

 

Sang Khalifah

 

Sang Khalifah
 

Puluhan abad yang lalu, ada sebuah ekspedisi yang melibatkan belasan kapal layar dan ratusan orang. Ekspedisi ini bertujuan untuk mencari daratan baru yang subur dan menjanjikan karena tempat yang mereka huni sekarang sudah tidak menjanjikan apa-apa lagi untuk membangun sebuah kehidupan. Ekspedisi ini dipimpin oleh seseorang diantara mereka yang mereka percayai, karena selain handal, ia juga arif bijaksana.

Setelah belasan bulan mengarungi lautan, akhirnya mereka tiba di sebuah daratan yang subur serta menjanjikan, tepat seperti apa yang selama ini mereka impikan. Hanya saja, daratan baru tersebut masih terlalu liar karena belum pernah dihuni sebelumnya. Hal ini menimbulkan keragu-raguan di hati para peserta ekspedisi tersebut apakah mereka mampu untuk menaklukkan daratan baru tersebut dan membangun sebuah kehidupan seperti apa yang selama ini telah mereka impikan. Keraguan tersebut semakin kuat mengingat betapa berat perjuangan yang harus mereka lakukan karena segala sesuatunya harus dimulai dari awal kembali.

Pada suatu malam, ketika para peserta ekspedisi tersebut tengah terlelap tidur di tenda-tenda mereka, pemimpin ekspedisi itu membakar habis seluruh kapal yang mereka gunakan untuk berlayar. Para peserta ekspedisi tersebut terjaga dari tidurnya dan terkejut dengan apa yang mereka saksikan. Dengan perasaan marah, mereka menghampiri pemimpin ekspedisi tersebut. Mereka bukan hanya marah, tetapi juga kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh sang pemimpin yang mereka percayai tersebut. Mereka bertanya mengapa sang pemimpin tersebut begitu tega membakar musnah kapal-kapal mereka. Dengan penuh kearifan pemimpin ekspedisi itu menjawab, “Keragu-raguan di hati kalianlah yang membuat aku melakukan hal ini. Bukankah inilah daratan yang kita impi-impikan yang membuat kita tegar dan mampu bertahan selama belasan bulan terhadap hantaman ombak dan rasa lapar? Lalu kenapa hanya dengan setitik keragu-raguan saja kalian rela menggadaikan segala apa yang telah kalian impikan? Aku sengaja membakar musnah kapal-kapal tersebut agar kita tidak dapat keluar dari pulau ini, sehingga kita mampu berkomitmen dan bertekad di dalam hati kita masing-masing untuk bersama-sama berjuang dan membangun sebuah kehidupan baru yang kita impikan. Jangan biarkan keragu-raguan di hati kalian menghancurkan impian kalian. Kita sudah melangkah terlalu jauh untuk menyerah sekarang!”

Coba perhatikan dan resapi hikmah yang dapat kita petik dari penggalan kisah nyata di atas. Betapa ternyata, secara manusiawi, selalu saja ada keragu-raguan di dalam hati setiap manusia dalam memulai sebuah kehidupan yang baru, bahkan meskipun hal tersebut adalah sesuatu yang diimpi-impikan sekalipun. Rasa ragu tersebut berkembang bagaikan sebuah tumor ganas yang menggerogoti kemampuan manusia untuk berpikir secara jernih.

Keragu-raguan tersebut tidak dapat menghasilkan apa-apa selain membunuh semua yang telah diimpikan dan dicita-citakan. Jangan lupa bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mengubah nasibnya sendiri dan untuk mampu melakukan suatu perubahan, tantangan terberat pertama adalah menghapuskan keragu-raguan yang timbul di hati manusia. Sebuah komitmen terhadap sebuah perjuangan dalam mencapai apa yang menjadi impian dan cita-cita sangat diperlukan untuk memusnahkan rasa ragu tersebut karena dengan izin-Nya, apabila rasa ragu tersebut telah musnah maka dengan sendirinya pintu pertolongan-Nya akan terbuka dan ‘tangan-tangan’ ilahiyah pun akan dikirimkan untuk membantu menuntun langkah manusia.

Dalam membangun sebuah komitmen untuk berjuang di jalan-Nya diperlukan kesadaran bahwa kita sebagai seorang manusia diutus pleh Allah SWT sebagai seorang khalifah. Ingatlah ketika Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Lalu para malaikat yang merasa pesimis terhadap tingkah laku manusia berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?” Allah SWT menjawab, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dalam konteks ini, Allah tidak menyalahkan apa yang diucapkan oleh para malaikat, tetapi hanya Allah saja yang mengetahui hakikat keberadaan manusia tersebut.

Kita dihadirkan di permukaan bumi ini sebagai seorang khalifah untuk suatu tujuan, bukan suatu kebetulan. Segala sesuatu, sekecil apa pun itu, terjadi dengan izin-Nya. Banyak di antara kita yang sudah sering membaca dan mendengar kata-kata klise tersebut tanpa pernah meresapi dengan seksama akan arti yang terkandung di baliknya. Mungkin sebuah kisah unik yang terjadi pada dua orang mantan presiden Amerika berikut ini mampu menyadarkan kita bahwa Allah maha Berkehendak dan betapa banyak kejadian di dunia ini yang mampu mementahkan konsep manusia akan teori kausalitas.

Dua orang diantara mantan-mantan presiden Amerika yaitu Abraham Lincoln dan John F. Kennedy. Yang pertama lahir tahun 1860 dan yang kedua lahir tahun 1960. Pengganti Lincoln bernama Johnson (Andre) lahir tahun 1808 dan pengganti Kennedy bernama Johnson (Lindon) lahir tahun 1908. Kedua presiden, Lincoln dan Kennedy, tewas terbunuh dalam masa jabatannya dan keduanya tertembak di kepala pada hari yang sama, yaitu Jumat. Pembunuh Lincoln lahir tahun 1839 dan pembunuh Kennedy lahir tahun 1939. Kedua pembunuh tersebut terbunuh sebelum sempat diadili. Sekretaris Lincoln bernama Kennedy dan sekretaris Kennedy bernama Lincoln. Kedua sekretaris menyarankan untuk tidak pergi ke tempat terjadinya pembunuhan, namun kedua presiden itu menolak. Pembunuh Lincoln melakukan pembunuhan dari teater dan bersembunyi di gudang sebuah pasar swalayan dan pembunuh Kennedy melakukan pembunuhan dari sebuah gudang pasar swalayan dan bersembunyi di teater!

Subhanallah! Betapa Allah Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Bukankah kisah nyata di atas terlalu absurd untuk dapat dijelaskan dengan hanya mengandalkan teori kausalitas karena keterbatasan yang dimiliki oleh manusia? Tidakkah contoh di atas cukup untuk menyadarkan kita betapa Allah itu Maha Berkehendak? Orang Prancis boleh saja berkata bahwa L’histoire c’est repete-sejarah itu pasti berulang-, tapi tidak semua misteri-Nya dapat diterangkan dengan keterbatasan logika yang kita miliki, untuk itulah diperlukan iman untuk menjembatani ‘gap’ antara kenyataan yang terjadi karena kehendak-Nya dan keterbatasan logika yang dimiliki manusia.

Seorang ulama terkenal Indonesia, Prof. M. Quraish Shihab berkata bahwa tidak semua kejadian di alam ini dapat diterangkan dengan teori kausalitas. Disamping sunatullah, ada juga yang dinamakan dengan inayatullah (uluran tangan Allah) dan inayatullah tersebut hanya akan menghampiri orang-orang yang memiliki komitmen dan kesungguhan terhadap apa yang ia perjuangakan.

Sebagai seorang calon almarhum dan almarhumah, cobalah kita sedikit meluangkan waktu untuk menghayati pesan sang Rasul teladan kita berikut ini ,”I’mal li dunyaka kaanaka ta’isyu abadan wa’mal li akhiratika kaanaka tamuttu ghadan … Beramallah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok.” Hidup ini terlalu singkat untuk terus menerus menyia-nyiakan kesempatan demi kesempatan yang telah Allah berikan kepada kita. Apabila hari ini adalah hari terakhir kita berada di dunia, jangan biarkan kita terus menerus diliputi keraguan untuk memulai sebuah kehidupan baru yang membuat kita semakin dekat pada-Nya. Tanamkanlah komitmen untuk berjuang di jalan-Nya di dalam hati dan benak kita yang akan mengikis keragu-raguan tersebut. Ingatlah bahwa Islam membutuhkan tangan-tangan kita untuk menegakkan kembali bendera kejayaan Islam. Semoga Allah swt selalu menyertai setiap langkah kita. Wallahu a’lam bishawaab.

Kontributor Oleh :  Ihdina Sukma Dewi

 

Mintalah Apa Saja, Dia Mendengarmu!

 

Mintalah Apa Saja, Dia Mendengarmu!
 

Saya sadar betul Dia Maha Tahu, Maha Mendengar apa yang ada dalam qalbu hamba-Nya. Tetapi terkadang bahkan sering realita yang tidak sesuai harapan membuat saya bertanya, “Kau ada tidak, Tuhan?”. Kemudian saya akan beristighfar karena menyadari bahwa itu pertanyaan yang bodoh dan egois. Ketika saya sendiri, saya merasakan semua yang ada pada saya dan lingkungan saya adalah pemberian-Nya.

Banyak hal-hal kecil yang mungkin bagi banyak orang beitu sepele tetapi bagi saya begitu besar artinya. Sering ketika saya menginginkan sesuatu dan saya sangat merindukannya, tiba-tiba Allah SWT menghendaki sesuatu itu datang pada saya. Subhanallah. Padahal saya sering merasa bukan seorang muslim yang baik.

Ketika saya masih SMP, orangtua saya pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan Haji. Saya ditinggal dengan dua orang kakak, seoran adik dan saudara-saudara. Suatu hari saya ingin sekali makan dengan kerupuk. Toko kami sudah lama tidak dibuka dan barang-barang di dalamnya sudah mulai habis. Tidak ada seorangpn yang tahu saya ingin makan kerupuk. Tiba-tiba ada seorang lelaki penjual kerupuk menawarkan untuk menitipkan dagangannya tanpa dibayar dahulu. Biasanya penjual kerupuk menyimpan dagangannya di toko kami dan langsung dibayar karena harganya tidak seberapa. Sedangkan kami tidak memegang uang untuk operasional toko karena orangtua memang tidak mengamanatkan dan toko tidak pernah dibuka saat orangtua pergi Haji. Uang yang ada hanya untuk makan sehari-hari dan shalawatan setiap malam.

Tetapi karena penjual kerupuk itu memaksa dan berjanji akan datang lagi, kami pun menerimanya. Alhamdulillah hari itu saya bisa makan dengan kerupuk dan orang itu tidak pernah datang lagi padahal kami sudah menyiapkan uangnya. Dalam hati saya bertanya, Allahkah yang mengirim orang itu. Tapi saya tepis lagi pikiran seperti itu. Mana mungkin, saya bukan wali, Nabi atau orang Shalih, saya hanya manusia biasa yang banyak khilafnya.

Di lain waktu ketika saya kuliah, saya mengalami kanker (kantong kering) pada akhir bulan. Dalam hati saya berharap Allah mengenyangkan saya atau membuat keajaiban lain sehingga saya terhindar dari berhutang pada teman atau menelepon orangtua untuk mengirimi saya uang sebelum waktunya. Walaupun itu tidak dilarang, saya hanya tidak ingin merepotkan orang lain. Alhamdulillah, ada seorang teman yang tiba-tiba membayar hutangnya padahal saya sudah tidak mengingatnya lagi.

Di lain kesempatan, saya ingin sekali mempunyai buku agenda supaya saya bisa mencatat kegiatan saya atau mencurahkan isi hati saya ketika saya tidak mendapati orang lain untuk curhat. Tapi saya pikir lain kali saja karena kebutuhan saat itu lebih mendesak untuk hal lain daripada sebuah buku agenda. Subhanalllah, tiba-tiba tiga orang teman saya datang dan mengucapkan selamat milad pada saya. Sebuah bungkusan berisi buku agenda dan sebuah pigura cantik diserahkan pada saya. Alhamdulillah.

Hal-hal kecil itu begitu terasa istimewa karena saya tidak berupaya mendapatkannya namun tiba-tiba ada di depan mata. Tetapi justru hal kecil itulah yang membuat kerinduan di hati saya untuk bersua dengan-Nya. Saya ingin setiap hal yang saya lakukan pun akan istimewa di hadapan-Nya meski sulit dan banyak rintangan yang menghalangi. Adakah saya akan bertemu dengan-Mu dengan kondisi yang paling baik, Tuhanku? [khaira@alhikmah.com]

Penilaian

nuryati yati: yati_yati17@yahoo.com

Assalamu’alaikum, kita semua pasti pernah mengalami hal terjadi pada sang penulis cuma kadang kita sering sekali takabur dengan kekuasaan-Nya, sering pula kita berfikir kalau sesuatu yang sedang kita impi2kan ternyata dapat kita miliki itu adalah hasil kerja keras kita.masya Alloh..sungguh syetan selalu membisiki di hati dan telinga kita yang sering lupa akan syukur nikmat yang diberi Alloh, hanyalah kesabaran yang menjadi taruhan kita ketika kita memanjatkan suatu permintaan kepada-Nya, Tetapi apakah kita akan bisa membalasnya dengan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Sang Maha Pemurah dan Pengasih??Semoga kita selalu sadar akan kebesaran-Nya..amin..(titip salam buat temenku Alam dah lama nih ga gabung ke alhikmah…)wassalam

 

Kontributor Oleh :  Khaira

 

Mengejar Kebahagiaan Hakiki

 

Mengejar Kebahagiaan Hakiki*
 


Kamu serius mau berhenti kerja? Suamimu sudah kaya ya?”

Degg! Kaget, heran, sedih, terhenyak, semua perasaanku bercampur baur. Tak menyangka ucapan kasar itu muncul dari mulut kolega kerjaku, mbak X (sebut saja demikian) yang selama ini boleh dikata merupakan dosen yang khusus kubantu dalam penanganan tes massal di kampusku. Kata tak santun dari mulut seseorang yang berpendidikan tinggi, kaum terpelajar!

Dengan muka ungu menahan amarah yang coba kupendam, kutelusuri wajah ayunya. Sama sekali tak bergeming dari rautnya yang tegang. Kami sama-sama membara. Sedetik berlalu, kutinggalkan ia. ‘Time-out’ sekaligus menurunkan ketegangan emosi yang memenuhi dada masing-masing.

Hari ini seolah memang bukan hari indahku. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja segala problema yang selama ini berusaha sekuat tenaga aku pendam, termuntahkan, dan ditambah dengan ucapan spontanku untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai dosen fakultas psikologi. Aku lelah, lelah mental terutama. Ibarat aku menetap di dalam rumah tanpa jendela dan cahaya, pemberontakanku mencapai titik klimaks. Aku ingin bebas dari situasi ini. Bebas, BEBAS! Biarlah orang bicara apa saja, asalkan aku bebas….

*******

Menjadi dosen adalah pilihan karirku, cita-citaku. Mungkin karena aku dibesarkan dalam keluarga guru, dan budaya membaca demikian kental dan mengasyikkan. Dedikasi tinggi dari bapak dan ibu terhadap pekerjaannya, begitu memukau pesona. Bahwa ilmu yang diajarkan insya Allah takkan berhenti di satu terminal, namun akan terus mengalir dan mengalir beserta pahalanya. Jadilah aku menggapai asaku, memenuhi harapan orang tuaku, sekaligus menobatkan predikat psikolog di bahuku.

Semula segalanya berjalan baik-baik saja. Menikah, dan kemudian lahirlah putri sulungku, Kuni. Kami pindah ke daerah Cimanggis, dengan memboyong serta Yu Ri’ah. Masalah mulai muncul ketika ia ternyata tidak kembali lagi dari kampungnya setelah lebaran usai. Aku tak kunjung mendapatkan penggantinya yang memadai. Jujur saja, mungkin standar dan tuntutan terhadap calon khadimat terlalu tinggi dan ideal. Bagaimana tidak, dia haruslah seorang yang sabar dan ngemong terhadap anakku. Terus-terang, agaknya ini dipicu oleh pengalaman mengamati anak-anak tetangga baruku di perumahan itu yang kebanyakan nakal dan diasuh oleh pembantu, sementara sang ibu bekerja seharian penuh di kantor. Tentu sulit mencari khadimat yang sempurna sesuai gambaranku kala itu. Beberapa kali aku mendapat khadimat baru, hanya bertahan sebentar, dengan beraneka ragam kendala dan hambatan.

Begitulah, akhirnya aku tidak punya pilihan lain kecuali selalu membawa anakku ke kampus. Kuni yang saat itu baru berusia satu tahun selama hampir setahun lamanya kubawa-bawa selama aku mengajar. Ia ikut ke kelas, ikut membaca di perpustakaan bagian, atau bahkan ikut rapat rutin seminggu sekali setiap hari Kamis. Yang sering terjadi adalah ia kelelahan menanti mamanya bekerja, hingga kadang-kadang tertidur di bilik shalat. Sementara aku terpaksa tidak dapat lagi ikut terlibat dalam kegiatan pelatihan siswa SMU/STM yang rutin diadakan Bagianku.

Kucoba menutup telinga atas komentar teman-teman dosenku, namun lama-kelamaan aku menyadari bahwa itu sangatlah tidak adil buat mereka. Perlahan-lahan keadaan ini membuka celah mata hatiku. Meresahkanku, mengusik hati nuraniku. Ya Rabb, apa yang sebenarnya kucari selama ini? Mencari materi alias uang sebanyak-banyaknya? Mempertahankan gengsi karena berhasil menjadi dosen di kampus negeri yang ternama seantero Indonesia dalam usia muda? Setimpalkah semua itu dengan pengorbanan anakku yang masih belia? Bukankah seharusnya terbalik, akulah yang semestinya berkorban untuknya, untuk kehidupannya, demi kebahagiannnya? Bukankah itu esensi terindah dari seorang ibu? Bukan, atau iya? Bagaimana dengan sabda Rasulullah SAW bahwa surga di bawah telapak kaki ibu? Namun telapak kaki ibu yang bagaimana? Rasanya aku bukan kategori ibu demikian. Astaghfirullah, astaghfirullah….

Sejuta pertanyaan bertalu-talu, sama layaknya sejuta jawab beterbangan di isi kepalaku. Pusing, bingung, frustrasi, seolah kaki tak tahu harus melangkah ke mana. Sungguh suatu ironi seorang psikolog tak mampu mencari jawab atas problema hidupnya sendiri. Setiap bertanya kepada teman sejawat, fokus mereka selalu berlabuh pada karir dan karir. Anak bisa dititipkan kepada ibu atau mertua, carilah pembantu dari yayasan, kalau perlu dua orang, kamu harus bisa menyiasati keadaan, dan bla bla, bla…. Semua itu bagiku tidak memberi jalan keluar karena bertentangan dengan prinsip hidupku dan suamiku. Bagi kami, anak identik dengan amanah yang perlu dan harus dipertanggungjawabkan. Lalu di mana tanggung jawab kami bila amanah itu dengan seenaknya dititipkan, terlebih pada ibu dan ibu mertua yang kebetulan masih aktif bekerja? Apakah itu justru bukan saat yang tepat untuk beristirahat bagi ibu-ibu kami yang sudah berusia paruh baya?

Saat itu kuteringat dengan firman-Nya dalam Al Qur’an surat Al Baqarah : 286, ”Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya…”. Apakah ini menyiratkan agar aku bersegera bertindak atas lingkaran setan problemku? Namun jauh di permukaan, entah mengapa, aku masih saja terjebak dalam dilema, hati ini masih berbolak-balik, antara keinginan untuk mencoba bertahan atas karirku yang susah payah kubangun semenjak masih kuliah, berhasil menjadi lulusan terbaik, bahkan menjadi wakil teman-teman saat menerima ucapan selamat dari Bapak Rektor, kesadaran akan potensi diri yang begitu besar, dengan beratnya hati untuk berkonsentrasi penuh menjadi ibu rumah tangga. Keraguan itu masih saja mendera-dera kalbu dan menjebak dalam situasi tak pasti.

Ketika hati ini masih digayuti pertanyaan-pertanyaan itu, seorang teman datang menghampiri. Ia dosen muda dari Bagian/Jurusan yang berbeda. Kebetulan ia beragama nasrani. Meski begitu, selama ini kami cukup dekat berkawan. Setelah mendengar keluh-kesahku, tuturannya yang bernas masih segar terngiang-ngiang di telingaku.

“Din, aku ikut prihatin dengan problemmu. Tapi cobalah tanya pada hati nuranimu sendiri, apa yang menjadi kebahagiaan hakikimu? Kebahagiaanmu yang sebenar-benarnya? Orang tentu boleh bicara atau berpendapat apa saja, itu hak mereka. Tapi kamulah yang mengambil keputusan, bukan mereka.”

Saat itu, ucapannya benar-benar meruapkan pencerahan bagiku. Tak peduli ia seorang nasrani, tapi tutur katanya seolah air dingin yang menyejukkan hati dan menyadarkanku bahwa selama ini aku buta, dibutakan oleh segala sesuatu yang maya dan hanya fatamorgana semata. Alangkah nista, cita-citaku begitu duniawi, sementara aku, seorang wanita yang telah menikah, berkeluarga, dan mempunyai anak, telah nyata-nyata menyisihkan kebahagiaan hakiki itu. Aku lupa menyandarkan dan memasrahkan segala yang kumiliki pada-Nya. Tentu saja Dia tidak meridhoi jalanku, karena aku telah buta arah.

Ketika kemudian di rumah aku merenung dalam malam yang tenang seusai shalat istikharah, fragmen-fragmen kehidupanku seolah berputar ulang. Saat aku tergopoh-gopoh pergi bersiap ke kampus, sementara anakku justru dibuai kantuk; saat hujan meluluhlantakkan jemuran bajuku; saat aku tergesa memasak dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dan bahkan sering marah kepada putri kecilku; atau tatkala aku setengah memaksa mengerjakan tugas mengoreksi laporan tes mahasiswa di malam buta, sementara mata dan tubuhku ingin sekali terpejam dan berbaring. Ah, semua sama sekali tidak terfokus, tidak maksimal. Tak satupun yang 100% bisa dipenuhi dengan gemilang. Benar-benar mengecewakan! Dan akhirnya, shalat dan ibadah kepada-Nya hanyalah sebatas ritual saja. Entah sudah berapa lama kuabaikan hak-hak Sang Khalik, hak-hak orang tercinta di sekelilingku. Oh Gusti, aku sudah menzhalimi mereka. Aku menangis dan terus beristighfar menyebut asma-Nya.

Kusadari sepenuhnya, aku tidak bisa bertahan pada situasi buruk ini. Dan kuyakin sudah digariskan oleh Allah SWT pada tahun berikutnya kami (aku dan suami) pergi haji. Kelihatannya Dia ingin memberi waktu lapang untukku merenungkan kembali dan introspeksi atas segala perbuatanku, komitmenku terhadap-Nya. Alhamdulillah, meski sempat dibujukrayu dengan iming-iming dari pihak fakultas, sepulang dari perjalanan ibadah itu, justru tekadku untuk mengundurkan diri dan total berkarir di rumah sebagai ibu rumah tangga semakin bulat dan mantap. Meski hingga detik ini aku masih belajar dan terus belajar menjadi ibu dan istri yang baik dan jauh dari sempurna, kesempatan itu selalu terbuka luas untukku. Dan aku tidak mau menyia-nyiakan peluang yang mungkin hanya sekali terbentang seumur hidupku.

Kontributor Oleh :  Diana Mardihayati (dianam@softhome.net)

 

Memulai dari Nol

 

Memulai dari Nol
 

Sikap menentukan sukses atau tidaknya kita. Menurut manajemen IBM kualitas manusia ditentukan oleh 90 persen sikapnya (attitude) dalam menghadapi masalah. Sedangkan sisanya 10 persen ditentukan oleh kemampuan ilmunya (knowledge). Artinya, kesuksesan itu seringkali diawali dari sikap hidup yang benar dan tepat dalam menghadapi suatu peristiwa.

Bukan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi bagaimana menyikapi apa yang terjadi. Bukan karena kita ditakdirkan bernasib jelek, tapi bagaimana kita menggunakan segala potensi terbaik yang dimiliki untuk merespon suatu kondisi yang buruk menjadi lebih baik.

Jadi jika saat ini kita masih dalam keadaan kekurangan harta, ilmu, atau apapun, maka tidak cukup dengan hanya meratapi dan menyesalinya, selamanya hal itu tidak akan mengubah nasib. Namun, ketika kita menyikapinya dengan terus menerus memikirkan peluang yang bisa dikerjakan dan terus menerus sekuat tenaga memperbaiki diri, maka kita akan mampu mengubah keadaannya. Jika nasi sudah jadi bubur, ya kita tambahkan kacang, kerupuk, bawang goreng dan ayam goreng. Maka bubur nasi bisa kita ubah menjadi bubur ayam yang nikmat. Jika terlanjur basah, ya sudah ambil sabun, sampo lalu kita mandi, biar bersih sekalian. Jadi sekali lagi bukan keadaan yang buruk yang harus disesali, tetapi bagaimana mengubah keadaan buruk menjadi keadaan yang baik.

Lantas timbul pertanyaan bagaimana seharusnya mulai membangun attitude? Kebanyakan orang adalah produk zaman alias cuma jadi pengekor apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya. Mereka memilih menjadi orang yang tidak melahirkan sikap yang asli. Apapun yang mereka pilih, pakaian, pekerjaan, makanan, pikiran, semuanya hanya mengikuti apa yang sudah lebih dahulu ada. Jadi mereka kehilangan diri yang sebenarnya.

Handphone yang dipakai, sepatu yang dibeli, gaya hidup yang dipilih bahkan sampai agama yang dianut bukan merupakan pilihan yang kontemplatif, tapi lebih dikarenakan orang lain telah memakainya terlebih dahulu. Singkatnya mereka menjadi orang-orang yang dipenjara oleh masa lalu, dan memilih menjadi manusia-manusia pengekor.

Akibatnya jika ada penilaian dengan kacamata lain terhadap nilai-nilai yang sudah dianut maka yang terjadi adalah penolakan. Pada saat seorang direktur eksekutif mengajukan suatu langkah yang tidak populer dalam menentukan kebijakan perusahaan, maka yang terjadi adalah penolakan bukan apresiasi terhadap langkahnya. Ini akibat mereka terbiasa membenarkan sesuatu yang sudah lazim.

Sikap penolakan yang timbul disebabkan orang tidak memandang sesuatu itu dengan bersih dan jernih. Sikap memandang sesuatu dengan bersih dan jernih hanya dimiliki oleh orang yang berhati bersih dan berpikiran jernih. Atau dengan kata lain dirinya terbebas dari nilai yang sudah umum dan dia memiliki cara pandang, berpikir, bertindak dan membuat pilihan dengan melihatnya dari akar dan dasar permasalahan. Dia memulainya dengan menempatkan dirinya pada titik nol sehingga pikiran menjadi lebih jernih dan baginya segala sesuatu menjadi mungkin.

Dan Ramadhan adalah bulan yang dipersiapkan oleh sang Khalik untuk membina kita umat-Nya agar bisa kembali ke titik nol. Nol bisa juga berarti kosong. Bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah milik-Nya. We have nothing, zero, nol, kosong, nggak ada apa-apanya. Perut kita diperintahkan untuk dikosongkan selama bulan ini, maksudnya agar kita jadi lebih mampu mengosongkan juga otak kita dari pikiran-pikiran kotor dan menahan keinginan duniawi kita sehingga makin mendekatkan diri kepada Allah. Kosong juga berarti khusyu, terbebas dari ikatan materi keduniaan, yang ada hanya Allah sang Maha.

Allah telah mempersiapkan kita semua umat Islam yang beriman untuk menjadi sukses melalui puasa Ramadhan sehingga dengannya kita menjadi bersih hati, jernih pikiran dan mampu mengubah keadaan kita menjadi lebih baik. Mari kita manfaatkan momentum Ramadhan sebagai media kontemplatif kita dan meraih kesuksesan dunia akhirat.

Kontributor Oleh : MZ Omar

 

Maka Pilihlah, Kemudian Bertakwalah

 

Maka Pilihlah, Kemudian Bertakwalah
 

Suatu hari, saya akan menuju suatu tempat. Saya harus memilih kira-kira jalur mana yang akan saya lewati dan alat transportasi apa yang akan saya gunakan. Apakah saya akan naik angkutan umum? Yang lewat tol atau jalur lambat? Atau naik kereta yang cepat namun dapat dipastikan terhimpit? Atau apa?

Dengan menggunakan pengetahuan yang saya miliki tentang kondisi jalanan di Jakarta, saya memilih naik angkutan umum patas AC yang jalurnya lewat tol (supaya tidak terlalu berdesak-desakan dan lebih cepat).

Namun ternyata saya salah. Apa yang saya prediksikan bertolak belakang dari kenyataan. Tol macet total, penumpang penuh dan saya akhirnya harus berdiri dan tiba di tujuan sangat telat. Kesal, sebal, bete dan akhirnya menangis. Padahal saya sudah memilih dengan pemahaman medan terbaik, bukan tanpa pengetahuan. Padahal saya sudah memilih dengan menggunakan parameter-parameter islami. Tapi kok?

Tapi akhirnya saya menyadari, bahwa pilihan saya memang salah. Salah dalam arti prediksi saya tidak tepat, bukan SALAH dalam arti lawannya BENAR. Persepsi saya semula yang saya pikir akan memberikan prediksi yang mendekati benar karena berlandaskan pengetahuan yang cukup, ternyata masih kurang. Hal ini membuat saya makin sadar, bahwa pengetahuan saya sangat sedikit. Membuat saya makin tahu, begitu banyak yang di luar control dan kemampuan manusia.

Namun toh, setidaknya saya telah mengambil pilihan dan menjalaninya dengan sadar. Kalau ternyata hasil dari pilihan itu tidak seperti yang saya harapkan saat mengambil keputusan, itu adalah konsekuensi yang harus saya terima. Tak perlu menyesal apalagi merutuki diri dan orang lain. Bukan tidak mungkin, ada sesuatu yang tidak saya tahu, menjadi hikmah dari kejadian di luar kontrol itu tadi.

***

Satu fragmen di atas hanyalah contoh kecil dan remeh temeh, yang menunjukkan bahwa semua hal dalam hidup ini adalah pilihan. Hal-hal kecil seperti baju dan makanan pun kita memilih. Sekolah, cita-cita, aktivitas, kehidupan beragama, jodoh dan sikap hidup, juga pilihan Kita melakukannya dengan sadar atau tidak. Dengan pemahaman atau tidak. Secara reflek atau dipikir-pikir dulu. Kita pilih sendiri atau dipilihkan oleh orang lain untuk kita. Semua adalah PILIHAN.

Dan setiap pilihan akan membawa pada arah yang berbeda, hasil yang berbeda, serta konsekuensi berbeda pula. Ada konsekuensi dan hasil yang merupakan akibat logis dari pilihan itu dan sebelumnya sudah kita prediksikan. Ada yang merupakan akibat dan hasil yang di luar control kita, dan tak kita duga sebelumnya. Tak masalah. Karena bukan itu poinnya. Bukan HASIL dari pilihan itu yang terpenting. Namun bagaimana proses kita memilih: landasan apa yang kita gunakan sebagai dalil, pengetahuan dan pemahaman terhadap permasalahan dan kesadaran atas segala resiko dari setiap pilihan.

Maka apakah engkau akan lebih suka untuk tidak memilih? Toh, pada akhirnya, saat kau hanya menjalani suatu kehidupan secara mengalir saja atau menunggu dipilih atau dipilihkan oleh orang lain kau tetap akan harus menjalani satu pilihan. Jika demikian, lebih baik engkau memilih dan memutuskan dengan sadar, dengan segenap ilmu dan pemahaman yang telah kau miliki. Bahkan sekalipun ternyata pilihan itu salah. Setidaknya kita sudah pernah memilih.

Bahwa kemudian kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan di awal pada saat menjatuhkan pilihan, itu tidak masalah karena hidup memang demikian. Allah Tahu dan Maha Tahu, sedang pengetahuan manusia sangat terbatas. Mengambil dan menjalani setiap pilihan akan membuat kita menyadari begitu banyak keterbatasan pengetahuan, pengertian dan pemahaman kita. Jika ternyata pilihan itu salah, setidaknya engkau akan mengerti dan menjadi lebih dewasa karenanya. Engkau bisa memilih yang lain lagi. Memilih yang lebih baik lagi. Dan belajar dari pilihan sebelumnya.

Karena itu, mulai bangun keberanian untuk memilih, sekarang juga. Memilih berdasarkan pemahaman dan pengetahuan maksimal yang kita miliki. Bermusyawarah dan meminta masukan dari orang-orang yang fakih, jika bisa dilakukan. Kemudian, minta ketetapan kepada Dia Yang Maha Tahu Yang Terbaik Untuk Kita melalui shalat istikharah, sebagai bentuk pengakuan akan betapa banyak yang kita tidak tahu dan tidak mampu kontrol hal-hal di luar kita. Sesudahnya, pasrah dan tawakkal!

Apapun hasilnya, tidak menjadi masalah, karena kita sudah memilih. Hanya orang yang berani memilihlah yang layak untuk mendapat penghargaan. Seberapa pun berat sebuah pilihan, ia tetap layak diacungi jempol. Dan hanya satu kata yang pantas untuk seorang yang tak berani memilih: PECUNDANG!

 

Kontributor Oleh : Azimah Rahayu